Bontang – Tiga kasus persalinan remaja yang ditangani dalam waktu hanya dua pekan (17 Mei-1 Juni 2026) menjadi perhatian serius dr. Fakhruzzabadi, SpOG. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi itu menilai fenomena tersebut bukan sekadar persoalan kehamilan di usia sekolah, tetapi juga ancaman nyata terhadap kualitas generasi yang akan datang.
Menurut dr. Fakhruzzabadi, seluruh kasus yang ia tangani memiliki pola yang hampir sama. Para remaja datang ke instalasi gawat darurat rumah sakit dengan keluhan nyeri perut hebat. Setelah dilakukan pemeriksaan, mereka ternyata sedang dalam proses persalinan. Yang lebih memprihatinkan, orang tua mengaku tidak mengetahui anaknya hamil.
“Dalam dua minggu terakhir saya membantu tiga persalinan anak-anak usia belasan tahun. Bahkan ada yang baru berusia 15 tahun. Mereka datang ke rumah sakit karena mengeluh sakit perut hebat, bukan karena mengetahui dirinya akan melahirkan,” ujar dr. Fakhruzzabadi kepada media ini, Minggu (5/7/2026).
Ia mengungkapkan, saat dilakukan wawancara medis, sebagian besar pasien maupun keluarganya sempat menyangkal adanya riwayat hubungan seksual. Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan masih rendahnya keterbukaan komunikasi antara anak dan orang tua mengenai kesehatan reproduksi.
“Orang tuanya tidak tahu kalau anaknya hamil. Bahkan ketika ditanya berulang kali, mereka tidak mengakui pernah melakukan hubungan seksual. Tentu itu membuat penanganan menjadi lebih sulit karena kehamilan tidak pernah dipantau sejak awal,” katanya.
Bagi dr. Fakhruzzabadi, persoalan utama bukan hanya kehamilan di usia remaja, melainkan dampak yang harus ditanggung ibu dan bayi setelah proses persalinan berlangsung. Ia menilai masa depan para remaja tersebut berpotensi terganggu karena harus meninggalkan pendidikan dan menghadapi tanggung jawab sebagai orang tua di usia yang belum matang.
“Yang paling saya tekankan sebenarnya bukan sekadar anak sekolah yang hamil. Masa depan mereka tentu menjadi taruhannya. Namun kita juga harus memikirkan bayi-bayi yang mereka lahirkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tiga bayi yang lahir dari kasus tersebut seluruhnya memiliki berat badan lahir rendah. Dua bayi berhasil diselamatkan dengan berat badan sekitar dua kilogram, sementara satu bayi meninggal dunia karena lahir dengan kondisi berat badan yang sangat rendah.
“Dari tiga bayi yang lahir, semuanya berat badan lahir rendah. Dua bayi selamat, sedangkan satu bayi tidak bisa diselamatkan karena berat badannya sangat kecil,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi itu tidak terlepas dari minimnya perawatan kehamilan. Kehamilan yang disembunyikan membuat ibu tidak menjalani pemeriksaan rutin, tidak mengonsumsi vitamin kehamilan, serta tidak mendapatkan edukasi mengenai kebutuhan gizi selama mengandung.
“Ibu yang masih anak-anak tentu belum memahami pentingnya menjaga kehamilan. Banyak yang tidak minum vitamin, tidak kontrol ke fasilitas kesehatan, sehingga bayi berisiko lahir prematur atau dengan berat badan lahir rendah,” jelasnya.
Dr. Fakhruzzabadi juga mengaitkan fenomena tersebut dengan upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting. Menurutnya, bayi dengan berat badan lahir rendah merupakan kelompok yang memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan pertumbuhan apabila tidak mendapat penanganan yang tepat sejak awal kehidupan.
“Pemerintah sedang sangat serius menekan angka stunting melalui berbagai program. Tetapi kita juga harus melihat akar persoalannya. Bayi yang lahir prematur atau berat badan lahir rendah inilah yang berpotensi menjadi cikal bakal stunting di masa depan,” katanya.
Ia menambahkan, pemberian makanan bergizi setelah bayi lahir tidak akan sepenuhnya menyelesaikan persoalan apabila faktor risiko sejak masa kehamilan tidak diatasi.
“Kalau bayi sudah lahir dalam kondisi seperti itu, kemudian hanya mengandalkan program makan bergizi, saya rasa itu belum cukup menyelesaikan masalah. Pencegahan harus dimulai jauh sebelum bayi dilahirkan,” tegasnya.
Karena itu, ia berharap seluruh pihak meningkatkan perhatian terhadap kesehatan reproduksi remaja. Orang tua diminta membangun komunikasi yang terbuka dengan anak, sekolah memperkuat edukasi kesehatan reproduksi, sementara pemerintah diharapkan terus memperluas program pencegahan kehamilan usia anak melalui pendekatan edukatif dan pendampingan keluarga.
“Semoga ini menjadi perhatian kita semua. Perhatian orang tua, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Kita harus mencari solusi terbaik agar kejadian seperti ini tidak terus berulang dan tidak semakin banyak bayi yang lahir dengan risiko kesehatan yang tinggi,” tutup dr. Fakhruzzabadi.
Fenomena yang diungkap dokter spesialis kandungan tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan stunting tidak hanya dilakukan setelah anak lahir, tetapi harus dimulai dari pencegahan kehamilan usia remaja, peningkatan edukasi kesehatan reproduksi, serta penguatan peran keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
