Pasuruan – Becak wisata selama ini menjadi salah satu wajah khas Kota Pasuruan yang akrab dengan para peziarah dan wisatawan. Namun, di balik perannya sebagai transportasi tradisional yang sarat nilai budaya, aspek ketertiban dan keselamatan menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Ibarat denyut nadi pariwisata, keberadaan becak wisata dituntut tetap berjalan selaras dengan aturan dan keamanan pengguna jasa.
Dinas Perhubungan Kota Pasuruan melalui Sekretaris Dishub, Hermanto, menggelar pertemuan bersama para pengemudi becak wisata pada Rabu (3/6/2026). Pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh dialog tersebut dilakukan sebagai upaya memperkuat penataan sekaligus meningkatkan keselamatan operasional becak wisata di Kota Pasuruan. Berbagai persoalan yang selama ini muncul di lapangan turut menjadi bahan pembahasan, mulai dari ketertiban operasional hingga perlindungan terhadap penumpang maupun pengemudi.
Menurut Hermanto, keberadaan becak wisata memiliki nilai strategis sebagai sarana transportasi tradisional sekaligus pendukung sektor pariwisata. Karena itu, pengoperasiannya harus tetap mengikuti ketentuan yang berlaku agar tidak menimbulkan gangguan terhadap pengguna jalan lainnya.
“Becak wisata harus tetap tertib dan tidak mengganggu lalu lintas. Kita ingin mereka tetap menjadi daya tarik kota, tapi juga aman dan sesuai regulasi,” ujar Hermanto.
Dalam kesempatan tersebut, Hermanto juga memberikan perhatian khusus terhadap perilaku berkendara para pengemudi becak wisata. Ia menekankan agar praktik berkendara secara ugal-ugalan maupun kebut-kebutan tidak lagi terjadi, terutama ketika mengantar para peziarah menuju kawasan religi di sekitar Masjid Jami’ Al-Anwar.
“Ke depan, tidak boleh ada lagi becak wisata yang ugal-ugalan atau kebut-kebutan, apalagi saat membawa jamaah peziarah menuju makam para wali dan habaib di kawasan Masjid Jami’ Al-Anwar. Keselamatan penumpang adalah yang utama,” tegasnya.
Hermanto menjelaskan, kawasan Masjid Jami’ Al-Anwar merupakan salah satu tujuan wisata religi yang memiliki tingkat kunjungan cukup tinggi. Kondisi tersebut menuntut para pengemudi becak untuk lebih berhati-hati dan mengutamakan keselamatan selama melayani para peziarah.
Selain aspek keselamatan, Dishub Kota Pasuruan juga menyoroti perlunya pembinaan secara berkelanjutan. Pasalnya, masih ditemukan sejumlah pelanggaran di lapangan, mulai dari penggunaan jalur yang tidak sesuai hingga adanya modifikasi kendaraan yang berpotensi membahayakan keselamatan.
Dalam pertemuan itu, para pengemudi becak wisata juga diimbau untuk terus menjaga citra Kota Pasuruan melalui pelayanan yang ramah kepada wisatawan. Kebersihan dan kerapian kendaraan pun menjadi bagian penting yang harus diperhatikan agar memberikan kesan positif bagi para pengunjung.
Ke depan, Dinas Perhubungan Kota Pasuruan berencana melakukan penataan lanjutan, di antaranya melalui penentuan titik operasional, penggunaan atribut seragam, serta pendataan ulang para pengemudi becak wisata. Langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan sistem transportasi tradisional yang lebih tertib, terorganisasi, dan mampu mendukung perkembangan sektor pariwisata daerah.
Hermanto berharap para pengemudi becak wisata dapat menjadi mitra pemerintah dalam menghadirkan layanan transportasi yang aman dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan. Dengan pembinaan yang berkesinambungan, becak wisata diharapkan tetap menjadi ikon Kota Pasuruan yang berdaya saing sekaligus menjunjung tinggi keselamatan pengguna jasa.
