Setiap hari Jumat, ada sesuatu yang berbeda dari hari-hari lainnya. Udara terasa lain. Langkah menuju masjid terasa lebih tenang. Dan adzan yang berkumandang seakan membawa getaran yang menyentuh bagian terdalam dari hati manusia.
Bagi sebagian orang, Jumat mungkin hanya pergantian hari biasa dalam kalender. Tetapi bagi seorang mukmin, Jumat adalah undangan istimewa dari Allah.
Undangan yang bukan sekadar memanggil tubuh untuk datang ke masjid, tetapi juga memanggil jiwa untuk kembali mengingat tujuan hidupnya. Ada orang yang mendengar adzan Jumat hanya sebagai suara pengeras masjid.
Tetapi ada pula yang mendengarnya seperti panggilan pulang. Pulang dari sibuknya dunia. Pulang dari penatnya urusan hidup. Pulang menuju tempat di mana hati kembali tenang. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka Allah akan memahamkannya tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Memahami agama bukan hanya tentang banyak hafalan atau panjangnya ceramah. Tetapi tentang hati yang mulai mencintai kebaikan. Tentang jiwa yang merasa rindu ketika jauh dari masjid.
Dan tentang langkah yang terasa ringan ketika dipanggil menuju ibadah. Karena ketika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, Allah akan membuat hatinya nyaman berada dekat dengan-Nya.
Jumat: Panggilan yang Tidak Boleh Diremehkan
Shalat Jumat bukan sekadar rutinitas mingguan. Ia adalah syiar besar dalam Islam. Karena itu Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai kewajiban bagi setiap muslim laki-laki yang baligh dan tidak memiliki uzur. Beliau bersabda:
الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيضٌ
“Shalat Jumat adalah kewajiban atas setiap muslim yang dilaksanakan berjamaah, kecuali empat golongan: budak, perempuan, anak kecil, dan orang sakit.” (HR. Abu Dawud)
Bayangkan…
Allah sampai memberikan pengecualian khusus bagi mereka yang memiliki uzur. Artinya, panggilan Jumat memang bukan sesuatu yang ringan untuk diabaikan.
Dan menariknya, ketika adzan Jumat berkumandang, Allah memerintahkan manusia meninggalkan urusan dunia untuk sementara waktu.
Allah berfirman dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 9–10:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi dan carilah karunia Allah, serta ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 9–10)
Perhatikan ayat ini baik-baik. Allah tidak melarang manusia bekerja. Tidak melarang berdagang. Tidak melarang mencari rezeki. Tetapi Allah ingin manusia belajar satu hal penting, bahwa dunia tidak boleh lebih besar daripada Allah di dalam hati kita.
Hanya Tiga Puluh Menit, Tapi Mengubah Arah Hati
Coba kita renungkan. Berapa lama sebenarnya shalat Jumat berlangsung? Mungkin hanya sekitar tiga puluh menit. Kadang bahkan kurang. Tiga puluh menit dari ribuan menit dalam satu pekan.
Namun mengapa masih ada manusia yang merasa berat meninggalkan pekerjaannya sebentar demi memenuhi panggilan Allah? Padahal mungkin selama seminggu penuh, hati kita sudah terlalu lelah oleh dunia.
Jumat sebenarnya adalah jeda yang Allah hadiahkan untuk membersihkan kembali jiwa manusia. Seperti ponsel yang harus diisi ulang dayanya. Seperti kendaraan yang perlu berhenti sejenak agar mesinnya tidak rusak.
Begitu pula hati manusia. Kalau terus dipaksa berjalan tanpa diisi dengan dzikir dan nasihat, ia akan kering perlahan. Karena itu khutbah Jumat bukan hanya formalitas. Di dalamnya ada pengingat.
Ada nasihat. Ada ayat-ayat Allah yang mungkin menjadi jawaban atas kegelisahan hidup kita. Mungkin ada orang datang ke masjid dengan hati penuh masalah, lalu pulang dengan dada yang jauh lebih ringan. Karena terkadang satu kalimat dari mimbar bisa menyelamatkan seseorang dari keputusasaan.
Ketika Dzikir dan Pikir Berjalan Bersama
Ada satu kisah yang sangat menyentuh dari Ummul Mukminin, Siti Aisyah radhiyallahu ‘anha. Suatu malam Rasulullah ﷺ shalat begitu lama hingga air mata beliau membasahi janggut dan sajadahnya.
Beliau menangis dalam rukuk. Menangis dalam sujud. Menangis ketika membaca ayat-ayat Allah. Ketika Bilal datang menjelang subuh dan melihat Rasulullah menangis, ia bertanya:
“Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang?”
Rasulullah ﷺ menjawab bahwa malam itu turun ayat yang luar biasa. Lalu beliau membaca Surah Ali Imran ayat 190–191:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, serta memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau, maka lindungilah kami dari siksa neraka.’” (QS. Ali Imran: 190–191)
Ayat ini berbicara tentang Ulul Albaab. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang bukan hanya cerdas otaknya, tetapi juga hidup hatinya.
Mereka berdzikir. Dan mereka berpikir. Mereka mengingat Allah, sekaligus merenungi ciptaan-Nya.
Ulul Albaab: Ketika Ilmu Membawa Manusia Semakin Dekat kepada Allah
Hari ini banyak orang pintar. Ada yang hebat dalam teknologi. Ada yang luar biasa dalam bisnis. Ada yang mampu menjelaskan rumus-rumus rumit. Tetapi tidak semua kecerdasan membawa manusia dekat kepada Allah.
Ulul Albaab berbeda. Mereka melihat langit lalu teringat kebesaran Allah. Mereka mempelajari ilmu pengetahuan lalu semakin yakin bahwa alam semesta ini tidak mungkin tercipta tanpa tujuan. Karena itu Islam tidak pernah memisahkan dzikir dan pikir.
Dzikir tanpa ilmu bisa membuat manusia sempit dalam memahami hidup. Tetapi ilmu tanpa dzikir bisa membuat manusia sombong dan kehilangan arah. Maka Ulul Albaab adalah manusia yang seimbang.
Lisannya basah dengan dzikir. Tetapi akalnya juga aktif mencari hikmah. Di masjid mereka mengingat Allah. Di kantor mereka tetap menjaga kejujuran karena Allah. Di laboratorium mereka meneliti dengan kesadaran bahwa ilmu adalah amanah dari Allah.
Subhanallah. Betapa indahnya ketika hati dan akal berjalan bersama.
Jumat Mengajarkan Kita Cara Menata Hidup
Kalau dipikir-pikir, Jumat sebenarnya mengajarkan manusia tentang keseimbangan hidup. Selama enam hari kita sibuk bekerja, mengejar target, berdagang, dan mengurus urusan dunia.
Lalu satu hari Allah memanggil kita untuk berhenti sejenak. Bukan untuk mematikan kehidupan. Tetapi untuk meluruskan kembali arah kehidupan. Seperti seorang musafir yang berhenti sebentar untuk memastikan ia masih berada di jalan yang benar.
Karena manusia yang terus mengejar dunia tanpa pernah berhenti mengingat Allah akan mudah kehilangan dirinya sendiri. Dan setelah shalat selesai, Allah mempersilakan manusia kembali bekerja.
“Bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah.”
Artinya Islam bukan agama yang memisahkan ibadah dan kehidupan. Bekerja bisa menjadi ibadah. Berdagang bisa menjadi ibadah. Belajar bisa menjadi ibadah. Asal hati tetap ingat kepada Allah.
Jadilah Orang yang Berlari Menuju Panggilan-Nya
Mungkin selama ini kita sering datang ke Jumat hanya karena kebiasaan. Datang. Duduk. Mendengar khutbah sambil sesekali melamun. Lalu pulang tanpa membawa perubahan apa pun.
Padahal Jumat adalah kesempatan untuk memperbaiki hati. Kesempatan untuk membersihkan dosa. Kesempatan untuk mengingat kembali bahwa hidup ini tidak akan selamanya. Karena itu jangan datang ke masjid hanya dengan tubuh.
Datanglah dengan hati yang rindu. Rindu kepada Allah. Rindu kepada ketenangan. Rindu menjadi manusia yang lebih baik. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang ketika adzan Jumat berkumandang, hati kita segera menjawab:
“Aku datang, ya Allah…”
Bukan karena terpaksa. Tetapi karena cinta.
Aamiin.
Salah satu serial dalam buku Embun Hikmah Bersama Alm Ustadz Untung S.Pd,,“Wejangan Ringan, Penyejuk Hati dan Penguat Iman”,disusun oleh Riyawan S. Hut.
