Malang – Ikan kerapu ibarat “harta karun laut” yang selama ini belum sepenuhnya digali. Di tengah melimpahnya sumber daya perairan Indonesia, komoditas ini kembali menjadi sorotan dalam forum kuliah tamu dan diskusi akademik bersama Yayasan Rekam Nusantara yang menekankan pentingnya langkah hilirisasi berkelanjutan.
Dalam forum tersebut, para akademisi dan praktisi menyoroti bahwa kerapu merupakan salah satu komoditas unggulan sektor perikanan nasional. Ketersediaannya tersebar luas di berbagai perairan Indonesia, namun pemanfaatannya hingga kini masih didominasi dalam bentuk bahan mentah tanpa pengolahan lanjutan yang optimal.
Data yang dipaparkan dalam diskusi menunjukkan bahwa kerapu memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian perikanan. Nilai ekspornya menyumbang sekitar 3–5 persen dari total ekspor ikan konsumsi bernilai tinggi Indonesia, dengan pasar utama di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Sementara itu, dari sisi produksi, kerapu berkontribusi sekitar 2–4 persen terhadap total produksi budidaya ikan laut nasional, menjadikannya komoditas strategis yang perlu didorong pengembangannya.
“Potensi sumber daya perairan Indonesia sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk untuk pengembangan bahan baku bernilai tinggi,” ujar Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Asep Awaludin Prihanto.
Ia menambahkan bahwa eksplorasi komoditas laut seperti kerapu tidak hanya penting untuk ketahanan pangan nasional, tetapi juga memiliki peluang besar dalam pengembangan industri farmasi berbasis sumber daya kelautan.

Suasana foto bersama kuliah tamu diskusi akademik bersama Yayasan Rekam Nusantara (dok. FPIK UB)Para narasumber dalam diskusi tersebut menekankan bahwa hilirisasi kerapu menjadi langkah kunci untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing. Dengan dukungan riset ilmiah dan teknologi, kerapu berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk inovatif seperti pangan fungsional, bahan baku nutraceutical, hingga sumber senyawa bioaktif untuk kebutuhan farmasi.
Pendekatan ini dinilai mampu mengubah paradigma pemanfaatan kerapu dari sekadar komoditas konsumsi menjadi bagian dari industri berbasis inovasi. Selain itu, hilirisasi juga membuka peluang ekonomi baru, termasuk pengembangan industri pengolahan, peningkatan lapangan kerja, serta penguatan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global.
Diskusi bersama Yayasan Rekam Nusantara ini sekaligus mempertegas pentingnya sinergi antara akademisi, industri, dan pemangku kebijakan dalam mendorong transformasi sektor perikanan. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan.
Langkah hilirisasi kerapu juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin tanpa kelaparan (SDG 2), industri dan inovasi (SDG 9), serta ekosistem laut (SDG 14). Dengan pengelolaan yang tepat, kerapu berpotensi menjadi motor penggerak kemandirian sektor perikanan nasional.
Ke depan, optimalisasi potensi kerapu diharapkan tidak lagi berhenti pada tahap produksi, melainkan berkembang hingga ke industri hilir yang inovatif dan berdaya saing. Dengan demikian, kekayaan laut Indonesia dapat memberikan manfaat maksimal bagi kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem.
