Kukar – “Persatuan tidak cukup hanya diucapkan.” Pesan mengenai pentingnya menjaga kebersamaan menjadi salah satu benang merah dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang digelar anggota DPR RI sekaligus MPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Timur, KH Aus Hidayat Nur, di Grand Elty Singgasana, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Senin (28/9/2026). Kegiatan tersebut mempertemukan beragam unsur masyarakat untuk membahas nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sekitar 150 peserta menghadiri kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai kelompok, antara lain tokoh agama, tokoh pemuda, organisasi kemasyarakatan, pelajar, mahasiswa, hingga komunitas lokal. Pertemuan lintas kelompok itu menjadi ruang dialog mengenai cara menjaga kehidupan masyarakat yang beragam agar tetap rukun sekaligus memahami nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. MPR RI mencatat KH Aus Hidayat Nur sebagai anggota MPR RI masa jabatan 2024–2029 dari Daerah Pemilihan Kalimantan Timur dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Dalam pemaparannya, Aus membahas empat unsur yang selama ini disosialisasikan MPR RI, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika. Dokumen resmi MPR juga menempatkan pembudayaan nilai Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai bagian dari upaya memperkuat kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Empat Pilar ini adalah pondasi bernegara. Yang terpenting bukan hanya dihafal, tapi diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari situlah kekuatan kita menjaga keutuhan NKRI,” ujar politisi PKS tersebut.
Pernyataan itu diarahkan pada pentingnya menerjemahkan nilai kebangsaan ke dalam perilaku masyarakat, bukan sekadar menjadikannya materi yang diingat. Dalam forum tersebut, pembahasan menyentuh kehidupan sosial yang dekat dengan masyarakat, termasuk menghormati perbedaan, menjaga hubungan antarwarga, serta menghindari tindakan yang dapat memperuncing perbedaan di tengah lingkungan yang majemuk.
Aus juga menyinggung kondisi masyarakat Kutai Kartanegara yang terdiri atas beragam latar belakang suku dan budaya. Menurut dia, keberagaman tersebut perlu terus dikelola melalui sikap saling menghormati. Ia mengingatkan peserta agar tidak mudah terbawa informasi atau provokasi dari pihak-pihak yang dapat memicu perpecahan di tengah masyarakat.
“Kemerdekaan ini diperjuangkan oleh semua golongan, termasuk para ulama dan tokoh bangsa. Tugas kita hari ini adalah merawat warisan tersebut dengan saling menghormati dan peduli antar sesama,” tambahnya.
Dalam konteks materi sosialisasi, MPR menjelaskan bahwa istilah Empat Pilar merujuk pada Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. MPR juga menegaskan bahwa penyebutan tersebut tidak berarti keempatnya memiliki kedudukan yang sama, karena Pancasila tetap berkedudukan sebagai dasar dan ideologi negara. Penjelasan itu menjadi konteks penting agar sosialisasi nilai kebangsaan tidak hanya berhenti pada penyebutan empat unsur, tetapi juga memahami posisi masing-masing dalam sistem kehidupan bernegara.
Kegiatan di Tenggarong berlangsung secara dialogis. Seusai penyampaian materi, peserta mendapat kesempatan mengajukan pertanyaan dan menyampaikan pandangan dalam sesi diskusi. Kehadiran peserta dari kalangan agama, pemuda, organisasi masyarakat, pelajar, mahasiswa, serta komunitas membuat pembahasan berlangsung dengan perspektif yang beragam.
Forum tanya jawab tersebut sekaligus membuka ruang bagi peserta untuk menghubungkan materi kebangsaan dengan persoalan sosial yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pesan mengenai kerukunan, penghormatan terhadap perbedaan, serta kepedulian antarsesama menjadi sejumlah pokok yang disampaikan sepanjang kegiatan.
Sosialisasi kemudian ditutup dengan foto bersama antara KH Aus Hidayat Nur dan para peserta. Melalui kegiatan tersebut, pembahasan mengenai Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, serta Bhinneka Tunggal Ika diarahkan pada penerapan nilai-nilai kebangsaan dalam hubungan sosial masyarakat, terutama di tengah keberagaman warga Kutai Kartanegara.
