Surabaya — Kemitraan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) dengan Wahana Visi Indonesia (WVI) yang telah terjalin sejak 2025 kembali diwujudkan melalui aksi nyata di kawasan pesisir. Dalam rangka memperingati World Mangrove Day 2026 dan Hari Anak Nasional, WVI melalui Project MARVEL SEA mengundang sivitas akademika FPIK UB bersama berbagai perguruan tinggi, instansi pemerintah, akademisi, serta mitra lainnya untuk berpartisipasi dalam penanaman 10.000 bibit mangrove di Kebun Raya Mangrove Wonorejo, Surabaya, Minggu (26/7).
FPIK UB mengirimkan 10 mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Ilmu Kelautan (HIMALAYA) sebagai perwakilan dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mahasiswa FPIK UB menjadi bagian dari keberlanjutan kemitraan FPIK UB dan WVI sekaligus memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat langsung dalam aksi konservasi ekosistem pesisir bersama berbagai pemangku kepentingan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur, Project Area Manager WVI Surabaya, akademisi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), serta mitra WVI, PT Atina.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 08.00 WIB dengan pembukaan dan pengarahan kepada seluruh peserta. Setelah itu, peserta bergerak menuju lokasi penanaman menggunakan perahu nelayan setempat. Perjalanan menuju lokasi penanaman sekaligus memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk melihat karakteristik kawasan mangrove dan kehidupan masyarakat pesisir di Wonorejo.
Lokasi penanaman dibagi menjadi tiga area dengan pembagian peserta berdasarkan keberangkatan kapal. Mulai pukul 09.00 hingga sekitar 11.30 WIB, para peserta bersama-sama menanam bibit mangrove pada kawasan yang telah ditentukan sebelum kembali menuju Kebun Raya Mangrove Wonorejo untuk mengikuti penutupan kegiatan.

Bagi mahasiswa Ilmu Kelautan FPIK UB, keterlibatan dalam kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi aksi penanaman pohon. Mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir penting yang memiliki keterkaitan erat dengan berbagai aspek keilmuan kelautan, mulai dari konservasi, ekologi pesisir, kualitas perairan, mitigasi perubahan iklim, hingga pengelolaan wilayah pesisir secara berkelanjutan.
Ekosistem mangrove menyediakan habitat, daerah asuhan (nursery ground), tempat mencari makan (feeding ground), serta kawasan perlindungan bagi berbagai organisme. Sistem perakarannya juga membantu menahan sedimen dan meredam energi gelombang sehingga berperan dalam meningkatkan ketahanan kawasan pesisir terhadap abrasi.
Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap perubahan iklim, mangrove juga memiliki nilai strategis sebagai bagian dari ekosistem blue carbon. Kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon menjadikan konservasi dan rehabilitasi mangrove sebagai salah satu pendekatan berbasis alam (nature-based solution) yang penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus perlindungan biodiversitas pesisir.
Keterlibatan HIMALAYA dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran mahasiswa Ilmu Kelautan tidak hanya berlangsung melalui perkuliahan dan praktikum. Mahasiswa juga didorong untuk terlibat langsung dalam berbagai persoalan lingkungan, membangun jejaring dengan masyarakat dan pemangku kepentingan, serta menerapkan pemahaman keilmuan melalui aksi nyata di kawasan pesisir.

Momentum World Mangrove Day juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak berhenti pada jumlah bibit yang berhasil ditanam. Upaya konservasi membutuhkan pemilihan lokasi yang sesuai, pemantauan pertumbuhan, serta keterlibatan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan agar mangrove yang ditanam dapat tumbuh dan memberikan fungsi ekologis dalam jangka panjang.
Kolaborasi antara mahasiswa, organisasi masyarakat, pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat pesisir dalam kegiatan ini memperlihatkan bahwa perlindungan ekosistem mangrove membutuhkan kerja bersama. Bagi HIMALAYA FPIK UB, pengalaman tersebut sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menumbuhkan kepedulian dan tanggung jawab sebagai generasi muda yang kelak akan terlibat dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut Indonesia.
Partisipasi mahasiswa FPIK UB dalam penanaman 10.000 bibit mangrove ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13 (Climate Action) melalui penguatan ekosistem pesisir yang berperan dalam penyimpanan karbon dan adaptasi perubahan iklim, SDG 14 (Life Below Water) melalui perlindungan habitat dan biodiversitas pesisir, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor swasta dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove.
Melalui aksi tersebut, peringatan World Mangrove Day tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Bagi mahasiswa Ilmu Kelautan FPIK UB, 10.000 bibit yang ditanam menjadi bagian dari langkah bersama untuk memastikan benteng hijau pesisir tetap tumbuh bagi generasi mendatang.
