Trenggalek – Tim Dosen Berkarya Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Transformasi Digital untuk Mendukung Pengelolaan Ekowisata Pantai di Kabupaten Trenggalek” yang berlangsung mulai Juni hingga Agustus 2026.
Berbeda dari pendekatan konvensional, program tahun ini menempatkan penguatan pengelolaan media sosial sebagai tulang punggung transformasi digital destinasi wisata pesisir, sekaligus sebagai bentuk dukungan perguruan tinggi terhadap tata kelola ekowisata pantai berbasis teknologi di Kabupaten Trenggalek.
Kegiatan tersebut bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Trenggalek dengan melibatkan unsur pemerintah daerah, dinas terkait, Pokmaswas Kejung Samudra, serta masyarakat pesisir.
Program yang dilakukan diarahkan untuk mendukung peningkatan tata kelola ekowisata pantai melalui pemanfaatan sistem digital, penguatan promosi wisata, serta peningkatan literasi digital masyarakat pengelola destinasi.
Ketua pelaksana kegiatan, Niken Hendrakusma Wardani, S.Kom., M.Kom., menyampaikan bahwa transformasi digital menjadi salah satu kebutuhan penting dalam pengembangan ekowisata atau ecotourism di Kabupaten Trenggalek.
Potensi wisata pesisir Trenggalek dinilai sangat besar. Namun, potensi tersebut perlu didukung dengan sistem pengelolaan data, promosi digital, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar pengelolaan destinasi menjadi lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan.
Media Sosial sebagai Etalase Baru Destinasi Pesisir
Salah satu wujud nyata transformasi digital dalam program tersebut adalah pendampingan intensif pengelolaan media sosial di kawasan Ekowisata Mangrove Pancer Cengkrong, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo.
Kawasan tersebut merupakan ekosistem pesisir atau coastal ecosystem yang menjadi salah satu destinasi ekowisata pesisir unggulan Trenggalek.
Kegiatan digitalisasi dijalankan melalui tiga tahapan, yakni identifikasi permasalahan awal, studi lapangan untuk penggalian konten digital promosi ekowisata, serta pendampingan penyusunan konten dan optimalisasi user engagement media sosial.
Tim fasilitator pelaksana kegiatan terdiri atas dosen-dosen FPIK Universitas Brawijaya, yakni Niken Hendrakusma Wardani, S.Kom., M.Kom.; Dr. Tiwi Nurjannati Utami, S.Pi., MM.; Rhochmad Wahyu Illahi, S.Pi., M.B.A., M.P.; Prof. Dr. Ir. Harsuko Riniwati, MP.; Riski Agung Lestariadi, S.Pi., MP., Ph.D.; Dr. Ir. Agus Tjahjono, MS.; Dr. Candra Adi Intyas, S.Pi., MP.; serta Dr. Erlinda Indrayani, S.Pi., M.Si.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan juga melibatkan mahasiswa aktif Program Studi Agrobisnis Perikanan FPIK UB, Ananda Oktavia Wulandari, sebagai asisten lapangan.
Ananda bertugas menggali data untuk kebutuhan konten digital di lapangan sekaligus mendampingi pengelola destinasi dalam menyusun dan mengoptimalkan konten promosi.
Rangkaian kegiatan di lapangan mencakup identifikasi kondisi awal pengelolaan, pemetaan kebutuhan digital, hingga produksi konten.
Tim melakukan dokumentasi foto dan video kawasan mangrove sebagai bahan konten promosi, merancang materi edukasi konservasi, serta menata ulang pengelolaan akun Instagram resmi destinasi @mangrove_pancercengkrong agar kegiatan promosi menjadi lebih terencana dan konsisten.
Dalam dokumentasi pada halaman kedua dokumen, terlihat tim dosen pengabdian FPIK UB bersama Pokmaswas Kejung Samudra serta kegiatan susur mangrove yang dilakukan untuk memperoleh bahan konten Instagram destinasi.

Inti dari pendampingan tersebut adalah penyusunan content planner yang mengelompokkan seluruh unggahan ke dalam delapan pilar konten utama.
Kedelapan pilar itu mencakup pengenalan wisata mangrove, sosialisasi dan dokumentasi Program Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM), rekap revitalisasi jalur tracking, Mangrove Action Day, peliputan kunjungan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur, kampanye Hari Mangrove Sedunia bersama PNM Green Impact, hingga dokumentasi penanaman bibit mangrove.
Setiap pilar dirancang untuk menyeimbangkan aspek edukasi, transparansi program kelembagaan, pembaruan fasilitas, serta keterlibatan komunitas.
Hasil Terukur: Menembus 1.000 Pengikut dan Melipatgandakan Jangkauan
Pendampingan digital tersebut memberikan dampak yang terukur. Setelah penerapan content planner dengan delapan pilar konten, jumlah pengikut akun Instagram destinasi tumbuh secara organik dari 985 menjadi 1.005 pengikut per 24 Agustus 2026.
Akumulasi jangkauan visual dari delapan unggahan utama mencapai 4.626 tayangan, dengan total 193 interaksi berupa likes, komentar, serta shares/saves.
Adapun nilai engagement rate yang dicapai berada pada kisaran 4,17 persen terhadap jangkauan dan 2,40 persen terhadap jumlah pengikut.
Jangkauan tertinggi dicatatkan oleh konten kolaborasi kampanye Hari Mangrove Sedunia bersama PNM Green Impact dengan 1.562 tayangan.
Posisi berikutnya ditempati konten Mangrove Action Day dengan 1.349 tayangan serta liputan supervisi Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur dengan 1.151 tayangan.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa konten video kolaboratif yang mengangkat aktivitas nyata di lapangan menjadi jenis konten yang paling efektif dalam menarik perhatian audiens digital.
Selain produksi konten, kegiatan pengabdian juga mencakup bimbingan teknis digitalisasi kepada kelompok pengelola wisata dan masyarakat.
Materi yang diberikan meliputi pengenalan sistem digital, pemanfaatan media sosial untuk promosi wisata, serta pengelolaan konten digital.
Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam pengelolaan ekowisata berbasis teknologi informasi dan komunikasi atau ICT guna mendukung pengembangan ekonomi lokal.
Program tersebut turut mendukung konsep blue economy dan pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam pengelolaan kawasan pesisir yang memperhatikan aspek ekonomi, sosial, teknologi, dan kelestarian lingkungan.
Kegiatan ini juga sejalan dengan pencapaian sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDG 8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 9 mengenai industri, inovasi dan infrastruktur, SDG 11 mengenai komunitas berkelanjutan, SDG 14 mengenai ekosistem laut, serta SDG 16 mengenai tata kelola yang baik.
Melalui kegiatan tersebut, pengelolaan ekowisata pantai di Kabupaten Trenggalek diharapkan semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Transformasi digital melalui media sosial dinilai mampu meningkatkan efektivitas promosi wisata, memperkuat sistem pencatatan data pengunjung, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta mendukung pengelolaan destinasi yang lebih profesional dan berkelanjutan atau sustainable tourism.
