Bondowoso – Sejarah panjang hubungan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan kalangan pesantren kembali mendapat babak baru. Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani, Desa Beddian, Kecamatan Jambesari Darussholah, KH Faqih Subhan, resmi bergabung dalam jajaran Dewan Syura DPC PKB Kabupaten Bondowoso, memperkuat konsolidasi partai menjelang agenda politik mendatang.
Kehadiran Kiai Faqih memiliki makna lebih dari sekadar pengisian struktur organisasi. Langkah tersebut sekaligus menghubungkan kembali PKB dengan Pondok Pesantren Al-Utsmani, lokasi bersejarah yang menjadi tempat deklarasi pertama PKB di Bondowoso pada 1998.
Bagi keluarga besar pesantren, momentum ini juga menjadi kelanjutan perjuangan almarhum KH Subhan, tokoh yang sejak awal berperan dalam perjalanan PKB di Bondowoso dan pernah mengemban amanah sebagai anggota Dewan Syura hingga jajaran Tanfidz DPC PKB.
Kiai Faqih menuturkan keputusannya bergabung ke dalam kepengurusan PKB didasari keinginan meneruskan cita-cita para pendahulu dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui jalur politik. Ia menegaskan langkah tersebut juga telah memperoleh restu dari Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani, KH Ghozali Ustman.
“Ini bukan sekadar bergabung dengan partai politik, tetapi melanjutkan perjuangan yang telah dirintis para pendahulu,” ujarnya.
Menurutnya, PKB memiliki ikatan historis yang kuat dengan Nahdlatul Ulama (NU) karena lahir sebagai wadah perjuangan politik warga nahdliyin dalam menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
“PKB lahir bukan hanya sebagai kendaraan politik, tetapi sebagai jembatan perjuangan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang selama ini dijaga dan dirawat oleh NU,” katanya.
Ia berpandangan bahwa politik semestinya menjadi instrumen untuk menghadirkan kemaslahatan masyarakat. Karena itu, PKB dinilai memiliki tanggung jawab memperjuangkan kepentingan pesantren, petani, nelayan, guru ngaji, hingga pelaku usaha mikro agar memperoleh perhatian dalam kebijakan pembangunan.
Sementara itu, Ketua DPC PKB Bondowoso Ahmad Dhafir menyebut bergabungnya keluarga besar Pondok Pesantren Al-Utsmani memiliki nilai historis yang sangat penting bagi partai. Menurutnya, hubungan PKB dengan pesantren tersebut bukan hubungan baru, melainkan bagian dari sejarah kelahiran partai di Bondowoso.
“Alhamdulillah keluarga besar Pondok Pesantren Al-Utsmani berkenan dan direstui masuk dalam jajaran kepengurusan PKB untuk bersama-sama mengurus partai yang dilahirkan oleh NU,” kata Dhafir.
Ia menegaskan bahwa kepengurusan PKB bukan milik pribadi, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan melibatkan para ulama dan tokoh pesantren. Karena itu, sebelum menyusun struktur kepengurusan, jajaran DPC PKB terlebih dahulu bersilaturahmi untuk meminta restu kepada Pengasuh Pondok Pesantren Al-Utsmani.
Dhafir juga mengingatkan bahwa deklarasi pertama PKB di Bondowoso pada 1998 berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Al-Utsmani. Sejak saat itu, pesantren tersebut menjadi salah satu fondasi penting perjalanan PKB di daerah.
Selain KH Faqih Subhan, sejumlah keluarga besar Al-Utsmani turut bergabung dalam kepengurusan baru DPC PKB Bondowoso. Beberapa di antaranya berasal dari latar belakang organisasi kepemudaan NU seperti Ansor dan Banser. Ke depan, mereka akan diperkuat hingga tingkat Pengurus Anak Cabang (PAC) sebagai bagian dari konsolidasi organisasi di akar rumput.
Menghadapi Pemilu 2029, Ahmad Dhafir optimistis penguatan struktur berbasis pesantren akan berdampak pada peningkatan dukungan masyarakat. Ia menargetkan jumlah kursi PKB di DPRD Bondowoso tidak hanya bertahan, tetapi bertambah melalui kerja organisasi yang semakin solid.
