Bondowoso – “Petani tak lagi berjalan sendiri.” Semangat itu mengiringi peluncuran Mobil Klinik Pertanian oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Bondowoso untuk membawa pelayanan teknis langsung ke lahan-lahan pertanian. Inovasi berkonsep jemput bola tersebut dihadirkan agar petani di wilayah pelosok dapat memperoleh konsultasi, pendampingan, dan solusi tanpa harus meninggalkan kegiatan usaha taninya.
Mobil Klinik Pertanian dirancang sebagai pusat pelayanan bergerak yang menjangkau kelompok tani dan masyarakat pertanian di berbagai desa di Kabupaten Bondowoso. Program ini dilaksanakan DPKP dengan melibatkan tenaga penyuluh, petugas pengendali hama, serta tim teknis yang memiliki keahlian di sejumlah bidang pertanian. Kehadirannya diharapkan mempercepat penanganan kendala yang dialami petani sekaligus memastikan rekomendasi teknis diberikan sesuai kondisi di lapangan.
Kepala DPKP Bondowoso, Mulyadi, mengatakan layanan tersebut menjadi jawaban atas kebutuhan petani terhadap akses informasi dan pendampingan yang lebih mudah. Selama ini, jarak menuju kantor pelayanan maupun keterbatasan waktu kerap menjadi hambatan bagi petani untuk berkonsultasi mengenai persoalan usaha tani.
“Mobil Klinik Pertanian hadir dengan konsep jemput bola, sehingga petani tidak perlu meninggalkan lahannya untuk mendapatkan informasi, konsultasi, maupun rekomendasi teknis terkait usaha pertanian yang dijalankan,” ujar Mulyadi saat dikonfirmasi, Selasa (28/7/2026).
Menurut Mulyadi, pemerintah daerah melalui DPKP ingin memastikan pelayanan pertanian tidak hanya terpusat di kawasan perkotaan atau kantor dinas. Pelayanan harus menjangkau masyarakat hingga tingkat desa agar setiap persoalan dapat diketahui dan ditangani berdasarkan keadaan sebenarnya di lokasi pertanian.
Operasional Mobil Klinik Pertanian didukung Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang selama ini menjadi penghubung utama antara pemerintah dan petani di wilayah binaan. Selain itu, terdapat Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) serta Tim Teknis DPKP yang bertugas memberikan pemeriksaan, rekomendasi, dan pendampingan sesuai kebutuhan petani.
Kolaborasi para petugas tersebut memungkinkan petani memperoleh sejumlah layanan dalam satu kunjungan. Permasalahan yang dapat dikonsultasikan mencakup penerapan teknik budidaya, penentuan kebutuhan pupuk, pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), pemeriksaan kesuburan tanah, pemanfaatan alat dan mesin pertanian, hingga pengembangan usaha tani agar lebih produktif dan bernilai ekonomi.
“Melalui konsep jemput bola, kami ingin memastikan pelayanan pertanian semakin dekat, cepat, dan tepat sasaran. Petani tidak perlu datang ke kantor karena kami yang hadir langsung memberikan solusi di lokasi usaha tani,” tegas Mulyadi.
Pelayanan langsung di lahan dinilai penting karena persoalan pertanian sering kali membutuhkan pemeriksaan kondisi tanaman, tanah, cuaca, serta lingkungan sekitar. Melalui kunjungan lapangan, petugas dapat mengidentifikasi penyebab masalah secara lebih tepat sebelum memberikan saran penanganan kepada petani.
Inovasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan Kabupaten Bondowoso. Penanganan gangguan tanaman yang lebih cepat diharapkan dapat mencegah kerugian semakin besar, mempertahankan hasil panen, dan mendorong peningkatan produktivitas komoditas pertanian di daerah tersebut.
Selain menyelesaikan persoalan teknis, Mobil Klinik Pertanian diharapkan menjadi sarana edukasi bagi petani dalam menerapkan praktik budidaya yang efektif dan berkelanjutan. Pendampingan secara rutin juga dapat membantu petani menyesuaikan pola produksi dengan perkembangan teknologi, kondisi lingkungan, dan kebutuhan pasar.
“Dengan semangat ‘Melayani, Mendampingi, dan Memberikan Solusi’, Mobil Klinik Pertanian diharapkan menjadi pusat layanan pertanian bergerak yang mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan petani menuju terwujudnya Bondowoso Berkah,” pungkasnya.
Melalui Mobil Klinik Pertanian, DPKP Bondowoso berupaya memangkas jarak antara petani dan layanan pemerintah. Program tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pelayanan konsultasi, tetapi berkembang menjadi penggerak peningkatan produksi, penguatan ketahanan pangan, dan perbaikan kesejahteraan petani di seluruh wilayah Kabupaten Bondowoso.
