Tidak semua orang punya libur panjang, dana ekstra, atau lingkar sosial yang padat undangan. Rasa sepi yang muncul bukan kesalahan. Ia datang karena kita manusia—makhluk yang butuh terhubung, namun kadang lupa menyambungkan diri ke dalam.
Penulis: Richard
Euforia diskon akhir tahun menjadi pemandangan rutin di linimasa media sosial. Mulai dari notifikasi “flash sale”, unggahan belanja dari influencer, hingga obrolan grup keluarga tentang promo besar-besaran.
Berbuat baik tidak selalu identik dengan kegiatan besar. Bahkan, aksi kecil yang dilakukan dengan niat tulus bisa jadi sangat berarti. Misalnya, menyumbangkan makanan ke shelter atau rumah singgah di sekitarmu.
Akhir tahun tiba dan seperti biasa, media sosial dipenuhi warna nostalgia. Dari Instagram hingga TikTok, timeline kita mendadak berubah jadi album kenangan digital. Video kompilasi, kolase foto, potongan vlog, hingga story berseri, semuanya membanjiri linimasa dalam nuansa syukur dan refleksi.
Di sinilah jurnal syukur hadir sebagai bentuk sederhana namun mendalam dari mindfulness. Bukan sekadar mencatat apa yang terjadi, tetapi melatih diri untuk hadir utuh dalam setiap momen. Menulis rasa syukur membantu kita lebih sadar, lebih jernih, dan lebih stabil secara emosional.
Seolah terlilit ironinya sendiri, warga di sejumlah wilayah Aceh kini harus mengangkat alis, bukan buku saat harga cabai, telur, dan BBM melesat tajam usai bencana.
Akhir tahun di rumah biasanya menjadi waktu yang pas untuk beristirahat dan merenung. Namun justru saat itulah, banyak dari kita tanpa sadar tenggelam dalam kebiasaan scrolling yang berlebihan.
Libur panjang akhir tahun selalu membawa suasana yang berbeda. Anak-anak sedang libur sekolah, sebagian orang tua mengambil cuti, dan rumah yang biasanya sepi kini terdengar lebih ramai. Suara tawa, langkah kecil berlari, dan aroma masakan dari dapur menciptakan suasana hangat yang tak tergantikan.
Libur Desember memang selalu membawa semangat jalan-jalan. Banyak orang mulai merancang itinerary ke luar kota, bahkan ke luar negeri, demi melepas penat setelah setahun bekerja. Tapi faktanya, nggak semua orang bisa atau mau ikut gegap gempita itu.
Suasana Nataru di Indonesia selalu ramai dan meriah. Jalanan padat, mal penuh lampu, promo liburan muncul di mana-mana. Grup keluarga dan teman mulai tanya, “Liburan ke mana tahun ini?” Tapi seringnya kita galau.