Jombang – “The power of emak-emak” menjadi salah satu kekuatan yang diandalkan warga Perumda, Desa Candimulyo, Kabupaten Jombang, dalam membangun budaya keselamatan di jalan. Bukan sekadar mengejar predikat Kampung Tertib Lalu Lintas (KTL), warga ingin menjadikan lingkungan tempat tinggal sebagai ruang pertama untuk menanamkan disiplin berlalu lintas yang dimulai dari keluarga.
Perumda yang berada di wilayah RW 11 Desa Candimulyo ditetapkan sebagai lokasi asistensi Kampung Tertib Lalu Lintas 2026. Persiapan program tersebut dilakukan bersama masyarakat dengan pendampingan unsur Polda Jawa Timur, Satlantas Polres Jombang, pemerintah desa serta sejumlah instansi terkait. Pejabat Polda Jatim Bidang Subkamsel AKP Saiful bersama rombongan meninjau kesiapan lingkungan tersebut pada Jumat (11/9/2026).
Ketua RW 11 Perumda, Amik Purdinata, mengatakan lingkungannya sebelumnya telah aktif menjalankan berbagai program berbasis masyarakat. Mulai dari kampung tangguh, kesiapsiagaan warga hingga ketahanan pangan. Kehadiran program KTL, menurut dia, semakin melengkapi gerakan sosial yang telah tumbuh di tengah masyarakat.
“Alhamdulillah kampung kami ini, selain kampung tangguh, kami juga siap siaga dan menjadi kampung ketahanan pangan. Sekarang tambah predikat satu lagi, kampung tertib lalu lintas. Lengkap sudah,” ujar Amik memberikan penjelasan kepada Pejabat Polda Jatim Bidang Subkamsel AKP Saiful saat meninjau Perumahan Perumda yang ditetapkan sebagai asistensi KTL 2026, Jumat (11/9/2026).
Amik menilai kekuatan utama Perumda bukan terletak pada fasilitas yang mewah, tetapi pada komunikasi, kebersamaan dan keterlibatan warga. Meski secara administratif merupakan kawasan perumahan, hubungan sosial masyarakat di lingkungan tersebut masih kental dengan suasana kampung dan budaya gotong royong.
“Lingkungan kami sederhana, tetapi sinergisitas masyarakatnya kuat. Perumahan, tapi rasanya di kampung. Gotong royongnya dapat. Itu yang kami harapkan,” jelas Amik, aktivis Lingkungan Hidup Ini.
Keseriusan warga mulai terlihat sekitar sebulan sebelum kunjungan tersebut. Begitu mendapat informasi bahwa Perumda dipersiapkan menjadi KTL, pengurus lingkungan bersama masyarakat langsung melakukan koordinasi, menyusun rencana kegiatan serta memetakan kebutuhan sarana dan edukasi. Warga menginginkan program itu tetap berjalan meski proses penilaian telah berakhir.
“Begitu kami mendapat informasi Perumda ditetapkan sebagai KTL, kami langsung merapatkan. Kita harus membuat perencanaan yang matang. Artinya, tidak hanya sekadar event atau penilaian saja, tetapi bagaimana keberlanjutannya,” tegasnya.
Menurut Amik, kebiasaan tertib di jalan raya perlu dibentuk dari ruang paling dekat dengan masyarakat. Lingkungan tempat tinggal dapat menjadi tempat belajar mengenai aturan, kedisiplinan dan keselamatan sebelum warga beraktivitas menggunakan kendaraan di jalan umum.
“Ibaratnya, dari kampung ini masyarakat sudah memahami bagaimana tertib. Ketika sudah berada di jalan raya, mereka sudah paham aturan dan bagaimana harus bersikap,” ujarnya.
Salah satu pendekatan yang dipilih adalah melibatkan ibu-ibu PKK secara aktif dalam sosialisasi. Peran ibu dinilai strategis karena pendidikan mengenai keselamatan dapat dimulai dari rumah, termasuk mengingatkan suami maupun anak untuk menggunakan perlengkapan keselamatan dan mematuhi aturan berkendara.
“Kami sasar ibu-ibu PKK sebagai the power of emak-emak. Karena tertib lalu lintas itu berangkat dari keluarga, terutama ibu. Ibu yang selalu memikirkan bapaknya dan anaknya,” kata Amik yang tampak semangat itu.
Perhatian terhadap anak-anak juga menjadi bagian penting dalam edukasi KTL. Orang tua diminta tidak memberikan kebebasan kepada anak yang belum memenuhi ketentuan usia untuk mengendarai sepeda motor di jalan raya.
Sementara itu, AKP Saiful yang didampingi sejumlah staf Satlantas mengingatkan siswa SD dan SMP agar tidak menggunakan sepeda motor di jalan umum apabila belum memenuhi ketentuan.
“Kalau belajar boleh, tetapi harus didampingi orang tua di tempat yang aman, jangan sampai dibawa ke jalan raya,” kata Saiful memberi pesan edukasinya itu.
Saiful juga menyoroti pentingnya penggunaan helm saat berkendara. Kebiasaan sederhana, termasuk ketika orang tua mengantar anak ke sekolah, harus menjadi bagian dari budaya keselamatan. Edukasi kepada keluarga, khususnya para ibu, dinilai efektif karena dari rumah kebiasaan berkendara aman dapat dibentuk dan terus diingatkan.
“Karena itu, edukasi kepada ibu-ibu dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk membangun budaya keselamatan berlalu lintas dari rumah,” tandasnya.
Pendampingan terhadap warga Perumda melibatkan jajaran Polda Jawa Timur, di antaranya AKP Saiful dan Iptu Ken Wahyu, bersama personel Satlantas Polres Jombang. Koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup, PT Jasa Raharja serta perangkat Desa Candimulyo untuk mempersiapkan kebutuhan program.
Berbagai sarana pendukung mulai ditata melalui kerja bersama. Kampanye keselamatan tidak hanya dilakukan melalui pertemuan formal. Ketika masyarakat menggelar pawai budaya, atribut Kampung Tertib Lalu Lintas ikut dibawa sebagai sarana sosialisasi kepada masyarakat yang lebih luas.
Antusiasme warga, menurut Amik, terlihat dari tingginya keterlibatan masyarakat dalam setiap kegiatan. Pengurus RT, tokoh masyarakat serta warga bergotong royong menyiapkan lokasi dan kebutuhan program, bahkan pekerjaan persiapan dilakukan hingga malam hari.
“Warga sangat antusias. Begitu ada kegiatan, terutama untuk menyiapkan tempat dan kebutuhan lainnya, semua ikut membantu. Sampai malam hari kami masih di sini untuk melakukan persiapan bersama perangkat RT dan tokoh masyarakat,” ungkapnya.
Ke depan, Perumda bahkan disiapkan tidak hanya sebagai Kampung Tertib Lalu Lintas, tetapi juga sebagai tempat belajar bagi masyarakat dari wilayah lain. Warga membuka peluang bagi desa atau lingkungan lain yang ingin melakukan kegiatan edukasi mengenai keselamatan berkendara.
“Kami sudah menyampaikan kepada Satlantas, kami siap sebagai Kampung Literasi Tertib Lalu Lintas. Desa lain boleh datang ke sini. Kami siapkan tempatnya,” ujarnya.
Untuk menunjang rencana tersebut, warga juga mempersiapkan pembangunan aula serbaguna. Fasilitas itu nantinya diharapkan dapat menjadi ruang kegiatan bersama sekaligus pusat edukasi masyarakat, termasuk sosialisasi keselamatan dan ketertiban berlalu lintas.
Kunjungan jajaran Polda Jawa Timur dan Polres Jombang tersebut turut disambut perangkat Desa Candimulyo, kepala desa, kepala dusun serta sejumlah pengurus lingkungan dan tokoh masyarakat. Di antaranya Ketua RT 2 H Arif Gunawan, Ketua RT 3 H Sukardji, Ketua RT 5 H Samaun, Hengky dan Eko.
Sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, pemerintah daerah, kepolisian serta instansi terkait diharapkan membuat KTL di Perumda tidak berhenti sebagai sebuah predikat. Dari lingkungan yang sederhana, warga ingin menunjukkan bahwa budaya tertib berlalu lintas dapat dibangun melalui kebiasaan sehari-hari, kekuatan keluarga dan gotong royong. Keselamatan di jalan pada akhirnya bukan hanya urusan aparat, melainkan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai sejak seseorang melangkah keluar dari rumah.
