Malang – Laut ibarat halaman terakhir dari sebuah buku panjang aktivitas manusia. Apa yang terjadi di daratan pada akhirnya akan bermuara ke sana. Gambaran tersebut menjadi pesan utama yang disampaikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya melalui podcast UBTV bertema “Kemana Arah Maritim Indonesia? Banyak Ekosistem Ikan yang Tidak Pada Tempatnya”. Dalam diskusi itu, dosen sekaligus peneliti FPIK UB, Prof. Ir. Aida Sartimbul, M.Sc., Ph.D., menyoroti semakin besarnya ancaman terhadap sektor maritim Indonesia akibat perubahan ekosistem, pencemaran lingkungan, hingga tekanan aktivitas manusia yang berlangsung tanpa kendali memadai.
Melalui podcast tersebut, Prof. Aida menjelaskan berbagai persoalan yang dihadapi ekosistem perairan Indonesia. Salah satu contoh yang diangkat ialah keberadaan ikan sapu-sapu yang kini banyak dijumpai di saluran air dan perairan yang telah tercemar. Spesies yang awalnya dikenal sebagai ikan hias itu memiliki kemampuan adaptasi tinggi sehingga mampu berkembang di alam bebas dan mendominasi habitat tertentu. Fenomena tersebut menjadi gambaran nyata terjadinya perubahan keseimbangan ekosistem akibat campur tangan manusia.
“Ikan sapu-sapu sangat adaptif dan mampu bertahan di lingkungan tercemar. Ketika dilepas ke alam, ukurannya bahkan bisa jauh lebih besar dibanding saat dipelihara di akuarium,” ujarnya.
Selain fenomena tersebut, Prof. Aida menegaskan bahwa kondisi laut Indonesia sangat dipengaruhi oleh aktivitas yang berlangsung di wilayah daratan. Menurutnya, kerusakan hutan, pencemaran sungai, hingga buruknya pengelolaan limbah dari kawasan hulu akan memberikan dampak besar terhadap kualitas lingkungan laut karena seluruh aliran air pada akhirnya bermuara ke perairan pesisir dan lautan.
“Laut itu end of everything. Semua aktivitas manusia, mulai dari hulu sampai hilir, pada akhirnya akan berakhir ke laut. Kalau pengelolaan di hulu tidak baik, maka laut yang akan menerima dampaknya paling besar,” jelas Prof. Aida.
Ia juga menilai masih banyak masyarakat yang belum memahami keterkaitan antara sungai dan laut. Sungai yang selama ini sering diperlakukan sebagai tempat pembuangan sampah sesungguhnya merupakan habitat berbagai organisme serta bagian penting dari rantai ekosistem perairan yang saling terhubung.
“Orang sering melihat sungai hanya sebagai tempat membuang sampah, padahal sungai juga habitat bagi banyak organisme. Apa yang terjadi di sungai akan sangat memengaruhi kondisi laut,” katanya.
Fenomena perubahan ekosistem ini juga berdampak langsung terhadap sektor perikanan dan masyarakat pesisir. Pergeseran habitat ikan menyebabkan ketidakstabilan hasil tangkapan nelayan, menurunkan produktivitas perikanan, serta berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional.
Dalam podcast tersebut, Prof. Aida menekankan pentingnya penguatan kebijakan maritim berbasis riset ilmiah, konservasi lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga biodiversitas laut Indonesia di tengah ancaman perubahan iklim dan tekanan aktivitas manusia.
Podcast ini menjadi bagian dari kontribusi akademik FPIK UB dalam meningkatkan literasi maritim masyarakat sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 14 tentang Ekosistem Laut, SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, serta SDG 15 tentang Menjaga Ekosistem Daratan melalui pengelolaan lingkungan dari hulu hingga hilir secara berkelanjutan.
