Tanah yang diberkahi itu bernama Syam. Terletak di kawasan yang kini mencakup Suriah, Palestina, Yordania, Lebanon, sebagian Siprus, utara Arab Saudi, dan Sinai Mesir, negeri ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai Ardhul Mubarakah—tanah penuh berkah. Dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya ayat 71, Allah menyebutnya sebagai tempat yang dilimpahi kebaikan.
Lebih dari sekadar wilayah geografis, Syam memiliki makna spiritual yang mendalam. Di dalamnya terdapat pusat suci umat Islam: Baitul Maqdis atau Al-Quds. Wilayah ini disebut sebagai Ardhul Muqaddasah—tanah yang disucikan. Sebuah status yang tidak serta-merta dimiliki seluruh kawasan Syam, meski sama-sama diberkahi.
“Ardhul Mubarakah adalah tanah penuh keberkahan, sedangkan Ardhul Muqaddasah adalah bagian dari tanah itu yang benar-benar disucikan oleh Allah,” jelas Ustaz Nizar, seorang pengajar kajian tafsir di Jakarta.
Keistimewaan Syam bukan hanya soal tempat, tetapi juga penduduknya. Dalam hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, “Jika penduduk Syam telah rusak, maka tidak ada kebaikan pada kalian.” Kalimat ini menyiratkan bahwa Syam adalah barometer kondisi keimanan umat Islam secara global.
Jika penduduk Syam dalam kondisi kuat dan teguh menjaga agama, maka umat Islam di tempat lain pun cenderung kuat. Sebaliknya, jika mereka lemah, maka kehancuran umat menjadi pertanda yang sulit diabaikan.
Selama ribuan tahun, Syam menjadi pusat peradaban dan medan perjuangan. Ia menjadi saksi bisu kerasnya ujian dan manisnya kemenangan umat Islam. Perjuangan mempertahankan Baitul Maqdis, hingga kini, tetap menjadi simbol penting kesatuan dan kepedulian umat.
Saat umat Islam menjaga doa-doanya untuk Syam, mereka sejatinya menjaga kekuatan spiritual dirinya sendiri. Karena kondisi Syam akan selalu berbanding lurus dengan kondisi umat secara keseluruhan.
Semoga hati kita tak lelah mendoakan negeri Syam, tanah yang menjadi cerminan kondisi iman umat dan penjaga keberkahan bumi.
