Jakarta – Krisis lingkungan tidak semata lahir dari kemajuan industri atau keterbatasan teknologi. Akar persoalannya justru berada pada cara manusia memandang alam sebagai objek yang dapat dikuasai dan dieksploitasi. Gagasan itulah yang menjadi benang merah Sesi 1 ILERION bertema “Eco-Feminisme sebagai Kritik terhadap Budaya Eksploitasi serta Menawarkan Cara Pandang Kurikulum Fotosintesis Tjokronesia yang Lebih Adil dalam Relasi Manusia dan Alam” pada Jumat (27/6/2026).
Diskusi menghadirkan Presiden KSP BCM Jakarta, Aldilla Saeba, sebagai moderator, serta dua narasumber, Naila Grace dari GMNI IPB Bogor dan Cala Anstasya selaku Ketua Bidang Ideologi GMNI UIN Jakarta. Ketiganya mengajak peserta melihat krisis ekologis sebagai persoalan paradigma yang perlu dijawab melalui pendidikan, perubahan nilai, dan pembentukan karakter, bukan hanya melalui inovasi teknologi.
Sejak awal diskusi, ecofeminisme dipaparkan sebagai sebuah paradigma yang telah berkembang jauh melampaui pemahaman umum tentang perjuangan perempuan. Konsep tersebut kini dipahami sebagai cara pandang yang menempatkan manusia sebagai bagian dari ekosistem kehidupan yang saling bergantung, bukan sebagai penguasa atas alam.
Paradigma tersebut sekaligus mengkritik cara berpikir antroposentris yang selama ini menempatkan kepentingan manusia di atas seluruh makhluk hidup. Dalam perspektif ecofeminisme, keberlanjutan kehidupan hanya dapat terwujud apabila hubungan manusia dengan alam dibangun atas dasar kesetaraan, penghormatan, dan tanggung jawab bersama.
Naila Grace menjelaskan bahwa berbagai bentuk ketidakadilan pada dasarnya memiliki akar yang sama melalui konsep interconnectedness. Menurutnya, diskriminasi terhadap perempuan, eksploitasi lingkungan, rasisme, hingga ketimpangan sosial tidak muncul sebagai persoalan yang berdiri sendiri, melainkan berasal dari budaya dominasi yang menganggap satu pihak berhak mengendalikan pihak lain.
“Ketika manusia merasa memiliki hak untuk menguasai sesamanya, pola pikir yang sama juga muncul dalam cara manusia memperlakukan alam,” ujar Naila Grace dalam diskusi ILERION di Jakarta, Jumat (27/6/26).
Penjelasan tersebut sekaligus meluruskan anggapan bahwa ecofeminisme hanya membahas isu perempuan. Dalam diskusi ditegaskan bahwa perempuan memang sering dijadikan contoh karena secara historis mengalami posisi subordinat, tetapi substansi ecofeminisme sesungguhnya adalah kritik terhadap seluruh bentuk relasi yang eksploitatif, baik antarmanusia maupun antara manusia dan alam.
Moderator Aldilla Saeba kemudian mengangkat pertanyaan mengenai penyebab utama krisis ekologis saat ini. Apakah kerusakan lingkungan dipicu oleh keterbatasan teknologi atau justru oleh cara pandang manusia terhadap alam.
Menanggapi hal itu, narasumber sepakat bahwa teknologi bukanlah penyebab utama. Kerusakan lingkungan lebih banyak lahir dari paradigma yang memandang alam semata-mata sebagai sumber daya ekonomi tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekosistem.
Pandangan tersebut memperkuat kesimpulan bahwa krisis lingkungan pada dasarnya merupakan krisis cara berpikir sebelum menjadi krisis teknologi. Inovasi secanggih apa pun dinilai tidak akan mampu menyelesaikan persoalan apabila paradigma eksploitatif masih menjadi dasar pengambilan keputusan.
Diskusi juga menyoroti dampak industrialisasi terhadap hubungan manusia dengan alam. Pesatnya perkembangan pasar modern membuat banyak orang memperoleh hampir seluruh kebutuhan hidup melalui rantai distribusi yang panjang tanpa lagi memahami proses alam yang menghasilkan pangan, air, maupun berbagai kebutuhan sehari-hari.
Kondisi itu dinilai menciptakan keterasingan manusia dari lingkungan sekitarnya. Salah satu analogi yang digunakan dalam diskusi adalah pepatah, “Tak kenal maka tak sayang.” Semakin jauh manusia mengenal alam, semakin kecil pula kepeduliannya untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Dalam konteks tersebut, Kurikulum Fotosintesis Tjokronesia dipandang memiliki titik temu yang kuat dengan nilai-nilai ecofeminisme. Jika ecofeminisme menawarkan kerangka etis mengenai hubungan manusia dengan alam, maka Kurikulum Fotosintesis berupaya menerjemahkan nilai tersebut ke dalam praktik pendidikan yang membentuk karakter peserta didik.
Cala Anstasya menjelaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan mengenai lingkungan. Pendidikan juga perlu membangun kesadaran ekologis melalui pengalaman, kebiasaan, dan pembentukan nilai sehingga peserta didik memahami bahwa alam merupakan mitra kehidupan yang harus dihormati.
“Kesadaran ekologis harus tumbuh sebagai bagian dari karakter, bukan sekadar pengetahuan yang dihafalkan,” ujar Cala Anstasya dalam diskusi ILERION di Jakarta, Jumat (27/6/26).
Kesamaan antara ecofeminisme dan Kurikulum Fotosintesis terlihat pada tujuan keduanya yang sama-sama menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, membangun hubungan harmonis dengan alam, memperkuat tanggung jawab ekologis, serta mengajarkan penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup.
Pembahasan kemudian bergeser pada tantangan implementasi. Para narasumber menilai persoalan terbesar bukan terletak pada pemahaman teori, melainkan pada konsistensi menjalankan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kepedulian terhadap lingkungan sering kali hanya muncul sebagai respons sesaat terhadap bencana atau isu yang sedang ramai diperbincangkan.
Karena itu, perubahan besar dinilai harus dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara berulang, mulai dari menjaga lingkungan sekitar, mengurangi perilaku konsumtif, hingga membangun hubungan yang lebih dekat dengan alam.
Salah satu pesan yang mendapat perhatian peserta adalah pentingnya mindfulness terhadap lingkungan. Kesadaran ekologis tidak harus dimulai dari aktivitas besar seperti menjelajahi hutan, melainkan dapat tumbuh melalui perhatian terhadap pohon di halaman rumah, udara pagi, suara burung, atau berbagai unsur alam yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pendekatan tersebut, Sesi 1 ILERION menegaskan bahwa solusi atas krisis lingkungan tidak cukup mengandalkan teknologi maupun kebijakan semata. Perubahan harus dimulai dari cara manusia memandang dirinya sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang saling bergantung.
Diskusi ini menjadi fondasi bagi pembahasan sesi berikutnya dengan menempatkan pendidikan sebagai ruang strategis untuk membentuk generasi yang tidak hanya memahami persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki karakter, empati, dan tanggung jawab ekologis. Ecofeminisme dan Kurikulum Fotosintesis Tjokronesia dipertemukan sebagai pendekatan yang sama-sama berupaya membangun relasi yang lebih adil antara manusia dan alam demi keberlanjutan kehidupan bersama.
