Kediri – Dari sekadar hobi, anthurium kembali menunjukkan daya tariknya sebagai tanaman hias yang mampu menyatukan komunitas sekaligus membuka peluang ekonomi. Semangat tersebut terlihat dalam Latihan Bersama (Latber) Anthurium yang digelar Komunitas Anthurium Kediri Raya (ANKER) di Desa Pagu, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Minggu (19/7/2026). Kegiatan itu menjadi penanda aktifnya kembali komunitas setelah sempat vakum dalam beberapa waktu terakhir.
Sekitar 80 penghobi dari berbagai daerah, di antaranya Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, hingga Nganjuk, ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Selain menjadi ajang penilaian kualitas tanaman, Latber juga dimanfaatkan sebagai sarana bertukar pengalaman mengenai teknik budidaya, perawatan, hingga peluang bisnis tanaman hias yang masih memiliki pasar cukup luas. Kegiatan semakin semarak dengan adanya lelang tanaman aroid yang menarik perhatian para kolektor.
“Ini merupakan latber perdana. Ke depan kami ingin menggelarnya secara rutin dan apabila antusiasme terus meningkat, kami menargetkan bisa menyelenggarakan kontes anthurium tingkat nasional di Kediri pada [Desember 2026],” ujar Penasehat Komunitas ANKER, Eikfak Safawi atau Ipok.
Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan secara berkesinambungan diharapkan mampu memperbesar komunitas penghobi anthurium di Kediri Raya sekaligus menjadi penggerak ekonomi kreatif melalui jual beli tanaman hias. Ia optimistis minat masyarakat terhadap anthurium akan terus tumbuh seiring meningkatnya kualitas tanaman yang dibudidayakan para anggota komunitas.
Dalam perlombaan tersebut, dewan juri menilai tanaman berdasarkan tiga indikator utama, yaitu performa dengan bobot 30 persen, kesehatan tanaman 30 persen, dan karakter sebesar 40 persen. Penilaian karakter menjadi aspek paling penting karena setiap varietas memiliki ciri khas yang harus tetap terjaga.
“Aspek karakter menjadi penilaian terbesar karena setiap jenis anthurium memiliki ciri khas yang harus tetap stabil. Misalnya pada variegata, corak harus konsisten sejak tanaman masih kecil hingga dewasa,” kata juri perlombaan, Fais.
Ia menambahkan, perkembangan komunitas tanaman hias yang terus meningkat menjadi sinyal positif bagi bisnis anthurium. Tanaman dengan karakter yang unik dan kualitas prima masih memiliki nilai jual tinggi di kalangan kolektor.
Panitia membagi perlombaan ke dalam empat kategori, yakni Hookeri Pink Junior, Hookeri Pink Senior, Hookeri Variegata All Size, dan Anthurium Mix All Size. Total hadiah sebesar Rp1,6 juta disiapkan bagi para pemenang, lengkap dengan sertifikat dan uang pembinaan. Sementara itu, setiap peserta dikenakan biaya pendaftaran Rp25 ribu per tanaman dengan syarat tanaman memiliki sedikitnya enam helai daun dan menggunakan topping media tanam seperti pasir malang.
Juara pertama Hookeri Pink Junior diraih Abdul Kowim, Hookeri Pink Senior dimenangkan Samsul Ma’arif, kategori Hookeri Variegata menjadi milik M. Nur Kolik, sedangkan Anthurium Mix All Size dimenangkan Eikfak Safawi.
Salah satu pemenang, Abdul Kowim, mengungkapkan bahwa anthurium termasuk tanaman yang tidak sulit dipelihara. Menurutnya, penyiraman cukup dilakukan menyesuaikan kondisi media tanam dan cuaca, sementara pemupukan lebih efektif menggunakan kompos maupun pupuk kandang.
“Anthurium lebih kuat terhadap cuaca panas. Penyiraman cukup disesuaikan dengan kondisi media tanam dan suhu, umumnya dua hingga tiga hari sekali. Untuk pemupukan saya lebih banyak menggunakan kompos atau pupuk kandang,” ujarnya.
Saat ini Komunitas Anthurium Kediri Raya telah memiliki lebih dari 100 anggota yang berasal dari berbagai wilayah di Kediri Raya dan sekitarnya. Dengan semakin aktifnya kegiatan komunitas, para penghobi berharap anthurium tidak hanya dikenal sebagai tanaman koleksi, tetapi juga mampu menjadi komoditas bernilai ekonomi yang terus berkembang di daerah tersebut.
