Jember – Perjalanan ke Kota Pelajar tak hanya menjadi agenda menghadiri forum nasional bagi Bupati Jember, Dr. Muhammad Fawait. Di balik padatnya rangkaian Konferensi Pendidikan Indonesia 2026, tersimpan cerita tentang semangat membangun masa depan pendidikan sekaligus nostalgia yang menghidupkan kembali jejak perjalanan hidupnya di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Konferensi yang berlangsung di Sleman, Kamis (2/7/2026), mempertemukan para pemangku kebijakan dari berbagai daerah bersama sejumlah pejabat pemerintah pusat. Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari transformasi pendidikan di era digital, pemanfaatan teknologi dalam proses belajar mengajar, hingga penguatan ekonomi kreatif sebagai bekal generasi muda menghadapi tantangan masa depan.
Bagi Gus Fawait, forum tersebut menjadi ruang belajar sekaligus bertukar pengalaman mengenai arah pembangunan pendidikan yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
“Banyak gagasan yang saya bawa pulang sebagai semangat untuk terus mendorong kemajuan pendidikan di Kabupaten Jember,” ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Berbagai ide yang diperoleh selama konferensi diharapkan mampu memperkaya kebijakan Pemerintah Kabupaten Jember, terutama dalam menciptakan sistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, memperkuat karakter peserta didik, serta melahirkan sumber daya manusia yang siap bersaing di era ekonomi kreatif.
Di sela kegiatan resmi, Gus Fawait menyempatkan diri kembali mengunjungi kampus Universitas Gadjah Mada, tempat ia menyelesaikan pendidikan magisternya. Kunjungan tersebut menghadirkan suasana emosional karena banyak kenangan yang kembali terlintas meski wajah kampus kini telah mengalami berbagai perubahan.
“Suasananya masih terasa syahdu. Meski banyak sudut yang kini telah berubah, kenangan yang tersimpan di tempat ini tetap terasa begitu dekat,” katanya.
Baginya, UGM bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan tempat yang memiliki arti mendalam dalam perjalanan hidup. Selain menjadi ruang menimba ilmu, kampus tersebut juga menjadi saksi awal kisah cintanya bersama sang istri, Ning Githa.
“Di tempat ini pula saya pertama kali mengenal Ning Githa, istri tercinta, yang hingga hari ini setia menjadi teman seperjalanan dalam setiap langkah kehidupan,” ungkapnya.
Momen nostalgia itu pun mencuri perhatian karena memperlihatkan sisi personal seorang kepala daerah yang kembali mengenang perjalanan akademik sekaligus kisah hidupnya. Kenangan tersebut menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak hanya membentuk kemampuan intelektual, tetapi juga menghadirkan pengalaman hidup yang berharga.
Melalui keikutsertaannya dalam Konferensi Pendidikan Indonesia 2026, Pemerintah Kabupaten Jember berharap berbagai gagasan yang diperoleh dapat diterjemahkan menjadi kebijakan pendidikan yang lebih inovatif, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan masa depan. Dengan demikian, kualitas pendidikan di Jember diharapkan semakin meningkat dan mampu melahirkan generasi yang unggul, adaptif, serta siap menghadapi tantangan global. (ADV).
