Pendidikan bukan urusan negara jika negara tak pernah menunjukkan keseriusan dalam mengelolanya. Dalam dua dekade terakhir, Indonesia telah enam kali mengganti kurikulum: dari Kurikulum Berbasis Kompetensi, KTSP, Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat, Kurikulum Merdeka, hingga kini Kurikulum Nasional. Semuanya datang silih berganti, lebih karena ganti menteri daripada ganti visi pendidikan.
Jika dihitung rata-rata, satu kurikulum hanya bertahan tak sampai empat tahun. Ini berarti, bukan pendidikan yang memimpin perubahan, melainkan kekuasaan. Setiap pejabat baru ingin meninggalkan “jejak sejarah” dalam bentuk kebijakan baru, seakan-akan pendidikan bisa dibentuk sesuai kehendak politik.
Padahal, pendidikan seharusnya tumbuh dalam kesabaran. Dalam arah yang konsisten dan jangka panjang. Bukan menjadi proyek jangka pendek yang dirombak setiap pergantian kabinet.
Anak-anak kita bukan kelinci percobaan. Mereka berhak mendapatkan sistem pendidikan yang stabil, matang, dan manusiawi. Tapi apa yang terjadi justru sebaliknya: mereka dipaksa menyesuaikan diri terus-menerus terhadap sistem yang belum sempat matang.
Guru juga dibuat bingung. Setiap kali kurikulum berganti, mereka dituntut mengikuti pelatihan baru, menyesuaikan RPP, mengganti metode ajar, sambil tetap mengejar target administrasi. Dalam suasana penuh tekanan ini, bagaimana mereka bisa benar-benar mendidik dengan hati dan nalar jernih?
Negara tidak pernah serius membangun pendidikan, kecuali untuk kepentingan politis. Itulah mengapa kita tidak bisa terus berharap pada sistem yang terus berubah arah. Maka, pesannya sederhana dan mendesak: didiklah anakmu sendiri.
Ijazah masih dibutuhkan, ambillah itu dari sekolah formal. Tapi pendidikan yang sejati harus kita bangun sendiri, dari rumah dan lingkungan terdekat. Jangan serahkan sepenuhnya masa depan anak-anak kita kepada sistem yang bahkan tak mampu menetapkan arah sendiri.
Yang bisa mengajarkan kejujuran adalah orang tua. Yang bisa menanamkan rasa tanggung jawab adalah keluarga. Yang bisa memperkuat daya tahan moral anak adalah pengalaman hidup yang dibimbing nilai-nilai luhur, bukan sekadar hafalan kurikulum yang tak ajek.
Pendidikan adalah proses batin dan akal, bukan hanya isi buku ajar. Anak-anak kita tidak butuh lebih banyak modul, mereka butuh lebih banyak waktu bersama orang tuanya yang mengerti.
Selama ini, kita terlalu percaya pada sistem. Kita serahkan anak kita ke sekolah pagi sampai sore, lalu berharap mereka tumbuh baik hanya dengan kurikulum. Padahal nilai-nilai hidup tidak datang dari sistem. Ia datang dari contoh, dari hubungan yang penuh kepercayaan dan kasih sayang.
Tak semua guru mampu mendidik dengan jiwa. Tak semua sekolah memiliki arah moral. Maka, keluarga harus kembali menjadi fondasi pendidikan. Ini bukan romantisme masa lalu. Ini adalah kesadaran yang lahir dari kegagalan negara.
Jika kita menunggu sistem sempurna, maka kita sedang meninggalkan anak-anak kita dalam ketidaksiapan. Jika kita percaya bahwa negara tahu lebih baik, maka kita sedang menutup mata atas kenyataan bahwa sistem terus berubah, dan hasilnya tak pernah konsisten.
Anak-anak kita butuh keteladanan. Mereka butuh pendampingan. Mereka butuh percakapan yang jujur. Semua itu tidak bisa dibeli dengan anggaran negara.
Maka, bangunlah sistem pendidikan sendiri di rumah. Arahkan anak-anak kita dengan visi yang berakar pada nilai-nilai. Ajarkan mereka berpikir, merasa, dan bertindak dengan tanggung jawab.
Karena yang mereka hadapi ke depan bukan sekadar ujian sekolah. Tapi ujian hidup. Dan untuk itu, mereka butuh lebih dari sekadar ijazah. Ke sekolah ambil ijazah saja. Pastikan ijazahnya asli dan punya teman. Sehingga kalau nanti ditakdirkan menjadi pengurus negara ini, ijazah anak kita asli dan ada teman-teman sekelas yang bisa jadi saksi.
