Sidoarjo – Di tengah upaya menekan angka kasus kanker leher rahim di Indonesia, Puskesmas Wonoayu bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo menjalankan langkah inovatif melalui program pemeriksaan HPV DNA yang kini mulai menjangkau tingkat desa. Desa Pilang ditetapkan sebagai lokus pilot project program ini sejak Januari 2025, dengan durasi pelaksanaan selama sepuluh bulan.
Program tersebut menjadi tonggak penting dalam memperkuat sistem deteksi dini kanker serviks dan mengedukasi perempuan agar lebih peduli terhadap kesehatan reproduksi. Pemeriksaan HPV DNA dinilai lebih efektif dan sensitif dibanding metode konvensional, karena mampu mendeteksi virus penyebab kanker serviks sebelum gejala muncul.
Kepala Puskesmas Wonoayu, drg. Lailatul Mufida, menjelaskan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kesiapan sarana, tenaga kesehatan, dan peran aktif kader kesehatan desa.
“Program ini dimulai dari tahap persiapan, baik dari sarana prasarana, sumber daya manusia, hingga pelatihan kader kesehatan desa,” ujarnya kepada GoNews.id.
Ia memaparkan, selain melatih bidan dan dokter dalam pengambilan sampel serta tindakan thermal ablasi bagi hasil positif, pihaknya juga membekali kader Posyandu dengan kemampuan komunikasi antarpribadi (KAP) agar efektif mengajak dan mengedukasi warga. Namun, tantangan masih muncul di lapangan.
“Sebagian warga masih enggan diperiksa karena malu, takut, tidak punya waktu, atau belum mendapat izin dari suami,” kata Lailatul.
Sebagai solusi, pihak Puskesmas menggencarkan edukasi dan sosialisasi melalui pengajian, arisan, hingga pertemuan RT/RW. Tak hanya itu, kerja sama juga dijalin dengan pemerintah desa dan perusahaan tempat banyak perempuan bekerja, sehingga pengambilan sampel bisa dilakukan langsung di lokasi kerja.
Layanan pemeriksaan bahkan dibuka hingga pukul 19.00 WIB, guna memberi akses bagi perempuan pekerja. Upaya lain termasuk edukasi bagi para suami, pembuatan konten kreatif, serta siaran keliling untuk memperluas jangkauan informasi.
“Harapannya, perempuan makin sadar pentingnya deteksi dini kanker leher rahim, karena penyakit ini bisa dicegah. Malu atau takut bukan alasan untuk tidak peduli pada kesehatan,” tegas Lailatul.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menjadi agen perubahan. “Jika sudah merasakan manfaatnya, mari ajak perempuan lain melakukan pemeriksaan HPV DNA, agar bersama-sama kita bisa mencegah kanker serviks,” tambahnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, menyebut bahwa kader Posyandu kini menjadi ujung tombak layanan kesehatan masyarakat dalam kerangka Integrasi Layanan Primer (ILP).
“Posyandu saat ini tidak hanya fokus pada balita dan ibu hamil, tetapi melayani seluruh siklus kehidupan, mulai bayi hingga lansia. Karena itu, kader harus dibekali 25 kompetensi standar, termasuk kemampuan digital dan komunikasi,” jelas Lakhsmie pada Jumat (31/10/2025).
Ia menekankan, keberhasilan program HPV DNA di tingkat desa akan menjadi model pemberdayaan kader yang memperkuat sistem kesehatan nasional berbasis masyarakat. Dengan kolaborasi aktif antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat, diharapkan angka kejadian kanker serviks dapat ditekan secara signifikan.
