Akhir tahun klasik selalu identik dengan undangan tukar kado, Secret Santa di kantor, kumpul keluarga, dan momen hangat bareng sahabat.
Gaji baru cair, bonus akhir tahun pun sudah masuk. Notifikasi diskon datang dari segala penjuru, mulai dari marketplace, aplikasi e-wallet, hingga pop-up notifikasi yang muncul tiap buka HP. Keranjang belanja digital pun penuh, mulai dari baju baru, skincare, sepatu, sampai tiket konser.
Liburan Desember akhirnya tiba! Saat semua PR disimpan, alarm sekolah dimatikan, dan waktu luang terasa tak terbatas. Awalnya menyenangkan: rebahan, binge-watch drama, scroll media sosial sampai lupa waktu. Tapi setelah beberapa hari, rasa bosan mulai muncul.
Menjelang akhir tahun, banyak dari kita disibukkan oleh laporan, target tahunan, dan rencana liburan. Tapi satu hal penting sering terlewat: mengevaluasi perjalanan karier.
Kilau malam saat tahun baru biasanya dihiasi terompet dan kembang api yang ramai di kota. Namun, di berbagai daerah Indonesia, momen pergantian tahun dirayakan dengan cara unik yang mencerminkan kekayaan budaya lokal.
Teduh nyaman menjadi pemandangan khas di banyak kampung dan kompleks perumahan. Pohon-pohon rindang di sepanjang jalan memberi kesejukan alami, tempat anak-anak bermain, ibu-ibu duduk sore hari, dan burung-burung bersarang.
Sore mendung di perumahan subsidi seringkali membuat suasana rumah berubah. Langit gelap sejak siang, angin lembap menyelinap lewat celah atap, dan para ibu rumah tangga refleks menyalakan lampu ruang tamu, dapur, bahkan kamar. Di luar rumah, suara kipas berdengung dari banyak jendela.
Sirene menggema di antara derasnya hujan. Di pinggir kota, tenda pengungsian berdiri dalam gelap, hanya diterangi lampu darurat. Aroma bubur dari dapur umum menguar. Di sana, relawan bernama Rafi, dengan jaket basah dan mata sembab, baru saja kembali dari evakuasi malam itu.
Cahaya lampu pagi di koridor kampus belum sempurna menyala. Lantai masih basah disapu pel, kursi-kursi kelas belum disentuh. Sebagian besar mahasiswa masih di rumah, dosen mungkin baru membuka laptopnya, tapi di balik lorong dan gerbang, dua sosok sudah bekerja: satpam dan petugas kebersihan kampus.
Ruang bermain kini jadi hal langka di tengah padatnya kota. Banyak anak tumbuh tanpa taman, tanpa tanah lapang, tanpa tempat untuk berlari bebas dan berimajinasi.