Bontang – “Jangan hanya mengejar jumlah.” Pesan itu mengemuka dalam sorotan Anggota DPRD Kota Bontang dari Fraksi Golkar, Rustam, terhadap pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Ia mendorong evaluasi berkelanjutan, khususnya terhadap kapasitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), agar besarnya porsi yang dikerjakan tidak membuat kualitas makanan justru terabaikan.
Rustam menyampaikan pandangannya saat ditemui di Pendopo Wali Kota Bontang pada Sabtu (15/8/2026). Menurut dia, MBG merupakan program dengan tujuan mulia karena menyentuh langsung kebutuhan gizi anak-anak sekolah. Namun, tujuan tersebut harus diikuti tata kelola yang terukur, mulai dari kapasitas produksi dapur, jumlah tenaga, fasilitas, proses penyajian hingga pengawasan terhadap kualitas menu yang diterima para penerima manfaat.
“Ini program mulia untuk seluruh anak bangsa kita, anak yang bersekolah dari SMA sampai ke bawah,” ujar Rustam saat ditemui di Pendopo Wali Kota Bontang, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Rustam, salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian serius adalah jumlah porsi yang dibebankan kepada setiap SPPG. Ia berpandangan, satu dapur sebaiknya melayani sekitar 300 hingga maksimal 500 porsi. Pembatasan tersebut dinilainya akan membuat proses memasak, pengemasan, distribusi, serta pengendalian mutu makanan lebih mudah dilakukan dibandingkan jika satu dapur harus menangani ribuan porsi dalam satu waktu.
Pengalaman Rustam di bidang makanan dan minuman menjadi salah satu dasar pandangannya. Menurut dia, memproduksi makanan dalam jumlah besar membutuhkan kesiapan yang tidak sederhana. Selain tenaga kerja yang mencukupi, dapur juga harus didukung fasilitas memadai, waktu pengolahan yang tepat, serta sistem pengawasan yang mampu memastikan makanan tetap layak dan sesuai standar ketika sampai kepada penerima.
“Bagusnya SPPG itu jangan dikasih kuota banyak-banyak. SPPG-nya diperbanyak,” tegasnya.
Dengan memperbanyak SPPG dan membatasi jumlah porsi pada setiap dapur, Rustam menilai beban produksi dapat dibagi secara lebih proporsional. Pola tersebut diharapkan mampu meminimalkan risiko menurunnya kualitas makanan akibat proses produksi massal yang terlalu besar dalam waktu terbatas.
Pengawasan juga menjadi bagian penting yang disorot Rustam. Ia meminta setiap dapur SPPG memastikan menu yang disediakan mengikuti rekomendasi tenaga atau bagian gizi. Program MBG, menurutnya, tidak boleh dipahami hanya sebagai kegiatan membagikan makanan kepada anak sekolah, melainkan harus benar-benar menjamin terpenuhinya unsur gizi yang dibutuhkan penerima manfaat.
Karena itu, komposisi menu perlu menjadi perhatian, termasuk ketersediaan buah, roti maupun sumber gizi lainnya. Rustam juga menilai perlu ada konsekuensi yang jelas bagi penyedia apabila makanan yang diberikan tidak memenuhi standar yang telah ditentukan. Pengawasan yang ketat dinilai penting agar kualitas program tetap terjaga sejak proses pengolahan hingga makanan diterima siswa.
Selain persoalan kapasitas dapur, Rustam menyoroti mekanisme pengklasteran penerima manfaat serta penentuan anggaran MBG. Ia menilai karakteristik masing-masing wilayah Indonesia berbeda sehingga biaya pelaksanaan program tidak semestinya disamaratakan tanpa mempertimbangkan kondisi daerah.
“Jangan disamaratakan harga Indonesia Timur, Indonesia Barat, Sulawesi, Pulau Jawa. Beda,” katanya.
Perbedaan harga bahan pangan, biaya distribusi, transportasi hingga ketersediaan bahan bakar, menurut Rustam, dapat memengaruhi kemampuan penyedia dalam memenuhi standar menu. Kondisi wilayah yang berbeda membutuhkan perhitungan anggaran yang lebih adaptif agar kualitas dan kandungan gizi makanan tidak dikorbankan akibat keterbatasan biaya operasional.
Rustam berharap pemerintah terus melakukan kajian dan evaluasi berkala terhadap pelaksanaan MBG. Penyesuaian kapasitas SPPG, penguatan pengawasan, penerapan standar gizi serta perhitungan biaya berdasarkan kondisi wilayah dinilai perlu berjalan beriringan. Dengan pengelolaan yang lebih terukur, program MBG diharapkan tidak sekadar mampu menjangkau banyak penerima, tetapi juga memastikan setiap makanan yang dibagikan benar-benar berkualitas dan memenuhi kebutuhan gizi anak-anak. (ADV).
