Saksi bisu sejarah itu bukan hanya candi atau prasasti, tapi juga benda-benda sederhana yang kita lewati sehari-hari. Di Mojokerto, kejayaan Majapahit masih terasa melalui batu bata merah, ukiran relief, dan gemericik Sungai Brantas yang mengalir tenang.
Setiap elemen ini menyimpan kisah tentang peradaban besar. Mereka bukan sekadar artefak, tapi penutur cerita tentang masa ketika Mojokerto adalah pusat dari kerajaan terbesar di Nusantara.
Batu Bata Merah: Fondasi Peradaban
Majapahit terkenal dengan arsitektur bata merahnya yang khas. Tak seperti kerajaan sebelumnya yang membangun dengan batu andesit, Majapahit memilih bata merah sebagai material utama. Alasannya? Lebih ringan, lebih mudah dibentuk, dan bisa diproduksi massal.
Sisa-sisa bangunan di Trowulan seperti Candi Tikus, Candi Brahu, hingga Gerbang Bajangratu masih menunjukkan kekuatan bata merah yang telah bertahan lebih dari tujuh abad.
Bahkan lebih menakjubkan, bata merah Majapahit dibuat dengan ukuran dan kepadatan standar tinggi. Banyak peneliti modern mencatat bahwa bata era Majapahit lebih kuat daripada bata modern, berkat teknik pembakaran dan bahan alami yang digunakan.
“Bata Majapahit bukan hanya bahan bangunan, tapi simbol kerapian dan kecerdasan teknik arsitektur lokal,”
— Dr. Dwi Cahyono, Arkeolog Universitas Negeri Malang.
Relief dan Seni Ukir: Estetika yang Hidup
Jika Anda berjalan menyusuri area candi atau gerbang Majapahit, Anda akan menemukan ukiran-ukiran detail yang luar biasa. Relief ini tidak hanya memuat ornamen, tapi juga cerita: kisah Ramayana, Mahabharata, serta adegan kehidupan masyarakat kala itu.
Relief di Candi Wringinlawang dan Gapura Bajangratu menggambarkan nilai estetika yang tinggi, perpaduan antara seni Hindu-Buddha dan sentuhan lokal Jawa. Setiap detail diukir dengan teliti — membuktikan bahwa seniman Majapahit bukan hanya pengrajin, tapi juga pemikir budaya.
Seni ukir ini bukan sekadar hiasan, tapi juga sarana edukasi dan refleksi spiritual. Ia menjadi jembatan antara dunia material dan nilai-nilai moral masyarakat Majapahit.
Sungai Brantas: Nadi Kejayaan Ekonomi
Di balik kemegahan bangunan, terdapat aliran air yang menjadi penopang kehidupan: Sungai Brantas. Sungai ini menghubungkan wilayah pedalaman Mojokerto dengan pelabuhan di pesisir utara seperti Canggu dan Tuban.
Melalui Brantas, Majapahit mendistribusikan hasil bumi, rempah-rempah, dan kerajinan tangan ke wilayah lain. Sungai ini juga menjadi jalur diplomasi, pergerakan pasukan, dan komunikasi antar provinsi dalam sistem pemerintahan Majapahit.
Kini, Sungai Brantas mungkin tampak biasa. Tapi ia pernah menjadi jalur utama peradaban — semacam “jalan tol air” masa lalu yang menyatukan wilayah kekuasaan kerajaan.
“Brantas bukan hanya sungai, tapi nadi yang mengalirkan darah kehidupan Majapahit,”
— Prof. Titi Surti Nastiti, Peneliti senior arkeologi.
Situs yang Masih Bertahan di Mojokerto
Sampai hari ini, berbagai saksi kejayaan itu masih dapat dilihat di Mojokerto:
- Candi Tikus dengan saluran air bawah tanahnya.
- Kolam Segaran sebagai tempat perjamuan bangsawan.
- Museum Majapahit Trowulan yang menyimpan lebih dari 30.000 artefak.
- Relief Sudut Kota yang kini menghiasi gerbang dan taman kota modern.
Ini bukan sekadar benda kuno. Setiap batu dan sungai di Mojokerto adalah warisan yang harus dijaga — bukan hanya sebagai objek wisata, tapi sumber inspirasi.
Menjaga Warisan Lewat Pendidikan dan Komunitas
Pemerintah Kota Mojokerto bekerja sama dengan komunitas sejarah, sekolah, dan budayawan untuk merawat warisan ini. Festival budaya, kurikulum sejarah lokal, dan pelatihan pemandu wisata dilakukan agar generasi muda tidak tercerabut dari akarnya.
Bahkan, motif bata Majapahit kini muncul dalam desain batik, mural, dan branding kota. Inilah bentuk adaptasi warisan menjadi identitas kekinian.
Relief, batu bata, dan Sungai Brantas mungkin terlihat sederhana. Namun di balik itu, mereka menyimpan denyut sejarah yang membentuk peradaban besar. Mojokerto hari ini adalah penjaga semua itu — kota yang tidak sekadar berdiri di atas tanah, tapi di atas fondasi sejarah yang dalam.
Dari setiap ukiran dan arus sungai, kita diingatkan bahwa Majapahit bukan sekadar cerita masa lalu. Ia masih hidup — di Mojokerto, dan di hati bangsa Indonesia.:
