Mojokerto – Meja makan tidak hanya menjadi tempat anak-anak menikmati makanan bergizi. Melalui penerapan konsep prasmanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), anak-anak juga dapat dilatih untuk berbagi, disiplin, jujur, tertib, serta belajar mengambil makanan sesuai kebutuhan.
Konsep tersebut mulai diterapkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Garuda Trowulan, Mojokerto, yang dikelola Yayasan Segoro Agung. SPPG tersebut menjadi pilot project penerapan MBG dengan sistem prasmanan bagi penerima manfaat, khususnya anak-anak sekolah.
Pendiri sekaligus Pembina Pondok Pesantren Segoro Agung, KH Bimo Agus Sunarno, mengatakan sistem prasmanan memberikan nilai pendidikan yang lebih luas dibanding sekadar penyajian makanan.
Menurutnya, anak-anak dapat belajar mengantre, mengambil makanan dengan tertib, memperhatikan kebutuhan teman, serta bertanggung jawab terhadap makanan yang telah mereka ambil.
“Dari meja makan anak-anak bisa kita latih untuk berbagi, disiplin dan jujur. Mereka belajar mengantre, mengambil makanan sesuai kebutuhannya, tidak berlebihan, serta menghargai hak teman-temannya,” ujar KH Bimo Agus Sunarno.
Ia menilai pembentukan karakter dapat dilakukan melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika anak berada di lingkungan sekolah.
Melalui sistem prasmanan, kata dia, anak juga dapat belajar mengenai tanggung jawab terhadap makanan. Anak-anak didorong mengambil porsi secukupnya agar makanan yang telah disediakan tidak terbuang.
“Anak-anak kita biasakan mengambil secukupnya. Kalau masih kurang bisa mengambil lagi sesuai ketentuan. Dari situ ada pendidikan tentang tanggung jawab, tidak mubazir dan menghargai makanan,” katanya.
Di sisi lain, penerapan konsep prasmanan tetap menempatkan pemenuhan gizi sebagai tujuan utama Program MBG.
KH Bimo mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan kebutuhan gizi dan nutrisi sejak usia dini.
“Upaya ini adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan gizi dan nutrisi sejak dini,” kata KH Bimo.
Menurutnya, persoalan gizi harus mendapatkan perhatian serius karena berkaitan langsung dengan tumbuh kembang sekaligus masa depan anak-anak Indonesia.
“Kalau kebutuhan gizi anak terpenuhi dengan baik sejak dini, kita sedang menyiapkan fondasi bagi generasi yang lebih sehat, lebih cerdas dan lebih kuat. Inilah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa,” ujarnya.
Penerapan sistem prasmanan di SPPG Garuda Trowulan diharapkan menjadi salah satu model penyajian MBG yang tidak hanya tertata, tetapi juga memberikan pengalaman pendidikan kepada penerima manfaat.
Anak-anak dapat menikmati makanan dengan mekanisme yang teratur sekaligus mendapatkan pembelajaran mengenai kedisiplinan, kemandirian dan kepedulian terhadap sesama.
Menurut KH Bimo, penyelenggaraan MBG juga harus memastikan makanan yang diberikan tidak sekadar mengenyangkan, tetapi memiliki komposisi nutrisi yang mendukung pertumbuhan anak.
“MBG bukan semata-mata bagaimana anak-anak mendapatkan makanan. Yang paling penting adalah bagaimana makanan itu benar-benar memberikan nutrisi yang dibutuhkan untuk mendukung kesehatan, pertumbuhan dan kemampuan mereka dalam belajar,” katanya.
Salah satu sasaran Program MBG adalah membantu mengatasi persoalan kekurangan gizi dan stunting pada anak. Asupan makanan dengan nutrisi yang memadai diharapkan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Selain berdampak terhadap kesehatan, pemenuhan gizi juga berkaitan erat dengan kualitas pendidikan. Anak-anak yang mendapatkan asupan makanan cukup diharapkan memiliki kondisi fisik yang lebih baik sehingga mampu mengikuti pembelajaran secara optimal.
“Anak yang sehat tentu akan lebih siap mengikuti pembelajaran. Konsentrasinya lebih baik dan mereka juga memiliki energi yang cukup untuk belajar dan beraktivitas di sekolah,” ungkap KH Bimo.
Ia menyebut Program MBG memiliki posisi strategis dalam mempersiapkan Generasi Emas Indonesia 2045. Kecukupan gizi sejak usia sekolah menjadi salah satu bagian penting untuk membentuk generasi yang sehat, produktif dan berdaya saing.
Namun, menurut dia, generasi unggul tidak cukup hanya dibangun melalui kesehatan fisik. Karakter, kedisiplinan, kejujuran, kepedulian dan tanggung jawab juga harus ditanamkan sejak dini.
“Kita ingin Generasi Emas 2045 bukan hanya menjadi slogan. Generasi unggul itu harus sehat, cerdas sekaligus memiliki karakter yang baik. Kebiasaan sederhana seperti tertib saat makan, berbagi dan tidak mengambil berlebihan juga menjadi bagian dari pendidikan mereka,” tegasnya.
Di sisi lain, pelaksanaan MBG juga membuka ruang untuk menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
Pemenuhan kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar dapat melibatkan petani, peternak, nelayan hingga pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal dalam rantai pasok SPPG.
Menurut KH Bimo, keterlibatan pelaku ekonomi lokal menjadi nilai tambah karena manfaat Program MBG dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
“Harapannya bahan pangan yang digunakan juga sebanyak mungkin berasal dari masyarakat sekitar. Petani, peternak, nelayan maupun UMKM bisa dilibatkan sehingga MBG tidak hanya memberi manfaat kepada anak-anak, tetapi juga ikut menggerakkan ekonomi lokal,” jelasnya.
Pemanfaatan hasil pertanian, peternakan dan komoditas pangan lokal sekaligus dinilai mampu memberikan kontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan di daerah.
“Kita memiliki banyak potensi pangan lokal. Kalau potensi tersebut bisa masuk ke dalam rantai pasok MBG, maka program ini sekaligus dapat memperkuat ketahanan pangan dan memberikan pasar bagi hasil produksi masyarakat,” tutur KH Bimo.
Bagi Yayasan Segoro Agung, kehadiran SPPG Garuda Trowulan merupakan bagian dari dukungan terhadap peningkatan kualitas generasi mendatang melalui pemenuhan kebutuhan gizi sekaligus pembentukan kebiasaan positif sejak dini.
Melalui penerapan konsep prasmanan sebagai pilot project MBG, SPPG Garuda Trowulan diharapkan dapat menjadi contoh pelayanan makanan bergizi yang efektif, tertata dan memiliki nilai edukasi bagi anak.
“Yang terpenting adalah bagaimana program ini dilaksanakan dengan baik, kualitas makanannya terjaga dan manfaatnya benar-benar dirasakan anak-anak. Bukan hanya badannya yang sehat, tetapi kebiasaan baik dan karakternya juga kita bangun. Kalau itu bisa kita jaga bersama, insyaallah dampaknya akan sangat besar bagi masa depan mereka,” pungkas KH Bimo Agus Sunarno.
