Bondowoso – Jalan berlubang dan rusak parah kini seolah menjadi “wajah baru” sejumlah ruas jalan di Kabupaten Bondowoso. Di berbagai titik, lubang besar menganga di badan jalan, memaksa pengendara melaju ekstra hati-hati setiap hari demi menghindari risiko kecelakaan.
Kerusakan jalan tersebut tidak hanya terjadi pada jalan desa, tetapi juga meluas hingga jalan tingkat kecamatan, kabupaten bahkan sebagian ruas jalan provinsi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat karena lubang yang dibiarkan tanpa perbaikan berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Pemerintah daerah sebelumnya menargetkan perbaikan infrastruktur jalan dimulai pada Februari 2026. Namun hingga awal Maret, sejumlah ruas jalan rusak di berbagai wilayah masih belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Kepala Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (BSBK) Bondowoso, Ansori, menjelaskan bahwa keterlambatan tersebut dipengaruhi perubahan status Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di instansinya. Perubahan dari pelaksana tugas menjadi pejabat definitif membuat sejumlah proses administratif harus diperbarui kembali dalam sistem pengadaan pemerintah.
“Perbaikan infrastruktur yang direncanakan pada Februari belum bisa terealisasi karena ada perubahan administratif. Dari PPK yang sebelumnya Plt kemudian menjadi definitif, sehingga beberapa akses seperti di sistem inaproc harus diperbarui kembali,” ujar Ansori saat dikonfirmasi, Kamis (5/3/2026).
Menurutnya, pembaruan akses pada sistem pengadaan tersebut memerlukan proses administrasi ulang yang tidak bisa diselesaikan secara cepat. Beberapa tahapan bahkan membutuhkan waktu hingga satu bulan untuk verifikasi dan aktivasi kembali.
“Meskipun ada yang bisa langsung diproses, ada juga yang membutuhkan waktu cukup lama, bahkan sampai satu bulan. Itu yang menjadi salah satu kendala,” katanya.
Di tengah lambannya proses administratif tersebut, sebagian masyarakat memilih mengambil langkah sendiri. Sejumlah warga melakukan perbaikan jalan secara swadaya dengan menambal lubang yang dianggap membahayakan pengendara.
Salah satu aksi tersebut dilakukan komunitas Makelar Akhirat yang memperbaiki ruas Jalan Cokroaminoto di Kelurahan Kademangan, Kecamatan Bondowoso. Perbaikan dilakukan dengan menutup lubang di beberapa titik jalan yang selama ini dikeluhkan warga.
Funder komunitas Makelar Akhirat, Yusdeny Lanasakti, mengatakan penambalan dilakukan di sepanjang ruas jalan yang diperkirakan mencapai sekitar 2,5 kilometer, mulai dari kawasan Pasar Sapi hingga menuju Rumah Sakit Mitra Medika.
“Sepanjang Jalan Cokroaminoto itu kita tembel semua yang berlubang. Prediksi saya sekitar 2,5 kilometer,” ujar Yusdeny.
Ia mengaku tergerak melakukan perbaikan setelah menyaksikan langsung kecelakaan yang menimpa seorang ibu bersama anaknya akibat kondisi jalan berlubang.
“Saya melihat sendiri ibu-ibu dengan anak kecil sekitar lima tahun terjatuh. Lukanya memang tidak fatal, tapi itu membahayakan,” katanya.
Menurutnya, kerusakan jalan bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
“Saya bukan bicara percaya atau tidak percaya. Bagi saya yang penting tindakan, karena ini sudah menyangkut keselamatan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menilai pemerintah perlu menyampaikan secara terbuka kepada masyarakat jika terdapat kendala dalam pelaksanaan perbaikan jalan, baik terkait kebijakan efisiensi anggaran maupun hambatan administratif.
“Kalau memang ada masalah, sampaikan ke rakyat. Jangan sampai rakyat merasa diabaikan. Transparansi itu penting,” katanya.
Sebelumnya, dalam kunjungan kerja bersama Komisi III DPRD Bondowoso, pemerintah daerah melalui Dinas BSBK diminta segera memulai perbaikan jalan sejak Februari 2026. Permintaan tersebut disampaikan Ketua Komisi III DPRD Bondowoso, Sutriyono.
Dalam APBD 2026, Pemerintah Kabupaten Bondowoso diketahui telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp50 miliar untuk program rekonstruksi, rehabilitasi, serta pemeliharaan rutin jalan dengan target penanganan sepanjang 25 kilometer.
Namun hingga saat ini, sejumlah ruas jalan yang rusak parah masih menjadi bagian dari perjalanan harian masyarakat. Sebagian warga akhirnya memilih tidak menunggu terlalu lama—dan memperbaiki jalan itu dengan cara mereka sendiri.
