Tasikmalaya – Sorak semangat dan degup penuh harap terdengar di halaman SDN 1 Cisayong, Kamis (17/4/2025), saat ratusan siswa dari 36 SD negeri dan 3 swasta di Kecamatan Cisayong berlaga dalam Pentas Pendidikan Agama Islam (PAI). Kegiatan ini menjadi salah satu ajang talenta yang dirancang untuk menumbuhkan potensi keagamaan dan kreativitas anak secara menyeluruh.
Mengusung tema “Meningkatkan Kreativitas Anak dalam Bidang Agama”, Pentas PAI mempertandingkan delapan cabang lomba: Tahfidz, pidato, MTQ, Cerdas Cermat Islam, azan, kaligrafi, serta qosidah. Semua cabang dibagi kategori putra dan putri, kecuali qosidah yang digelar berkelompok.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kelompok Kerja Guru (KKG) PAI Kecamatan Cisayong, sebagai pelaksana resmi dari lomba bidang keagamaan. Penanggung jawab bidang kesiswaan, Dimas Rizki Darmawan, menjelaskan bahwa anggaran untuk kegiatan ini telah tersedia dalam juknis BOS, khususnya pada bagian pembinaan kesiswaan.
“Anggaran ini sudah masuk juknis BOS, dalam bidang kesiswaan dan mata lomba. Jadi kebutuhan siswa, seperti biaya keberangkatan, sewa mobil, dan lainnya, itu disiapkan oleh sekolah masing-masing,” terang Dimas.
Ia juga menegaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan sepenuhnya menjadi tanggung jawab KKG berdasarkan bidang masing-masing. “Jadi bukan dari PGRI. PGRI itu organisasi besar semua guru. Untuk kegiatan ini, pelaksananya KKG PAI. Kegiatan bisa juga didukung sponsor, misalnya tahun ini ada bantuan dari BJB,” tambahnya.

Pentas PAI masuk dalam jajaran ajang talenta nasional, seperti O2SN untuk olahraga, OSN untuk akademik, dan FLS2N untuk seni. Untuk bidang keagamaan, ajang ini dikenal sebagai SMPAI.
Salah satu peserta, Rasya Putri Ruskanda, vokalis qosidah dari SDN 1 Cisayong, mengatakan, “Deg-degan banget, tangan gemetar, tapi seru. Kami latihan satu bulan biar tampil maksimal.”
Sementara itu, Muhammad Al Fatih Maliki dari SDIT Matlaul Falah menyebut dirinya “nervous banget” saat tampil dalam lomba azan. Peserta LCC dari SDN 1 Cisayong, Aisyie Maryamah Mundzir, mengaku, “Pertanyaannya susah-susah, tapi Alhamdulillah banyak yang bisa aku jawab.”

Dimas berharap kegiatan ini menjadi pengalaman berharga sekaligus ruang pengembangan diri bagi anak-anak. “Mudah-mudahan ajang ini bisa menggali potensi sesuai karakteristik masing-masing siswa. Karena dua puluh tahun ke depan, mereka inilah calon pemimpin Indonesia. Semoga Tujuan Pendidikan Emas 2045 tercapai,” ucapnya.
Dengan pelaksanaan sederhana namun bermakna, Pentas PAI Cisayong menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pendidikan yang menyeluruh dan berkarakter.
