Bontang – Temuan tiga kasus persalinan remaja dalam kurun waktu dua pekan (17 Mei-1 Juni 2026) di Kota Bontang memantik perhatian serius tenaga kesehatan maupun kalangan legislatif. Fenomena tersebut dinilai bukan sekadar persoalan kesehatan reproduksi, tetapi juga berkaitan dengan pembinaan moral generasi muda yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Fakhruzzabadi, SpOG, mengungkapkan seluruh kasus yang ia tangani memiliki pola yang hampir sama. Para remaja datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan nyeri perut hebat. Setelah diperiksa, mereka ternyata sudah memasuki proses persalinan.
“Dalam dua minggu terakhir saya membantu tiga persalinan anak-anak usia belasan tahun. Bahkan ada yang baru berusia 15 tahun. Mereka datang ke rumah sakit karena mengeluh sakit perut hebat, bukan karena mengetahui dirinya akan melahirkan,” ujar dr. Fakhruzzabadi.
Ia mengatakan sebagian besar keluarga tidak mengetahui kondisi kehamilan anak mereka. Bahkan saat dilakukan wawancara medis, para pasien awalnya tidak mengakui pernah melakukan hubungan seksual sehingga kehamilan tidak pernah mendapatkan pengawasan sejak dini.
“Orang tuanya tidak tahu kalau anaknya hamil. Bahkan ketika ditanya berulang kali, mereka tidak mengakui pernah melakukan hubungan seksual. Akibatnya kehamilan tidak dipantau dan baru diketahui saat persalinan,” katanya.
Menurut dr. Fakhruzzabadi, persoalan tersebut membawa dampak serius terhadap kesehatan bayi. Dari tiga persalinan yang ditanganinya, seluruh bayi lahir dengan berat badan rendah. Dua bayi berhasil diselamatkan, sementara satu bayi meninggal dunia karena lahir dengan berat badan yang sangat rendah.
“Dari tiga bayi yang lahir, semuanya berat badan lahir rendah. Dua bayi selamat, sedangkan satu bayi tidak bisa diselamatkan karena berat badannya sangat kecil,” ungkapnya.
Ia menjelaskan kehamilan yang tidak direncanakan dan tidak dipantau membuat ibu remaja umumnya tidak memperoleh asupan gizi yang cukup, tidak rutin memeriksakan kehamilan, serta tidak mengonsumsi vitamin sesuai anjuran. Kondisi tersebut meningkatkan risiko bayi lahir prematur maupun mengalami berat badan lahir rendah yang berpotensi menjadi awal terjadinya stunting.
“Pemerintah sedang serius menurunkan angka stunting. Tetapi kita juga harus melihat akar persoalannya. Bayi yang lahir prematur atau berat badan lahir rendah inilah yang berpotensi menjadi cikal bakal stunting di masa depan,” tegasnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota Komisi A DPRD Kota Bontang, Saeful Rizal, menyatakan kasus kehamilan remaja sudah seharusnya menjadi perhatian bersama. Menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, penyelesaiannya tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga atau tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat.
“Tentu saja ini menjadi keprihatinan kita bersama. Seluruh elemen masyarakat harus ikut memberikan perhatian, mulai dari anak-anak remaja, terutama perempuan, orang tua, tokoh masyarakat, Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Kesehatan, MUI, kelompok-kelompok keagamaan, DPRD, hingga pemerintah daerah,” ujar Saeful Rizal.
Menurutnya, persoalan yang perlu mendapat perhatian utama adalah terjadinya dekadensi moral yang menjadi penyebab munculnya berbagai persoalan sosial, termasuk kehamilan pada usia sekolah.
“Kalau saya tekanannya pada dekadensi moralnya. Soal anak lahir dengan kondisi kurang sehat atau berpotensi mengalami gangguan pertumbuhan, itu merupakan konsekuensi dari persoalan yang terjadi sebelumnya,” katanya.
Saeful menilai pembinaan terhadap generasi muda tidak cukup hanya melalui imbauan atau nasihat. Ia mendorong pemerintah dan masyarakat menyediakan lebih banyak ruang kegiatan positif agar remaja dapat menyalurkan energi, waktu, dan kreativitas pada aktivitas yang bermanfaat.
“Kita tidak cukup hanya memberi nasihat. Harus ada fasilitas dan kegiatan yang membuat anak-anak muda fokus pada hal-hal yang bermanfaat bagi diri mereka dan masa depan mereka,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa apabila persoalan moral di kalangan generasi muda tidak segera ditangani, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh individu maupun keluarga, tetapi dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Kalau kita melihat secara lebih luas, persoalan ini bisa mengancam keberlangsungan bangsa. Suatu saat estafet kepemimpinan negara akan berada di tangan generasi muda. Karena itu, mereka harus dipersiapkan tidak hanya secara intelektual, tetapi juga memiliki moralitas yang kuat,” tuturnya.
Di tingkat daerah, Saeful berharap seluruh pihak segera memperkuat kolaborasi dalam membina remaja melalui pendidikan karakter, penguatan fungsi keluarga, edukasi kesehatan reproduksi, serta penyediaan kegiatan yang mampu mengarahkan anak-anak muda pada aktivitas yang produktif.
Kasus yang diungkap dr. Fakhruzzabadi menjadi pengingat bahwa persoalan kehamilan remaja memiliki dampak luas, mulai dari kesehatan ibu dan bayi hingga kualitas generasi mendatang. Sinergi keluarga, sekolah, pemerintah, organisasi keagamaan, dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk mencegah kasus serupa terus berulang di Kota Bontang.
