Tempat penuh jejak suci, itulah Baitul Maqdis. Di tanah ini, lebih dari 124.000 nabi dan rasul pernah hadir, menyampaikan risalah tauhid dan memperjuangkan kalimat la ilaha illallah. Baitul Maqdis bukan sekadar tempat, melainkan poros sejarah peradaban manusia yang menjadi saksi bisu dakwah para utusan Allah.
Sejak Nabi Adam AS—manusia pertama yang Allah turunkan ke bumi sebagai khalifah—misi kenabian tak pernah berubah: menyeru manusia untuk menyembah Allah semata. Para nabi datang silih berganti, dan sebagian besar mereka diutus di sekitar wilayah Syam, termasuk Baitul Maqdis.
Salah satu momen paling mulia terjadi saat Rasulullah SAW melakukan Isra’ Mi’raj. Beliau memimpin salat seluruh nabi dan rasul di Masjidil Aqsha sebelum naik ke Sidratul Muntaha. Satu peristiwa agung yang menegaskan kemuliaan tempat ini.
“Tidak ada satu jengkal pun di Masjidil Aqsha, kecuali pernah dipijak oleh seorang nabi atau malaikat,” kata seorang ulama tafsir klasik yang sering dirujuk dalam kajian sejarah kenabian.
Baitul Maqdis juga memiliki ikatan kuat dengan kisah wanita-wanita mulia. Di sinilah Ibunda Maryam tinggal, seorang wanita suci yang Allah jamin sebagai penghuni surga. Ibunya, Hannah, bernazar agar anak yang dikandungnya kelak menjadi penjaga masjid ini. Nazar itu pun dikabulkan.
Maryam tumbuh dalam kesucian dan ketaatan. Dari rahimnya, Allah menghadirkan seorang nabi agung: Isa AS. Sejak dalam kandungan, Maryam sudah dipersiapkan untuk menjalankan peran besar sebagai ibu dari seorang nabi dan pembela akidah tauhid.
Tidak hanya sejarahnya yang panjang, tapi spiritualitas Masjidil Aqsha memancar kuat hingga hari ini. Setiap langkah yang kita jejakkan di sana seakan menyentuh tanah yang dulu pernah disentuh oleh para kekasih Allah.
Baitul Maqdis adalah tempat di mana langit dan bumi pernah bersua dalam keagungan wahyu dan misi ilahi. Maka tak heran, cinta umat Islam terhadap tempat ini bukanlah hal biasa—melainkan cinta yang berakar pada iman dan sejarah yang agung.
