Pernahkah kita berdiri untuk sholat, tetapi pikiran justru sibuk ke mana-mana? Lisan membaca Al-Fatihah, tetapi kepala memikirkan pekerjaan. Tubuh rukuk, tetapi hati sibuk mengingat masalah.
Dahi sujud ke bumi, tetapi pikiran malah berjalan jauh entah ke mana. Kadang kita bahkan selesai sholat tanpa benar-benar sadar apa yang baru saja kita baca.
Dan anehnya, setelah salam, kita masih merasa kosong. Seolah ada sesuatu yang hilang. Padahal kita baru saja berdiri menghadap Allah. Di situlah kita mulai sadar bahwa ternyata sholat bukan sekadar gerakan. Karena bisa saja badan sedang sholat, tetapi hati tidak ikut hadir.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Mu’minun ayat 1–2:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2)
Perhatikan ayat itu. Allah tidak langsung mengatakan bahwa orang beriman itu beruntung karena hartanya, ilmunya, atau kedudukannya. Tetapi karena kekhusyuannya dalam sholat. Karena sholat yang khusyu’ bukan hanya menggerakkan tubuh. Ia menghidupkan jiwa.
Khusyu’: Ketika Hati Benar-Benar Datang Menghadap Allah
Banyak orang mengira khusyu’ berarti sholat yang lama. Padahal tidak selalu begitu. Khusyu’ adalah ketika hati benar-benar sadar kepada siapa ia sedang berdiri. Ia tahu bahwa saat itu dirinya sedang berbicara dengan Allah.
Bukan sekadar membaca hafalan. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Tetapi benar-benar datang sebagai seorang hamba yang penuh harap.
Khusyu’ itu seperti seorang anak kecil yang memeluk ibunya setelah lama ketakutan. Ada rasa aman. Ada rasa tenang. Ada rasa ingin dekat. Namun jujur saja, menjaga kekhusyu’an itu tidak mudah. Kadang kita baru saja mengangkat tangan untuk takbiratul ihram, lalu pikiran mulai berlari ke mana-mana.
- Masalah rumah.
- Rencana besok.
- Kenangan masa lalu.
- Tagihan
- Pekerjaan
Semuanya datang bersamaan. Dan ternyata Allah memang sudah memberi tahu bahwa menjaga sholat dengan hati yang hadir itu berat.
Allah berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ ﴿٤٥﴾ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴿٤٦﴾
“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 45–46)
Ayat ini sangat dalam. Allah mengatakan bahwa sholat terasa berat kecuali bagi orang-orang yang sadar bahwa hidup ini hanyalah perjalanan pulang menuju Allah. Karena bagi mereka, sholat bukan beban. Sholat adalah tempat pulang.
Semua Dimulai dari Wudhu
Kadang kita ingin sholat khusyu’, tetapi lupa mempersiapkan hati sebelum sholat dimulai. Padahal kekhusyu’an itu tidak muncul tiba-tiba. Ia dipersiapkan. Dan persiapan pertama dimulai dari wudhu.
Sayangnya, banyak dari kita berwudhu hanya sekadar membasahi anggota tubuh. Cepat-cepat. Tergesa-gesa. Tanpa penghayatan. Padahal wudhu bukan sekadar membersihkan badan. Ia juga sedang membersihkan hati. Ada sebuah syair indah yang sering dibacakan para ulama:
- Kubasuh tanganku, kusucikan perbuatanku.
- Kubasuh mulutku, kusucikan ucapanku.
- Kubasuh wajahku, kusucikan pandanganku.
- Kubasuh kepalaku, kusucikan pikiranku.
- Kubasuh telingaku, kusucikan pendengaranku.
- Kubasuh kakiku, kusucikan langkahku.
Subhanallah.
Betapa indah makna wudhu jika direnungkan. Setiap air yang jatuh dari tubuh seolah membawa pergi dosa-dosa kecil yang menempel dalam hidup kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟
“Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”
Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda:
إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ
“Menyempurnakan wudhu dalam keadaan sulit, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu sholat berikutnya setelah selesai sholat.” (HR. Muslim)
Jadi jangan remehkan wudhu. Karena bisa jadi kekhusyu’an sholat kita dimulai dari bagaimana kita menyentuh air wudhu dengan kesadaran hati.
Saat Takbir Dimulai, Dunia Harus Ditinggalkan
Ada satu momen luar biasa dalam sholat. Yaitu ketika kita mengangkat tangan dan mengucapkan:
“Allahu Akbar.”
Kalimat itu bukan hanya pembuka sholat. Ia adalah pernyataan besar, bahwa Allah lebih besar daripada semua yang sedang memenuhi kepala kita. Lebih besar dari masalah. Lebih besar dari rasa takut. Lebih besar dari dunia.
Saat takbir dimulai, sebenarnya kita sedang diminta meninggalkan segala urusan sejenak. Bukan berarti melupakan hidup. Tetapi memberi ruang bagi hati untuk fokus hanya kepada Allah. Allah berfirman dalam Surah Thaha ayat 14:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha: 14)
Perhatikan. Allah mengatakan:
“Dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku.”
Artinya inti sholat adalah menghadirkan Allah di dalam hati.
Ketika Al-Fatihah Menjadi Dialog dengan Langit
Mungkin banyak dari kita membaca Al-Fatihah setiap hari tanpa benar-benar menyadari betapa luar biasanya surat itu. Padahal Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ketika seorang hamba membaca Al-Fatihah, Allah menjawab setiap ayatnya.
Saat kita berkata:
“Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin…”
Allah menjawab:
“Hamba-Ku memuji-Ku.”
Saat kita berkata:
“Ar-Rahmanir Rahim…”
Allah menjawab:
“Hamba-Ku menyanjung-Ku.”
Subhanallah.
Bayangkan…
Dalam setiap rakaat, sebenarnya ada dialog antara hamba dengan Rabb-nya. Tetapi sayangnya, sering kali hati kita terlalu sibuk untuk menyadarinya.
Sholat yang Khusyu’ Akan Mengubah Cara Hidup
Khusyu’ bukan hanya terasa saat sholat berlangsung. Ia meninggalkan bekas setelah sholat selesai. Seperti hujan yang menyuburkan tanah. Seperti cahaya yang menerangi ruangan gelap.
Allah berfirman:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Bacalah Kitab yang telah diwahyukan kepadamu dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Artinya, sholat yang benar akan mempengaruhi perilaku manusia. Bukan berarti orang yang sholat langsung menjadi sempurna. Tidak. Tetapi setidaknya ada rasa malu ketika ingin berbuat dosa. Ada suara hati yang menahan. Karena hatinya baru saja berdiri menghadap Allah.
Kalau sholat tidak meninggalkan pengaruh apa pun dalam hidup kita, mungkin ada yang perlu diperbaiki dari cara kita menghadap-Nya. Jangan Putus Asa Jika Hati Masih Sering Lalai
Mungkin hari ini kita masih sering kehilangan fokus dalam sholat. Mungkin hati masih mudah berlari ke mana-mana. Tetapi jangan menyerah. Karena khusyu’ bukan sesuatu yang datang dalam semalam.
Ia dilatih. Sedikit demi sedikit. Dari wudhu yang lebih tenang. Dari bacaan yang mulai dipahami artinya. Dari kesadaran bahwa setiap sujud mungkin saja menjadi sujud terakhir kita di dunia.
Dan semakin seseorang mengenal Allah, semakin mudah hatinya khusyu’. Karena hati manusia pada dasarnya akan tenang ketika dekat dengan Penciptanya. Ketika Jiwa Bersujud, Itulah Saat Kita Benar-Benar Hidup
Pada akhirnya, sholat bukan hanya kewajiban lima waktu. Ia adalah hadiah. Hadiah agar manusia tidak tenggelam dalam dunia. Hadiah agar hati punya tempat pulang. Hadiah agar jiwa tetap hidup di tengah kerasnya kehidupan.
Maka jangan biarkan sholat hanya menjadi rutinitas yang lewat begitu saja. Jangan biarkan tubuh bersujud sementara hati tetap sibuk dengan dunia. Belajarlah menikmati setiap rakaat.
Nikmati setiap doa. Nikmati setiap sujud. Karena bisa jadi, di situlah satu-satunya tempat paling jujur antara seorang hamba dan Rabb-nya. Dan semoga suatu hari nanti, ketika kita mengangkat tangan untuk takbir, hati kita benar-benar berkata:
“Ya Allah… akhirnya aku kembali menghadap-Mu.”
Aamiin.
Salah satu serial dalam buku Embun Hikmah Bersama Alm Ustadz Untung S.Pd,“Wejangan Ringan, Penyejuk Hati dan Penguat Iman”,disusun oleh Riyawan S. Hut.
