Solok — Perjuangan hidup tidak selalu terlihat dari besarnya pekerjaan atau hasil yang diperoleh. Ada yang berjuang di rimbo, ada yang bekerja di sawah urang, dan ada pula yang memilih menjadikan pena sebagai jalan pengabdian.
Itulah perjalanan Dioni Arvona, putra Jorong Datar, Nagari Bukit Kandung, Kecamatan X Koto Diatas, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Ayahnya dahulu mencari nafkah dengan masuk ke rimbo dan menyusuri sungai untuk mencari ikan. Sementara mandeh bekerja di sawah urang. Hujan, panas, lelah dan beratnya kehidupan menjadi bagian dari keseharian mereka.
Kini, perjuangan itu diteruskan Dioni dengan cara yang berbeda.
Ia memilih ujung pena sebagai medan perjuangan.
Hujan dan teriknya matahari tetap dijalani. Turun ke lapangan, mengejar informasi, menemui narasumber dan menyusun berita menjadi bagian dari kesehariannya.
Tidak selalu ada kemudahan.
Ada masa ketika makan teratur bukan sesuatu yang bisa dipastikan. Kadang ada rezeki, kadang harus menahan lapar. Namun pekerjaan tetap dijalankan karena ada tanggung jawab yang harus diselesaikan.
Lebih dari itu, tidak semua perjuangan selalu mendapatkan penghargaan.
Kadang sudah bekerja keras, tetapi keberadaan dan pekerjaan tidak dihargai.
Namun keadaan tersebut tidak serta-merta membuat langkahnya berhenti.
Bagi Dioni, menjadi pejuang pena berarti bersedia menjalani proses, meskipun hasilnya tidak selalu terlihat dan apresiasi tidak selalu datang.
Perjalanan itu juga tidak terlepas dari kehilangan kedua orang tua.
Delapan tahun lalu mandeh meninggal dunia. Dua tahun kemudian ayah menyusul pergi.
Kenangan tentang keduanya masih melekat. Ayah yang dahulu berjuang di rimbo dan sungai mencari ikan. Mandeh yang pagi-pagi pergi ke sawah urang.
Kini, Dioni menjalani medan perjuangan yang berbeda.
Ayah menghadapi rimbo dan sungai.
Mandeh menghadapi panasnya sawah urang.
Dioni menghadapi hujan, panas dan kerasnya jalan jurnalistik.
Jika dahulu orang tuanya bekerja untuk memastikan keluarga bisa makan, kini Dioni berusaha bertahan dengan pekerjaannya sekaligus menjalankan tanggung jawab sebagai orang yang memilih pena sebagai jalan hidup.
Ada hari ketika tulisan mendapat apresiasi. Ada pula ketika jerih payah seolah tidak dianggap.
Tetapi satu hal yang tetap dipertahankan: terus bekerja dan terus menulis.
Sebab bagi Dioni, perjuangan tidak selalu membutuhkan sorotan.
Kadang cukup dengan tetap berdiri ketika keadaan meminta seseorang untuk menyerah.
Dari Bukit Kandung, ia membawa satu pelajaran dari kedua orang tuanya: hidup memang tidak selalu mudah, tetapi perjuangan harus tetap dijalani.
Dan hari ini, perjuangan itu berada di ujung pena—di tengah hujan, panas, lapar, lelah, dan terkadang tanpa penghargaan.
Namun pena tetap digenggam. Tulisan tetap berjalan. Perjuangan belum selesai.
