Ada saat-saat tertentu dalam hidup ketika kita tiba-tiba merasa dunia berubah menjadi asing. Jalan yang dulu terasa terang mendadak redup. Orang-orang yang dulu hangat mulai dingin. Kata-kata yang dulu lembut kini terdengar tajam. Kita hidup di tengah keramaian, tetapi hati sering merasa sunyi.
Mungkin bukan dunianya yang berubah terlalu cepat. Bisa jadi, lampu-lampu kehidupan itu memang sedang padam satu demi satu.
Dikisahkan dalam beberapa ceramah ulama, ketika Rasulullah ﷺ menjalani perjalanan Isra’ dan Mi’raj, beliau melihat sekumpulan orang tua renta berjalan tertatih-tatih. Tubuh mereka gemetar, langkah mereka lemah, seolah menahan berat usia yang panjang. Nabi ﷺ kemudian bertanya kepada Malaikat Jibril, “Wahai Jibril, siapakah mereka?”
Jibril menjawab, “Itulah gambaran dunia, wahai Rasulullah. Dunia yang semakin tua.”
Betapa dalam makna itu.
Dunia yang kita tempati hari ini memang sedang menua. Bukan hanya umur bumi yang bertambah, tetapi juga luka-lukanya. Manusia semakin cerdas, tetapi hati semakin mudah keras. Bangunan makin tinggi, tetapi kepedulian makin rendah. Teknologi berkembang cepat, tetapi ketenangan makin sulit didapat.
Dan di tengah semua perubahan itu, hanya Allah yang tetap kekal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Ar-Rahman ayat 26–27:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”
Segala yang kita genggam suatu hari akan lepas. Jabatan akan selesai. Wajah muda akan menua. Rumah akan ditinggalkan. Bahkan tubuh yang setiap hari kita rawat pun suatu saat akan kembali menjadi tanah.
Namun ada yang lebih mengkhawatirkan daripada dunia yang menua yakni hati manusia yang kehilangan cahaya.
Dunia Tidak Gelap Seketika, Tapi Redup Perlahan
Ada sebuah kisah yang begitu menyentuh.
Suatu ketika Rasulullah ﷺ bertanya kepada Jibril, “Jika aku telah wafat, apakah engkau masih turun ke bumi?”
Jibril menjawab, “Aku masih turun, ya Rasulullah. Karena Allah memerintahkanku untuk mencabut misbahul hayah, lampu-lampu kehidupan.”
Bayangkan sejenak. Jika sebuah kota kehilangan lampu-lampunya, maka jalan menjadi gelap. Orang mudah tersesat. Mana jalan benar dan mana jurang menjadi sulit dibedakan.
Begitulah manusia ketika cahaya dalam hatinya mulai padam. Yang halal dan haram bercampur. Yang benar dianggap salah. Yang salah justru dibela mati-matian. Orang tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu baik atau buruk. Yang penting menguntungkan.
Dan menurut kisah itu, ada tiga lampu besar yang perlahan akan dicabut dari kehidupan manusia.
- Lampu pertama adalah syukur.
- Lampu kedua adalah sabar.
- Lampu ketiga adalah kasih sayang.
Lampu Pertama yang Mulai Redup Adalah Bersyukur
Kita hidup di masa ketika manusia sangat mudah merasa kurang. Padahal mungkin makan masih tiga kali sehari. Masih punya tempat pulang. Masih bisa tertawa bersama keluarga. Masih bisa melihat langit pagi.
Tetapi hati tetap gelisah. Kenapa? Karena mata terlalu sering melihat ke atas.
Media sosial membuat banyak orang sibuk membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Melihat teman membeli mobil baru, hati langsung resah. Melihat orang lain liburan, hidup terasa gagal. Melihat pencapaian orang lain, kita lupa mensyukuri langkah sendiri.
Padahal, rasa syukur bukan tentang seberapa banyak yang kita punya. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Manusia memang tidak pernah selesai dengan keinginannya. Karena itu, syukur bukan sekadar ucapan “alhamdulillah” di bibir. Syukur adalah kemampuan hati untuk merasa cukup.
Para ulama pernah berkata:
“Syukur bukan melihat besar kecilnya nikmat, tetapi melihat siapa yang memberi nikmat.”
Kalimat ini sederhana, tetapi dalam sekali.
Jika kita sadar bahwa udara yang kita hirup adalah pemberian Allah, maka bernapas pun terasa mewah. Jika kita sadar bahwa tubuh sehat adalah karunia-Nya, maka bangun pagi tanpa rasa sakit adalah nikmat besar.
Allah berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
Banyak orang mengira kebahagiaan datang setelah memiliki segalanya. Padahal sering kali kebahagiaan hadir ketika kita mulai mensyukuri apa yang sudah ada. Maka sebelum tidur malam ini, coba tanyakan kepada diri sendiri:
Sudahkah aku berterima kasih kepada Allah hari ini?
Lampu Kedua yang Mulai Padam Adalah Sabar
Kita hidup di zaman yang serba cepat. Pesan harus dibalas cepat. Kesuksesan harus datang cepat. Hasil harus instan. Semua orang ingin segera sampai, tetapi sedikit yang siap menjalani proses.
Akibatnya, manusia menjadi mudah marah. Lihat saja media sosial hari ini. Sedikit berbeda pendapat langsung saling menghina. Sedikit tersinggung langsung memutus hubungan. Lidah menjadi tajam, jari menjadi panas.
Padahal sabar bukan tanda kelemahan. Sabar justru adalah bukti bahwa seseorang mampu mengendalikan dirinya sendiri. Dalam Islam, sabar bukan berarti diam tanpa usaha. Sabar adalah tetap tenang ketika badai datang. Tetap menjaga adab saat disakiti. Tetap memilih baik meski diperlakukan buruk.
Allah berfirman:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34)
Ada kisah indah tentang Rasulullah ﷺ.
Beliau pernah memiliki tetangga Yahudi yang setiap hari melemparkan kotoran ke depan rumah beliau. Namun Nabi tidak pernah membalas dengan kemarahan. Suatu hari, kotoran itu tidak ada.
Rasulullah ﷺ justru bertanya, “Ke mana orang itu?”
Ternyata tetangganya sedang sakit. Apa yang dilakukan Nabi? Beliau datang menjenguknya sambil membawa makanan.
Tetangga itu menangis. Ia tidak menyangka orang yang selama ini ia sakiti justru datang membawa kebaikan. Hingga akhirnya hatinya luluh dan ia masuk Islam.
Subhanallah.
Kadang yang paling mampu mengubah manusia bukan kemarahan, melainkan kelembutan. Sabar memang tidak mudah. Menahan emosi terasa berat. Tetapi Allah memberikan janji luar biasa:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Bukan sekadar melihat. Allah bersama mereka. Dan bukankah itu cukup untuk membuat hati kuat?
Lampu Ketiga yang Paling Menyedihkan Yakni Kasih Sayang
Inilah lampu yang mungkin paling banyak redup hari ini, kasih sayang. Manusia sekarang makin terkoneksi, tetapi makin jauh satu sama lain. Kita bisa mengetahui kabar orang di negara lain dalam hitungan detik, tetapi tidak tahu tetangga sendiri sedang kesusahan.
Ada orang yang hidup sendiri bertahun-tahun tanpa dipedulikan. Ada lansia yang sakit tanpa ditemani. Ada anak-anak yang tumbuh tanpa pelukan hangat. Dunia menjadi ramai, tetapi hati manusia perlahan kosong.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kasih sayang itu sebenarnya sederhana. Kadang hanya berupa senyuman kecil. Menanyakan kabar seseorang. Membantu tanpa diminta. Mendengarkan cerita orang lain tanpa sibuk menghakimi. Tetapi hal-hal sederhana itu sekarang terasa mahal.
Padahal Rasulullah ﷺ adalah manusia paling lembut hatinya. Beliau menyayangi anak kecil, menghormati orang tua, memuliakan tetangga, bahkan mendoakan orang yang menyakitinya.
Lalu bagaimana dengan kita?
Sering kali kita lebih mudah marah daripada memahami. Lebih cepat menghakimi daripada menolong. Padahal mungkin dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang pintar. Dunia membutuhkan lebih banyak hati yang peduli.
Menyalakan Lagi Cahaya yang Hampir Padam
Saudaraku yang dirahmati Allah…
Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia sepenuhnya. Kita tidak mampu menghentikan semua keburukan. Kita tidak bisa membuat semua orang menjadi baik.
Tetapi setidaknya, kita bisa menjaga satu hati agar tetap bercahaya yakni hati kita sendiri. Mulailah dari hal-hal kecil.
- Belajar bersyukur atas napas yang masih Allah titipkan.
- Belajar sabar menghadapi manusia yang tidak selalu memahami kita.
- Belajar peduli kepada orang-orang di sekitar.
Karena cahaya tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Kadang ia lahir dari kebaikan-kebaikan sederhana yang dilakukan terus-menerus.
Jangan malu menjadi orang baik di tengah dunia yang kasar. Jangan takut tetap lembut di tengah manusia yang keras. Jangan lelah menolong meski tidak selalu dihargai. Sebab bisa jadi, di saat banyak lampu mulai padam, Allah memilih hatimu untuk tetap menyala.
Dan semoga ketika dunia semakin gelap, kita termasuk orang-orang yang masih membawa cahaya. Cahaya syukur. Cahaya sabar. Cahaya kasih sayang. Sampai akhirnya kita pulang kepada Allah dalam keadaan hati yang terang.
Aamiin.
Salah satu serial dalam buku Embun Hikmah Bersama Alm Ustadz Untung S.Pd,,“Wejangan Ringan, Penyejuk Hati dan Penguat Iman”,disusun oleh Riyawan S. Hut.
