Mojokerto – Sebuah langkah kecil dalam mencintai budaya mampu membuka jalan menuju panggung nasional. Itulah yang dialami Azalea Mauren Achmad, siswi SDN Balongsari 3 Kota Mojokerto, yang sukses meraih Juara II Puteri Kebaya Indonesia 2026 Kategori Cilik setelah melalui proses panjang sejak mulai aktif mengikuti ajang pelestarian budaya.
Grand final Puteri Kebaya Indonesia 2026 digelar di Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu (4/7/2026) oleh PT Putra Anta Gemilang. Pada kompetisi tersebut, Mauren berhasil masuk tiga besar nasional setelah menunjukkan kemampuan, wawasan budaya, serta kecintaannya terhadap kebaya sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.
Perjalanan menuju prestasi itu diawali ketika Mauren mengikuti ajang Duta Batik Kota Mojokerto pada 2025. Dalam kompetisi tersebut, ia dinobatkan sebagai Juara Favorit. Pengalaman tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan sekaligus memperdalam pengetahuan mengenai kebaya dan budaya Nusantara.
“Sejak umur empat tahun aku sudah suka kebaya. Waktu itu sering lihat di toko batik. Aku pernah bilang ke mama kalau suatu hari nanti ingin beli kebaya. Aku juga ingin ikut melestarikan kebaya karena teman-teman sekarang lebih sering memakai baju kekinian,” ujar Mauren.
Pendamping Mauren menjelaskan bahwa ketertarikan terhadap kebaya terus berkembang setelah mengikuti berbagai kegiatan bertema budaya. Selain belajar mengenai nilai-nilai tradisi, Mauren juga mulai percaya diri tampil dalam berbagai kompetisi hingga akhirnya lolos ke tingkat nasional.
Selama mengikuti rangkaian karantina dan penilaian Puteri Kebaya Indonesia 2026, Mauren mendapatkan banyak pengalaman baru. Salah satu yang paling berkesan adalah kesempatan mengunjungi Candi Prambanan untuk pertama kalinya. Baginya, pengalaman tersebut menjadi momen yang semakin menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya Indonesia.
“Aku excited banget karena pertama kali melihat Candi Prambanan. Itu pengalaman yang sangat berkesan buat aku,” katanya.
Selain memperoleh pengalaman budaya, Mauren juga menjalin persahabatan dengan peserta dari berbagai provinsi. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk saling mengenal keberagaman budaya Indonesia sekaligus memperluas wawasan mengenai tradisi di berbagai daerah.
Meski akhirnya berhasil meraih Juara II, Mauren mengaku sempat tidak yakin mampu masuk jajaran pemenang. Ia bahkan merasa gugup saat menjalani sesi wawancara yang menjadi salah satu tahapan penilaian.
“Aku sempat berpikir kayaknya tidak akan lolos. Ternyata bisa sampai Top 3. Senang sekali rasanya,” ungkapnya.
Prestasi tersebut semakin memotivasi Mauren untuk terus berkiprah dalam kegiatan pelestarian budaya. Ia berharap suatu saat dapat mengikuti ajang Puteri Indonesia sebagai langkah berikutnya dalam mewujudkan cita-citanya.
“Kalau sudah besar, aku ingin ikut Puteri Indonesia,” tuturnya.
Di akhir perbincangan, Mauren mengajak generasi seusianya agar tidak malu mengenakan kebaya maupun batik. Menurutnya, mencintai budaya dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana, sehingga warisan leluhur tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
“Jangan malu memakai kebaya atau batik. Kita harus bangga karena itu budaya Indonesia. Walaupun sekarang banyak baju yang modern, kita tetap harus ikut melestarikan budaya kita supaya tidak hilang,” pesannya.
Prestasi yang diraih Mauren menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dimulai sejak usia dini. Dengan semangat dan konsistensi, generasi muda diharapkan mampu menjadi penerus yang menjaga sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia.
