Jember – Penghargaan itu datang seperti penanda di ujung jalan panjang pembenahan birokrasi. Di tengah tuntutan masyarakat atas layanan yang cepat dan mudah, Pemerintah Kabupaten Jember menuai pengakuan ketika Bupati Jember, Gus Fawait, dinobatkan sebagai Tokoh Daerah Peningkatan Layanan Publik oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur dalam rangkaian Hari Pers Nasional 2026 dan peringatan HUT ke-80 PWI Jatim. Apresiasi tersebut menjadi cermin bahwa ikhtiar mendekatkan negara kepada warga tidak berhenti pada slogan, tetapi mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Penghargaan itu diserahkan pada puncak acara di Dyandra Convention Center, Surabaya, Kamis (16/4/2026) malam. Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Jember diwakili Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Regar Jeane Dealen Nangka. PWI Jawa Timur menilai sejumlah langkah yang dijalankan Pemkab Jember telah memberi dampak langsung kepada masyarakat, terutama dalam mempermudah akses layanan dasar, mempercepat urusan administrasi, dan membuka ruang komunikasi yang lebih dekat antara pemerintah dengan warga.
“Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berinovasi dan menghadirkan pelayanan publik yang lebih cepat, mudah, dan merata,” ujar Gus Fawait.
Pernyataan itu menegaskan bahwa penghargaan tersebut tidak diposisikan sebagai garis akhir, melainkan pemicu untuk memperkuat pembenahan pelayanan. Dalam beberapa waktu terakhir, Pemkab Jember memang mendorong sejumlah terobosan yang diarahkan agar manfaatnya bisa dirasakan hingga lapisan masyarakat paling bawah. Pendekatan ini menjadi penting, sebab kualitas layanan publik sering kali menjadi ukuran paling nyata dari hadir atau tidaknya pemerintah di tengah kebutuhan warga.
Salah satu program yang banyak mendapat perhatian adalah Universal Health Coverage (UHC). Melalui skema ini, masyarakat Jember, terutama kalangan kurang mampu, memperoleh akses layanan kesehatan gratis di berbagai rumah sakit di Indonesia. Program tersebut dinilai membantu warga mengurangi beban biaya pengobatan sekaligus memperluas kesempatan memperoleh layanan medis yang layak. Dalam konteks daerah, kebijakan semacam ini bukan hanya soal administrasi kesehatan, tetapi juga soal rasa aman sosial bagi keluarga yang rentan.
Tak hanya pada sektor kesehatan, pembenahan juga diarahkan ke urusan administrasi kependudukan. Melalui program “Peta Cinta”, Pemkab Jember berupaya menghapus jarak layanan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Warga kini dapat mengurus hingga mencetak KTP di kantor kecamatan tanpa harus datang ke pusat kota. Langkah ini memperpendek rantai pelayanan, memangkas waktu, dan mengurangi biaya yang selama ini kerap menjadi hambatan bagi masyarakat di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan.
“Melalui Wadul Gus’e, kami ingin memperpendek jarak antara pemerintah dan masyarakat. Tidak hanya keluhan, ide-ide dari warga juga sangat kami harapkan,” kata Gus Fawait.
Kanal “Wadul Gus’e” menjadi inovasi lain yang menguatkan pola layanan partisipatif. Program ini membuka ruang agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga pengirim masukan, kritik, dan gagasan. Kehadiran jalur komunikasi langsung itu memperlihatkan upaya membangun pemerintahan yang lebih responsif, di mana keluhan warga dapat lebih cepat diketahui dan ditindaklanjuti. Dalam praktiknya, model seperti ini juga dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah daerah.
Di akhir penyampaiannya, Gus Fawait menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Jember, jajaran pemerintah daerah, dan seluruh pihak yang ikut berkontribusi dalam peningkatan layanan publik. Ia berharap apresiasi tersebut menjadi energi baru untuk terus membawa Jember ke arah yang lebih baik.
“Semoga penghargaan ini menjadi energi baru untuk terus membawa Jember ke arah yang lebih maju. Semua karena cinta, ojo lali moco sholawat,” pungkasnya.
Penghargaan dari PWI Jawa Timur itu pada akhirnya bukan hanya milik seorang kepala daerah, tetapi juga menjadi catatan atas kerja kolektif membangun pelayanan yang lebih manusiawi. Ketika akses kesehatan dibuka lebih lebar, dokumen kependudukan dipermudah, dan suara warga diberi saluran langsung, maka pelayanan publik tidak lagi terasa jauh. Dari Jember, pesan itu terdengar cukup jelas: inovasi akan selalu menemukan nilainya ketika manfaatnya benar-benar sampai kepada masyarakat.
