Kalau akhir-akhir ini kamu merasa butuh liburan yang bukan cuma soal foto-foto, mungkin sudah waktunya mengarahkan kendaraan ke Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar). Ada satu agenda besar yang sayang banget kalau dilewatkan yakni Festival Budaya Erau Adat Kutai 2026.
Festival budaya kebanggaan masyarakat Kutai Kartanegara ini dijadwalkan berlangsung pada 20–27 September 2026 di Tenggarong. Selama sepekan, kawasan ibu kota Kukar bakal dipenuhi rangkaian tradisi adat, pertunjukan budaya, hiburan, bazar, UMKM, hingga berbagai kegiatan yang bisa dinikmati masyarakat.
Namun, Erau tahun ini terasa sedikit berbeda. Bukan hanya karena acaranya kembali hadir dengan rangkaian yang panjang. Di balik kemeriahannya, ada cerita tentang masyarakat yang tetap memilih merawat tradisi meski Kalimantan Timur belakangan menghadapi cuaca panas, kekeringan, hingga persoalan karhutla dan kabut asap.
Bahkan, persiapan menuju Erau sempat ikut terdampak kondisi tersebut. Latihan tari kolosal harus menyesuaikan waktu. Lapangan latihan disiram agar tidak terlalu berdebu. Masker disiapkan untuk para penari anak-anak, sementara tim medis juga dipersiapkan untuk mengantisipasi kondisi kesehatan selama kegiatan.
Jadi, kalau selama ini Erau hanya terlihat sebagai festival yang meriah, tahun ini ada cerita lain di baliknya. Ada semangat untuk tetap menjaga budaya ketika keadaan sedang tidak ideal. Dan mungkin, itulah alasan kenapa Erau Adat Kutai 2026 terasa lebih spesial.
Bukan Sekadar Festival, Erau Adalah Tradisi yang Sudah Bertahan Berabad-abad
Sebelum membahas jadwalnya, ada baiknya mengenal sedikit cerita di balik Erau. Nama Erau berasal dari kata “eroh” dalam bahasa Kutai yang berarti ramai, riuh, atau penuh sukacita. Maknanya memang cocok dengan suasana festival ini karena sejak awal Erau merupakan momentum berkumpulnya masyarakat.
Tradisi tersebut sudah ada sejak masa Kerajaan Kutai Kartanegara. Dalam sejarah yang berkembang di masyarakat, Erau pertama kali dilaksanakan sekitar abad ke-13. Saat itu, upacara berkaitan dengan tijak tanah Aji Batara Agung Dewa Sakti, yang kemudian dikenal sebagai raja pertama Kutai Kartanegara. Konon, ketika upacara berlangsung, Aji Batara Agung Dewa Sakti masih berusia sekitar lima tahun.
Setelah dewasa dan menjadi raja, tradisi Erau terus dijalankan pada momentum penting kerajaan, termasuk ketika terjadi pergantian sultan. Pada masa itu, Erau bukan sekadar pertunjukan budaya seperti yang dikenal masyarakat sekarang.
Masyarakat dari berbagai wilayah datang membawa hasil bumi, ternak, buah-buahan, serta berbagai persembahan untuk dinikmati bersama. Artinya, Erau sejak awal sudah menjadi ruang pertemuan antara penguasa dan rakyat.
Ada hubungan sosial yang kuat di dalamnya. Namun, perjalanan Erau tidak selalu mulus. Pada pertengahan 1960-an, tradisi ini sempat berhenti setelah status Kesultanan Kutai berubah menjadi kabupaten.
Kemudian pada 1971, Erau kembali dihidupkan melalui inisiatif pemerintah daerah bersama pihak Kesultanan Kutai.
Sejak saat itu, Erau berkembang menjadi agenda budaya tahunan di Tenggarong. Perkembangannya semakin besar ketika pada 2013 Erau hadir sebagai Erau International Folk Art Festival. Sejumlah delegasi seni dari berbagai daerah, bahkan luar negeri, turut hadir untuk memeriahkan kegiatan tersebut.
Meski kemasannya semakin modern dan internasional, inti prosesi adat Kesultanan Kutai tetap dipertahankan. Di sinilah menariknya Erau. Festival ini bisa menerima perkembangan zaman tanpa harus kehilangan akar tradisinya.
Secara filosofi, terdapat istilah “dieraukan”, “mengeraukan”, dan “erau”. Tokoh atau raja menjadi pihak yang “dieraukan”, kerabat kesultanan menjadi pihak yang “mengeraukan”, sementara masyarakat luas menjadi bagian dari “erau”, yaitu suasana suka cita bersama.
Jadi, Erau sebenarnya bukan pertunjukan yang hanya menempatkan satu tokoh sebagai pusat perhatian. Semua orang punya tempat. Semua ikut merasakan kegembiraan.
Tema “Raja Menjamu Rakyatnya” yang diangkat pada Erau Adat Kutai 2026 juga terasa relevan dengan semangat tersebut. Festival ini menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, masyarakat, dan kebudayaan yang sudah diwariskan lintas generasi.
Jadwal Erau Adat Kutai 2026 Lengkap, Catat dari Sekarang!
Buat kamu yang berencana datang ke Tenggarong, jangan cuma mengandalkan tanggal pembukaan. Rangkaian Erau Adat Kutai 2026 sebenarnya sudah dimulai sebelum festival utama. Ada sejumlah prosesi Pra Erau yang menjadi bagian penting dari keseluruhan agenda.
Berikut jadwal lengkapnya:
Pra Erau Adat Kutai
Ziarah Makam Para Sultan: 13–14 September 2026
Besawai: 15 September 2026
Haul Jamak Raja dan Sultan: 16 September 2026
Titi Bende: 16 September 2026
Beluluh Sultan (Betuhing): 17 September 2026
Menjamu Benua: 17 September 2026
Merangin: 17–19 September 2026
Ngatur Dahar: 19 September 2026
Setelah rangkaian pra-Erau selesai, barulah memasuki festival utama.
Rangkaian Erau Adat Kutai
Mendirikan Pinang Ayu: 20 September 2026
Beluluh Sultan: 20–26 September 2026
Bepelas: 20–23 dan 25–27 September 2026
Maulid Barzanji: 24 September 2026
Beseprah: 24 September 2026
Pengambilan Air Tuli: 27 September 2026
Ngulur Naga dan Belimbur: 27 September 2026
Merebahkan Pinang Ayu: 28 September 2026
Sementara untuk agenda umum yang bisa menjadi pilihan wisatawan, Erau Adat Kutai 2026 juga menghadirkan Opening Ceremony pada 20 September 2026. Ada pula Expo, Bazar, dan UMKM yang berlangsung 20–27 September 2026 serta Lomba Olahraga Tradisional pada tanggal yang sama.
Rangkaian kemudian berlanjut dengan Ziarah Makam dalam rangka HUT Kota Tenggarong ke-244 pada 28 September 2026 dan Sidang Paripurna HUT Kota Tenggarong pada tanggal yang sama. Jadi, kalau ingin mendapatkan pengalaman yang lebih lengkap, datang lebih awal tentu menjadi pilihan menarik.
Bukan cuma festival utamanya yang bisa dinikmati, tetapi juga rangkaian tradisi yang mengiringinya.
Ngulur Naga dan Belimbur Jadi Puncak, Kenapa Momen Ini Selalu Bikin Penasaran?
Kalau harus memilih satu agenda yang paling ikonik, nama Ngulur Naga dan Belimbur hampir pasti masuk daftar teratas. Prosesi ini dijadwalkan berlangsung pada 27 September 2026, sekaligus menjadi salah satu momen penutup rangkaian Erau.
Dalam tradisi tersebut, dua replika naga yang dikenal sebagai naga laki dan naga bini akan dilarung dari Tenggarong menuju arah Kutai Lama.
Setelah prosesi naga, masyarakat kemudian mengikuti tradisi Belimbur, yaitu saling menyiram menggunakan air.
Sekilas mungkin terlihat seperti perang air raksasa. Namun, maknanya jauh lebih dalam. Belimbur merupakan simbol penyucian diri dan hati. Masyarakat bersama-sama mengikuti prosesi tersebut dalam suasana penuh kegembiraan.
Menariknya, pada momen seperti ini batas sosial terasa mencair. Siapa pun bisa ikut merasakan kemeriahannya. Tidak peduli latar belakang, status, atau pekerjaan. Semua berkumpul sebagai bagian dari masyarakat Kukar yang sedang merayakan dan mensyukuri tradisi.
Itulah salah satu kekuatan Erau. Budaya tidak hanya dipajang di panggung untuk ditonton, tetapi benar-benar dihidupkan melalui keterlibatan masyarakat. Apalagi pelaksanaan tahun ini berlangsung setelah masyarakat Kalimantan Timur melewati periode yang cukup berat.
Karhutla dan kabut asap sempat membuat sejumlah wilayah menghadapi kondisi udara yang kurang nyaman. Samarinda dan Balikpapan pun sempat mengalami langit yang tampak kelabu akibat asap.
Kondisi tersebut ikut menjadi tantangan bagi persiapan Erau. Disdikbud Kukar harus menyesuaikan latihan penari, termasuk mempercepat durasi kegiatan dan menggeser jadwal latihan ke sore hari agar anak-anak tidak terlalu lama terpapar panas.
Lapangan latihan juga disiram untuk mengurangi debu. Masker disediakan. Vitamin diberikan kepada penari anak-anak. Tim medis turut dipersiapkan. Semua dilakukan agar persiapan tetap berjalan tanpa mengabaikan kesehatan para peserta.
Kalau dipikir-pikir, ada pesan menarik di balik semua itu. Erau bukan hanya tentang mempertahankan acara tahunan. Ia juga menjadi cara masyarakat menunjukkan bahwa budaya tetap bisa hidup meski keadaan sedang tidak mudah.
Masyarakat tetap berkumpul. Anak-anak tetap berlatih. Penari tetap menyiapkan pertunjukan. Tradisi tetap dijalankan. Dan, semua bertemu dalam satu perayaan besar. Karena itu, Erau Adat Kutai 2026 rasanya bukan sekadar agenda wisata biasa.
Festival ini merupakan kesempatan untuk melihat bagaimana sebuah tradisi berusia ratusan tahun terus menemukan cara untuk bertahan di tengah perubahan zaman.
Buat kamu yang sedang mencari alasan untuk liburan ke Kalimantan Timur, Tenggarong bisa menjadi pilihan yang menarik pada September ini.
Datang bersama keluarga, ajak teman, atau sekadar jalan-jalan sambil menikmati suasana kota yang sedang merayakan identitas budayanya.
Kamu bisa menyaksikan pertunjukan, berburu kuliner dan produk UMKM, melihat olahraga tradisional, hingga merasakan atmosfer prosesi adat yang tidak setiap hari bisa ditemui. Dan kalau berkesempatan menyaksikan Ngulur Naga dan Belimbur, pengalaman itu tentu akan menjadi cerita tersendiri.
Jadi, daripada cuma melihat keseruannya lewat unggahan media sosial, kenapa tidak datang langsung?
20–27 September 2026. Tenggarong, Kutai Kartanegara.
Sudah waktunya ke Kukar. Karena Erau bukan cuma tentang pesta. Erau adalah tentang pulang, berkumpul, mengingat akar budaya, dan merayakan bahwa sebuah tradisi masih terus hidup sampai hari ini.
Oleh: Riyawan, S. HUT (pemerhati sosial budaya)
