Dini hari di halaman Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya Malang tak pernah benar-benar sunyi. Pukul 03.30 WIB, langkah-langkah mahasiswa mulai memecah dingin pagi. Dengan jaket tebal, tas ransel, dan mata yang masih menyimpan sisa kantuk, mereka berkumpul bukan untuk kuliah biasa melainkan untuk sebuah ekspedisi akademik yang membawa nama besar FPIK UB: praktikum lapang konservasi.
Di sinilah semuanya dimulai. Bukan hanya perjalanan menuju Gili Ketapang, tetapi juga perjalanan memahami ilmu secara nyata, ciri khas pendidikan berbasis praktik yang selama ini menjadi kekuatan FPIK UB Malang.
FPIK UB: Dari Kampus ke Lapangan, Ilmu yang Dihidupkan
Sebagai salah satu fakultas unggulan di Universitas Brawijaya, FPIK dikenal tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga menekankan pengalaman lapangan. Praktikum ini menjadi bukti konkret bagaimana mahasiswa didorong untuk turun langsung, berinteraksi dengan alam, dan memahami realitas konservasi pesisir.
Kegiatan ecowisata yang digagas FPIK Universitas Brawijaya ini melibatkan total 147 mahasiswa. Mereka mengikuti praktikum lapang sebagai bagian dari integrasi tiga mata kuliah utama, yakni Ekowisata Bahari, Rehabilitasi Ekosistem Pesisir, dan Kawasan Konservasi Perairan Daerah.
Melalui pendekatan lintas mata kuliah ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman parsial, tetapi juga melihat keterkaitan antara konsep pariwisata berkelanjutan, upaya pemulihan ekosistem, hingga kebijakan pengelolaan kawasan konservasi.
Pemilihan Gili Ketapang bukan tanpa alasan. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu daerah konservasi laut pertama di Jawa Timur yang memiliki nilai ekologis sekaligus sosial yang tinggi. Selain itu, kegiatan ecowisata ini juga merupakan agenda tahunan Jurusan Ilmu Kelautan FPIK UB yang secara konsisten dijadikan sebagai media pembelajaran berbasis lapangan.
“Ini bukan sekadar praktikum, ini simulasi dunia kerja,” begitu kira-kira semangat yang terasa di antara para asisten dan peserta.
Setelah registrasi dan persiapan, rombongan bergerak menuju Pelabuhan Tanjung Tembaga. Perjalanan darat menjadi pemanasan sebelum petualangan sesungguhnya dimulai.
Menembus Laut: Identitas FPIK yang Tak Terpisahkan.
Begitu kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan, identitas FPIK UB terasa semakin kuat. Laut bukan lagi objek studi yang jauh, tetapi menjadi ruang belajar yang hidup.
Mahasiswa berdiri di dek, memandangi luasnya perairan. Angin laut berhembus kencang, seolah mengingatkan bahwa ilmu kelautan tidak bisa dipahami hanya dari buku.
Di sinilah FPIK UB Malang menunjukkan karakternya—menghubungkan mahasiswa dengan alam secara langsung.
Gili Ketapang: Laboratorium Hidup bagi Mahasiswa FPIK UB
Sesampainya di Gili Ketapang, aktivitas langsung dimulai. Briefing singkat membuka rangkaian praktikum yang telah disusun sistematis oleh tim FPIK UB.
Dhira Khurniawan Saputra, yang akrab disapa Pak Dhira selaku dosen pembimbing, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai praktikum, tetapi juga sebagai bagian dari implementasi kebijakan nasional. Salah satu latar belakangnya merujuk pada Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 64 Tahun 2020 tentang kawasan konservasi perairan, yang menekankan pentingnya pengelolaan zonasi, perlindungan ekosistem, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut.
Ia menambahkan, mahasiswa diharapkan mampu memahami zona rehabilitasi laut, melihat langsung kondisi nyata di lapangan, serta memiliki kemampuan evaluatif terhadap upaya perlindungan ekosistem yang telah berjalan.
Mahasiswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok dengan fokus berbeda:
Kajian sosial melalui wawancara masyarakat pesisir
Observasi ekosistem laut dan pesisir
Analisis kondisi lingkungan dan praktik konservasi
Pendekatan ini menunjukkan metode pembelajaran FPIK UB yang integratif—menggabungkan aspek ekologis, sosial, dan ekonomi dalam satu kesatuan.
Di lapangan, mahasiswa tidak hanya mengumpulkan data. Mereka belajar berkomunikasi dengan warga, memahami kehidupan nelayan, serta melihat langsung tantangan konservasi.
Sementara itu, Rafli Naufal Adnanda Dewin, yang akrab disapa Rafli selaku koordinator mahasiswa, menyampaikan bahwa kegiatan ini telah dipersiapkan sejak beberapa bulan sebelumnya. Persiapan tersebut meliputi perencanaan teknis hingga penentuan target capaian pembelajaran.
Menurutnya, salah satu output utama dari kegiatan ini adalah agar mahasiswa mampu memahami rancangan teknis konservasi, khususnya pada ekosistem terumbu karang. Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari praktikum sebelumnya yang berfokus pada konservasi mangrove di kawasan pesisir Surabaya, sehingga mahasiswa mendapatkan pengalaman yang lebih komprehensif dalam memahami ekosistem pesisir.
Salah satu peserta bahkan terlihat begitu serius mencatat hasil wawancara, sementara yang lain sibuk mengamati kondisi pesisir. Semua bergerak dengan satu tujuan: belajar dari realitas.
Belajar dari Masyarakat: Nilai Tambah FPIK UB
Yang membuat praktikum ini berbeda adalah interaksi langsung dengan masyarakat. FPIK UB tidak hanya mencetak mahasiswa yang paham teori, tetapi juga yang memiliki empati sosial.
Warga Gili Ketapang menjadi bagian dari proses pembelajaran. Cerita mereka tentang laut, perubahan lingkungan, dan kehidupan sehari-hari menjadi sumber ilmu yang tak tertulis di buku.
Di sinilah mahasiswa FPIK UB belajar bahwa konservasi bukan hanya soal menjaga alam, tetapi juga tentang memahami manusia yang hidup di dalamnya.
Istirahat yang Sarat Makna
Saat waktu ISHOMA tiba, suasana berubah lebih santai. Namun, diskusi tetap berlangsung. Di warung sederhana dengan latar laut, mahasiswa saling berbagi pengalaman.
Ada yang bercerita tentang wawancara yang penuh tantangan, ada yang terkesima dengan keindahan alam, dan ada pula yang mulai memahami kompleksitas konservasi.
Momen ini menjadi refleksi kecil—bahwa pembelajaran terbaik sering terjadi di luar ruang kelas.
Kembali dengan Perspektif Baru
Perjalanan pulang terasa berbeda. Kapal yang sama, laut yang sama, tetapi perspektif mahasiswa sudah berubah.
Kini mereka tidak lagi melihat laut sebagai objek, tetapi sebagai sistem kehidupan yang kompleks.
Di dalam bus menuju Malang, banyak yang tertidur kelelahan. Namun di balik itu, ada kepuasan. FPIK UB sekali lagi berhasil menghadirkan pengalaman belajar yang utuh—menggabungkan teori, praktik, dan realitas.
FPIK UB Malang: Mencetak Generasi Pesisir Masa Depan
Praktikum di Gili Ketapang ini bukan hanya kegiatan rutin. Ini adalah representasi nyata dari visi FPIK UB Malang: mencetak lulusan yang siap menghadapi tantangan dunia kelautan dan perikanan.
Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa tidak hanya belajar menjadi akademisi, tetapi juga calon praktisi, peneliti, dan penggerak konservasi.
Karena pada akhirnya, FPIK UB tidak sekadar mengajarkan ilmu—tetapi membentuk cara berpikir, cara melihat, dan cara bertindak.
