Jombang – Tahapan Pemilu 2024 sudah memasuki pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih. Sejak dilantik 12 Februari lalu, Petugas pemutakhiran data pemilih (Pantarlih) terus bekerja keras melaksanakan tugasnya.Ada cerita heroik dari pantarlih di Kecamatan Wonosalam dan Bareng.
Kondisi bukit Wonosalam yang terjal tak menyurutkan semangat Veni (19) Pantarlih TPS 1 Dusun Sumber Mulyo Desa Pulosari Kecamatan Bareng untuk tetap mencoklit. Menurutnya, medan yang licin menjadi tantangan tersendiri. Akan tetapi, berhasil ia atasi.
“Alhamdulillah, Tetap yakin. Kadang juga terpeleset. Tapi enggak apa-apa, tetap semangat,” ungkap Veni, saat ditemui di lokasi, Sabtu (18/2/2023).
Ia akui dengan keterbatasan lokasi, waktu pencoklitan menjadi lebih lama. Namun, ia tak pernah mengeluhkan hal itu saat melakukan pencoklitan.
“Tetap semangat, kan memang kondisinya seperti ini harus dijalani,” ucap Veni.
Senada dengan Veni, Novi (27) Pantarlih TPS 3 Dusun/Desa Pulosari Kecamatan Bareng pun mengalami hal yang sama. Medan licin dan terjal tak mengahalangi kakinya melangkah. Dirinya harus menempuh jarak sekira 1 kilometer dengan berjalan kaki menuju lokasi.
Kadang ia harus menemui jalan becek dan tidak dapat dilalui motor. Hal itu tak menyurutkan niatnya mencoklit pemilih satu persatu.
“Ya, tetap kami datangi dan mencoklit satu persatu,”terangnya.
Novi menambabkan, terkadang pemilihan susah ditemui karena kerja. Baru sore hari atau ahir pekan bisa ditemui.
“Kadang pemilih kerja ke Surabaya, kerja di ladang. Jadi bisa ditemui sore hari seperti sekarang,” terang Novi.

Ditempat lain, Supandi (38) Pantarlih TPS 11 Dusun Sidolegi Desa Sumberjo kecamatan Wonosalam Kabupaten jombang mengungkapkan harus menerobos hujan.
“Kendala yang kami temui adalah cuaca tak menentu, kadang hujan deras kalau sore,” kata Supandi ketika ditemui di rumahnya saat mau berangkat mencoklit.
Penjual Durian Wonosalam ini mengaku harus pintar memilih waktu untuk mencoklit. Ia harus menutup lapak durian demi melaksanakan tugas sebagai pantarlih. Setidaknya ada 180 KK yang harus ia datangi.
“Harus pintar atur waktu, kalau pagi saya jualan durian. Pemilih juga ada dirumah sore hari,” terangnya.
Selain cuaca, rumah pemilih juga ada yang tinggal berjauhan. “Karena di wonosalam ada yang tinggal berjauhan, jadi harus mendaki,” tandasnya.
