Bontang – Ruang pemeriksaan kandungan biasanya dipenuhi harapan. Seorang ibu menunggu kabar perkembangan janin, seorang ayah tersenyum melihat detak jantung calon buah hati. Namun, suasana yang dihadapi seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi (SpOG) di Kota Bontang kali ini justru berbeda. Bukan kebahagiaan yang memenuhi ruangan, melainkan kesedihan yang begitu dalam hingga membuat semua orang yang berada di sana menitikkan air mata.
Kisah itu dibagikan oleh dr. Fakhruzzabadi, SpOG, melalui sebuah cerita yang kemudian menyentuh hati banyak orang. Baginya, pengalaman tersebut menjadi salah satu momen paling emosional selama bertahun-tahun menangani pasien.
“Kasus ini membuat saya bukan hanya sempat marah, lalu sedih, tetapi benar-benar terharu. Bahkan tanpa sadar air mata saya keluar, meskipun saya berusaha menahannya,” ungkapnya.
Peristiwa itu bermula ketika seorang perempuan lanjut usia datang ke ruang praktiknya. Dokter sempat mengira perempuan tersebut yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan. Namun dugaan itu keliru.
Perempuan itu hanya duduk diam beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan.
“Bukan saya, Dok. Ada anak saya.”
Tak lama kemudian, seorang remaja perempuan memasuki ruang pemeriksaan. Tanpa banyak bicara, ia langsung berbaring di tempat pemeriksaan USG.
Saat pakaian bagian perut diangkat, dokter dibuat terkejut. Perut remaja tersebut tampak membesar, tetapi dibalut stagen atau korset yang dipasang sangat kencang.
Begitu stagen itu dilepas, dugaan dokter semakin kuat.
Perut gadis itu tampak seperti perempuan yang telah memasuki usia kehamilan sekitar tujuh bulan.
Pemeriksaan USG pun segera dilakukan.
Hasilnya memastikan bahwa remaja tersebut memang sedang mengandung dengan usia kehamilan sekitar 26 minggu.
Di tengah proses pemeriksaan, sang ibu yang menyaksikan layar monitor mulai memperhatikan gerakan janin di dalam kandungan putrinya.
Awalnya ia hanya terdiam.
Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah pucat.
Dengan suara lirih bercampur syok, ia berkata,
“Ya Allah, Nak… kamu hamil.”
Belum sempat kalimat itu selesai, tubuhnya tiba-tiba lunglai dan tak sadarkan diri di kursi.
Pemeriksaan pun langsung dihentikan.
Dokter meminta bidan dan perawat segera membawa perempuan tersebut ke instalasi gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan.
Sementara itu, sang anak diminta keluar dari ruang pemeriksaan dan kembali lagi bersama anggota keluarga lain sekitar setengah jam kemudian.
“Saya merasa ibunya sudah tidak mungkin bisa mendampingi lagi saat itu. Saya minta pasien kembali bersama keluarganya,” tutur dr. Fakhruzzabadi.
Sekitar tiga puluh menit berselang, remaja itu kembali datang.
Kali ini ia ditemani ayahnya.
Sosok pria tua berambut putih dan berkumis itu memasuki ruangan dengan wajah yang tampak menahan emosi.
Matanya memerah.
Dokter mengaku sempat membayangkan berbagai kemungkinan buruk.
Ia mengira sang ayah akan meluapkan kemarahan, memarahi putrinya habis-habisan, bahkan sempat khawatir akan terjadi tindakan kekerasan di dalam ruang praktik.
“Sebagai dokter, saya sudah bersiap dengan segala kemungkinan. Saya pikir beliau akan marah besar,” katanya.
Tanpa basa-basi, pria itu langsung duduk di depan meja pemeriksaan.
Pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya sangat singkat.
“Anak saya hamil berapa bulan, Dok?”
Dokter menjawab dengan tenang.
“Dua puluh enam minggu, Pak.”
Jawaban itu membuat ruangan mendadak sunyi.
Namun, yang terjadi setelahnya sama sekali di luar dugaan.
Pria tersebut tidak mengangkat suara.
Tidak memarahi putrinya.
Tidak pula melontarkan kata-kata kasar.
Ia justru berdiri, berjalan mendekati anaknya, lalu mengusap punggung putrinya perlahan.
Beberapa saat kemudian, ia memeluk anaknya dengan sangat erat.
Tangisnya pecah.
Sambil terus memeluk putrinya, ia berulang kali mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan ikut larut dalam kesedihan.
“Nak… bapak salah didik apa ke kamu?”
Kalimat itu diulang berkali-kali.
Bukan dengan nada marah.
Melainkan dengan suara yang dipenuhi rasa hancur, kecewa, sekaligus kasih sayang yang tak pernah hilang.
Tangis sang ayah membuat putrinya ikut menangis.
Perawat yang berada di ruangan juga tak mampu menyembunyikan emosinya.
Bahkan dokter yang menangani pemeriksaan mengaku berusaha keras menahan air mata.
“Saking hancurnya hati beliau, beliau sudah tidak bisa marah lagi. Yang ada hanya memeluk anaknya sambil menangis,” ujar dr. Fakhruzzabadi.
Menurutnya, momen tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga.
Selama ini, banyak orang beranggapan bahwa orang tua yang mengetahui anaknya hamil di luar nikah akan langsung meluapkan amarah.
Namun, pengalaman yang ia saksikan justru menunjukkan sisi lain dari cinta orang tua.
Di balik rasa kecewa yang sangat besar, masih ada kasih sayang yang begitu tulus.
Sang ayah tidak bertanya siapa yang menghamili putrinya.
Tidak pula memikirkan rasa malu di hadapan masyarakat.
Yang pertama kali keluar dari hatinya justru penyesalan terhadap dirinya sendiri sebagai orang tua.
Kalimat “Bapak salah didik apa ke kamu?” menjadi gambaran betapa seorang ayah sering kali menyalahkan dirinya ketika melihat anaknya menghadapi persoalan besar dalam hidup.
Bagi dr. Fakhruzzabadi, pengalaman itu bukan sekadar kisah mengharukan.
Lebih dari itu, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa kehamilan remaja tidak hanya berdampak pada masa depan anak, tetapi juga meninggalkan luka emosional yang mendalam bagi seluruh keluarga.
Ia berharap kisah tersebut dapat menjadi renungan bagi para remaja yang sedang berada pada masa pencarian jati diri.
Menurutnya, keputusan yang diambil pada usia muda dapat membawa konsekuensi yang panjang, baik bagi diri sendiri maupun orang-orang yang paling mencintai mereka.
“Kalau kamu hamil di usia sekolah, bukan hanya masa depanmu yang berubah. Orang tuamu juga akan ikut menanggung luka yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya,” pesannya.
Sebagai dokter kandungan, ia mengaku semakin sering menemukan kasus kehamilan pada usia remaja.
Fenomena itu menjadi perhatian serius karena tidak hanya berkaitan dengan kesehatan ibu dan bayi, tetapi juga pendidikan, kondisi psikologis, serta masa depan keluarga.
Ia berharap semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat hingga pemerintah, dapat bersama-sama memperkuat pendidikan mengenai kesehatan reproduksi, membangun komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak, serta menciptakan lingkungan yang mampu melindungi remaja dari berbagai risiko pergaulan bebas maupun kekerasan seksual.
“Semoga kasus-kasus kehamilan anak bisa terus berkurang. Syukur-syukur suatu hari nanti tidak ada lagi anak-anak yang harus mengalami hal seperti ini,” tutupnya.
