Sangatta – Suara lantang untuk memperkuat peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam kemitraan dengan perusahaan kelapa sawit kembali digaungkan. Kali ini, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Timur, Aidil Fitri, menyuarakan harapannya agar perusahaan sawit yang beroperasi di Kecamatan Telen lebih memberdayakan BUMDes di sekitar wilayah operasional mereka.
Dalam pernyataannya di ruang kerjanya, Aidil Fitri menekankan bahwa BUMDes memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, terutama melalui pengelolaan limbah sawit seperti bungkil inti sawit (BIS). “Bungkil sawit hanya diberikan kepada individu tertentu,” ungkap politisi PKS ini, Kamis (22/8/2024) lalu.
Ia menyoroti bahwa banyak perusahaan sawit masih kurang melibatkan masyarakat setempat dalam pengelolaan limbah, yang sebenarnya bisa menjadi sumber pendapatan tambahan.
Pria kelahiran Marah Haloq, 11 Oktober 1977, ini juga menekankan pentingnya transparansi dan inklusi dalam distribusi bungkil sawit. Bungkil ini memiliki nilai ekonomi yang signifikan karena kandungan protein kasarnya yang tinggi, sekitar 14–16%, menjadikannya bahan pakan ternak yang berharga.
“BUMDes mewakili masyarakat. Salah satu perusahaan nantinya yang sudah benar kemitraannya dengan BUMDes patut dijadikan contoh,” tambah suami Yuyun ini.
Kutai Timur, dengan produksi kelapa sawit tertinggi di Kalimantan Timur, menghasilkan sekitar 7.942.051 ton sawit per tahun dari lahan seluas 459.543 hektar. Dengan rata-rata produksi mencapai 23,102 ton per hektar, potensi besar ini seharusnya bisa dimanfaatkan lebih optimal untuk kesejahteraan masyarakat sekitar, terutama melalui pemberdayaan BUMDes. Sayangnya, menurut Aidil Fitri, potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh perusahaan sawit yang ada.
Aidil mengkritisi praktik beberapa perusahaan yang hanya memberikan bungkil sawit kepada individu tertentu, tanpa melibatkan BUMDes. Padahal, dengan melibatkan BUMDes, perusahaan tidak hanya membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga menciptakan sinergi yang menguntungkan bagi semua pihak. “Bungkil sawit bisa diolah menjadi pakan ternak atau produk bernilai tambah lainnya. Selain itu bungkil sawit menjadi komoditi eksport di Kaltim,” jelasnya, menyoroti peluang ekonomi yang bisa digarap lebih jauh.
Ia berharap perusahaan sawit di Kecamatan Telen dan wilayah lain di Kutai Timur dapat lebih terbuka untuk bekerja sama dengan BUMDes dalam mengelola bungkil sawit dan limbah lainnya. Kemitraan semacam ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas perusahaan sekaligus membawa manfaat langsung bagi masyarakat lokal. “Kemitraan yang solid adalah kunci untuk meningkatkan kesejahteraan lokal,” tegas Aidil Fitri.
