Kupang – Duka belum berakhir bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa bumi dahsyat mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026).
Bencana berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut tidak hanya merusak bangunan dan mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga merenggut banyak nyawa. Hingga Sabtu (29/8/2026), jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 111 orang, sementara ribuan gempa susulan masih terus terjadi dan menambah kekhawatiran masyarakat di wilayah terdampak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa jumlah korban jiwa akibat gempa bumi di NTT telah mencapai 111 orang berdasarkan pembaruan data pada Sabtu (29/8/2026). Gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 05.58 WITA di wilayah Kabupaten Nagekeo, Flores.
Guncangan kuat tersebut berdampak terhadap sejumlah kabupaten, termasuk Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Ngada, Ende, Nagekeo, dan Manggarai Barat. Proses penanganan dilakukan melalui koordinasi pemerintah, petugas kebencanaan, tenaga kesehatan, dan berbagai unsur kemanusiaan.
Bencana ini menjadi salah satu peristiwa gempa bumi yang menimbulkan dampak kemanusiaan besar di Indonesia sepanjang Agustus 2026. Selain korban meninggal dunia, banyak warga mengalami luka-luka dan terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka demi mencari lokasi yang lebih aman.
Berdasarkan laporan BNPB, aktivitas gempa susulan setelah guncangan utama terus berlangsung. Hingga Sabtu (29/8/2026), tercatat sebanyak 8.794 kali gempa susulan di wilayah terdampak. Tingginya frekuensi guncangan tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemulihan karena masyarakat harus tetap memperhatikan keselamatan di tengah kondisi bangunan yang berpotensi mengalami kerusakan.
Sebelumnya, BNPB mencatat peningkatan jumlah korban meninggal dunia dari 100 orang pada Senin (24/8/2026) menjadi 103 orang pada Selasa (25/8/2026). Penambahan korban tersebut menunjukkan bahwa proses pendataan dan penanganan bencana masih terus berlangsung setelah gempa utama terjadi.
“Ada ketambahan tiga jiwa meninggal menjadi 103 untuk hari ini catatan kami,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers pada Selasa (25/8/2026).
Data tersebut kemudian kembali diperbarui seiring masuknya laporan dari berbagai daerah terdampak. Bertambahnya jumlah korban menjadi 111 orang pada Sabtu (29/8/2026) memperlihatkan besarnya dampak bencana yang harus ditangani pemerintah bersama seluruh unsur terkait.
Selain menimbulkan korban jiwa, gempa bumi tersebut memberikan tekanan terhadap pelayanan kesehatan. Sejumlah korban membutuhkan penanganan medis akibat luka yang dialami, sementara masyarakat yang berada di pengungsian memerlukan layanan kesehatan untuk mencegah munculnya penyakit selama masa tanggap darurat.
Pada Selasa (25/8/2026), BNPB mencatat sedikitnya 1.666 orang mengalami luka-luka. Kabupaten Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah dengan jumlah korban luka terbanyak, yakni 239 orang mengalami luka berat dan 404 orang mengalami luka ringan. Angka tersebut merupakan data pada tanggal pelaporan dan dapat berubah mengikuti perkembangan pendataan.
Penanganan pengungsi juga menjadi perhatian penting. Warga yang kehilangan tempat tinggal atau khawatir terhadap kemungkinan gempa susulan membutuhkan tempat berlindung, makanan, air bersih, layanan kesehatan, serta perlengkapan kebutuhan sehari-hari.
Bantuan kemanusiaan terus disalurkan untuk meringankan beban masyarakat terdampak. Palang Merah Indonesia (PMI), misalnya, mengirimkan bantuan logistik sebanyak 258 ton yang mencakup pakaian, perlengkapan kebersihan, kebutuhan ibadah, hunian darurat, penerangan, dan perlengkapan rumah tangga. Bantuan tersebut juga ditujukan untuk mendukung kegiatan relawan yang bekerja di lapangan.
Perhatian pemerintah pusat terhadap bencana Flores turut ditunjukkan melalui kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke NTT pada Rabu (26/8/2026). Presiden tiba di Bandar Udara Internasional Komodo, Labuan Bajo, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Nagekeo untuk meninjau kondisi masyarakat terdampak gempa.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan penanganan korban dan dukungan pemerintah dapat berjalan sesuai kebutuhan masyarakat. Selain bantuan darurat, pemulihan fasilitas umum, tempat tinggal, dan layanan dasar menjadi pekerjaan penting setelah kondisi bencana mulai terkendali.
Besarnya jumlah gempa susulan juga menjadi pengingat bahwa masyarakat di kawasan rawan gempa perlu meningkatkan kesiapsiagaan. Warga diimbau untuk memperhatikan informasi resmi dari lembaga terkait serta menghindari bangunan yang mengalami kerusakan hingga dinyatakan aman.
Di tengah duka yang menyelimuti Flores, solidaritas masyarakat dan dukungan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak bencana. Kehadiran relawan, tenaga medis, petugas penyelamat, serta bantuan kemanusiaan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan mendesak para korban.
Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026) meninggalkan tantangan besar bagi masyarakat dan pemerintah. Dengan 111 korban meninggal dunia serta ribuan gempa susulan yang tercatat hingga Sabtu (29/8/2026), perhatian kini tertuju pada keselamatan warga, kelancaran distribusi bantuan, dan pemulihan kehidupan masyarakat Flores agar dapat kembali beraktivitas dengan aman.
