Malang – Kekhawatiran masyarakat terhadap penggunaan formalin dan boraks pada ikan masih menjadi salah satu penyebab rendahnya kepercayaan sebagian konsumen terhadap produk perikanan. Padahal, ikan merupakan salah satu sumber protein dan asam lemak omega-3 terbaik yang sangat dibutuhkan untuk mendukung kesehatan dan tumbuh kembang.
Menjawab keresahan tersebut, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB), Jeni Ernawati Tambunan, mengajak masyarakat untuk lebih memahami cara memilih, menangani, dan mengolah ikan agar dapat dikonsumsi dengan aman.
Edukasi tersebut disampaikan dalam program Let’s Talk Podcast bertajuk “Gemar Makan Ikan Tanpa Was-Was”. Dalam diskusi tersebut, Jeni menjelaskan bahwa kekhawatiran masyarakat seharusnya tidak membuat konsumsi ikan menurun, melainkan menjadi dorongan untuk semakin memahami karakteristik ikan segar serta mengenali praktik penanganan pangan yang aman.
Menurut Jeni, ikan memang lebih cepat mengalami pembusukan dibandingkan daging ayam maupun sapi. Hal ini disebabkan kandungan air yang tinggi, berkisar antara 60 hingga 85 persen, serta tekstur daging ikan yang lebih lunak sehingga lebih mudah mengalami kerusakan akibat aktivitas mikroorganisme.
“Yang perlu dipahami masyarakat adalah bahwa cepat rusaknya ikan merupakan proses yang alami. Permasalahan bukan terletak pada ikannya, melainkan pada cara penanganan dan penyimpanannya. Jika ditangani dengan benar sejak awal, ikan tetap aman dikonsumsi dan kualitas gizinya dapat dipertahankan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai penggunaan bahan pengawet yang dilarang, seperti formalin dan boraks. Meskipun kedua bahan tersebut mampu memperpanjang masa simpan produk, penggunaannya pada pangan dapat menimbulkan risiko kesehatan, mulai dari gangguan organ hingga meningkatkan potensi efek karsinogenik apabila terpapar dalam jangka panjang.
Sebagai langkah sederhana, masyarakat dapat mengenali beberapa indikasi produk perikanan yang patut dicurigai, misalnya ikan yang tetap bertahan sangat lama pada suhu ruang, hampir tidak memiliki aroma khas ikan, atau tidak dikerubungi lalat. Meski demikian, Jeni menegaskan bahwa kepastian keberadaan formalin maupun boraks tetap memerlukan pengujian laboratorium.
Sebaliknya, terdapat berbagai bahan pengawet alami yang lebih aman untuk digunakan dalam pengolahan pangan, seperti garam, gula, jeruk nipis, kunyit, jahe, bawang putih, kitosan yang berasal dari limbah kulit udang atau kepiting, serta alginat yang diekstraksi dari rumput laut. Selain membantu memperpanjang masa simpan, beberapa bahan tersebut juga mampu memperbaiki tekstur produk olahan perikanan.
Edukasi ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pangan bergizi, SDG 3 (Good Health and Well-being) dengan mendorong konsumsi pangan yang aman dan sehat, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui praktik penanganan dan pengolahan pangan yang bertanggung jawab, serta SDG 14 (Life Below Water) melalui pemanfaatan sumber daya perikanan yang berkelanjutan dan bernilai tambah.
Selain memilih ikan yang masih segar, Jeni juga menyarankan agar ikan segera dibersihkan dengan membuang insang dan isi perut, kemudian disimpan dalam wadah yang bersih dan langsung didinginkan atau dibekukan. Penanganan yang tepat sejak awal dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga mutu, keamanan, dan kandungan gizi ikan hingga siap dikonsumsi.
Melalui edukasi ini, FPIK Universitas Brawijaya kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap keamanan pangan, pemahaman mengenai cara memilih, menangani, dan mengolah ikan dengan benar menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk perikanan.
