Ponorogo – Singkong yang selama ini kerap dipandang sebagai bahan pangan sederhana kini menjadi “pintu masuk” bagi siswa SMAN 1 Jetis Ponorogo untuk mengenal inovasi produk dan peluang usaha. Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya (UNESA), memberikan pelatihan pengembangan olahan singkong kepada siswa Program Double Track di sekolah tersebut, Kamis (6/8/2026).
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) itu diselenggarakan untuk meningkatkan kompetensi vokasional, kreativitas, dan semangat kewirausahaan para peserta. Melalui pelatihan berbasis praktik, siswa dibimbing mengolah komoditas pangan lokal menjadi produk yang lebih menarik, memiliki nilai tambah, serta berpeluang dipasarkan kepada masyarakat. Program ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen UNESA dalam mendukung peserta didik agar tidak hanya menguasai pengetahuan akademik, tetapi juga memiliki keterampilan kerja yang aplikatif.

Pelatihan tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala SMAN 1 Jetis Ponorogo, Dr. Samsul Hidayat, S.Pd., M.Pd. Ia mengapresiasi kerja sama yang terjalin antara pihak sekolah dan Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga FT UNESA. Menurutnya, pembelajaran berbasis praktik dapat membantu siswa memahami hubungan antara materi yang diperoleh di kelas dan penerapannya dalam kehidupan nyata.
“Program seperti ini sangat mendukung pelaksanaan Double Track. Selain meningkatkan keterampilan siswa, pelatihan ini juga menumbuhkan semangat berwirausaha sejak dini melalui pengolahan pangan lokal yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Samsul menilai keterampilan mengolah pangan lokal dapat menjadi bekal penting bagi siswa setelah menyelesaikan pendidikan. Selain membuka kesempatan untuk memasuki dunia kerja, kemampuan tersebut juga dapat mendorong siswa merintis usaha secara mandiri dengan memanfaatkan potensi bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar.
PKM ini dipimpin Hidayatun Muyasyaroh, S.Pi., M.T.P. bersama tim dosen Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga FT UNESA. Prof. Dr. Luthfiyah Nurlaela, M.Pd. turut hadir sebagai perwakilan program studi untuk menyampaikan materi sekaligus memberikan motivasi kepada para peserta.
Dalam pemaparannya, peserta didorong memahami pentingnya inovasi pangan berbasis sumber daya lokal sebagai bekal menghadapi persaingan di dunia usaha dan industri. Produk pangan dinilai tidak cukup hanya memiliki cita rasa yang baik, tetapi juga perlu memenuhi unsur keamanan, tampilan, kemasan, harga, dan strategi pemasaran agar mampu menarik konsumen.
Selama pelatihan, para siswa mempelajari pengembangan olahan singkong dalam kategori manis atau sweet serta gurih atau savory. Mereka terlibat langsung dalam setiap tahapan produksi, mulai dari menyiapkan bahan, menerapkan teknik pengolahan, hingga menghasilkan produk yang siap dikemas.
Peserta juga memperoleh materi mengenai sanitasi dan keamanan pangan. Pengetahuan tersebut diperlukan untuk memastikan proses produksi berlangsung secara bersih dan produk yang dihasilkan aman dikonsumsi. Selain itu, siswa dikenalkan pada teknik pengemasan yang dapat menjaga kualitas sekaligus meningkatkan daya tarik produk.

Aspek bisnis turut menjadi bagian penting dalam pelatihan. Para siswa dibekali cara sederhana menghitung harga pokok produksi dan menentukan harga jual. Mereka juga mempelajari strategi pemasaran dasar agar produk olahan singkong yang dibuat tidak berhenti sebagai hasil praktik, tetapi dapat dikembangkan menjadi peluang usaha.
Pembelajaran dilaksanakan melalui metode experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman. Pendekatan ini memberikan ruang kepada siswa untuk terlibat aktif, mencoba teknik pengolahan secara langsung, memecahkan persoalan selama proses produksi, dan mengembangkan ide produk sesuai kreativitas masing-masing.
Ketua PKM, Hidayatun Muyasyaroh, menjelaskan bahwa singkong merupakan komoditas pangan lokal yang mempunyai peluang besar untuk dikembangkan. Dengan inovasi yang tepat, bahan tersebut dapat diolah menjadi beragam produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
“Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar bagaimana mengolah singkong menjadi produk yang menarik, tetapi juga memahami tahapan pengembangan produk, pengemasan, hingga aspek bisnis sederhana. Dengan bekal tersebut diharapkan mereka mampu menciptakan peluang usaha berbasis potensi daerah yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, penguatan kompetensi vokasional merupakan langkah penting untuk mempersiapkan lulusan yang lebih siap menghadapi kebutuhan dunia kerja. Keterampilan tersebut juga diharapkan menumbuhkan keberanian siswa untuk membangun usaha mandiri setelah menamatkan pendidikan.
Pelaksanaan kegiatan ini selaras dengan komitmen Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga FT UNESA dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals. Pelatihan tersebut berkaitan dengan SDG 4 mengenai pendidikan berkualitas melalui penyediaan pembelajaran vokasional yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah tersebut juga mendukung SDG 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan. Kerja sama yang berkelanjutan diharapkan dapat memperluas akses siswa terhadap pengetahuan, pendampingan, serta pengalaman praktis dari kalangan akademisi dan tenaga profesional.
Melalui program ini, UNESA dan SMAN 1 Jetis Ponorogo berharap sinergi dalam peningkatan kompetensi siswa dapat terus dikembangkan. Pelatihan pengolahan singkong menjadi langkah nyata untuk melahirkan generasi muda yang kreatif, mandiri, memiliki daya saing, serta mampu menciptakan peluang ekonomi dari potensi pangan lokal.
