Mojokerto – Suasana tidak biasa terjadi di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Mojokerto, Rabu (22/10/2025). Sejumlah SPBU di Kota maupun Kabupaten Mojokerto tampak sepi dan tidak melayani pengisian bahan bakar, dengan alasan yang sama: sistem sedang “trouble”. Fenomena ini menimbulkan keresahan di tengah masyarakat yang menggantungkan aktivitasnya pada ketersediaan bahan bakar.
Dari pantauan lapangan, kondisi serupa terjadi di SPBU wilayah Mojoanyar, Bangsal, Dlanggu, hingga Pacet. Beberapa area pengisian ditutup, sementara papan pengumuman bertuliskan “Sementara Tidak Melayani, Sedang Perbaikan Sistem” terpampang di sejumlah titik.
Banyak warga mengaku bingung dan kecewa, karena seluruh SPBU memberi penjelasan seragam tanpa kejelasan waktu perbaikan. “Masak iya semua SPBU bisa trouble bareng? Kalau satu dua wajar, tapi ini hampir semua. Terus kami isi di mana?” keluh Rudi, pengendara ojek online yang terpaksa berhenti bekerja karena kehabisan bensin.
Kondisi ini membuat sebagian warga menduga adanya gangguan distribusi bahan bakar atau kebijakan internal yang belum diumumkan secara resmi. Ketidakhadiran informasi publik yang jelas dari pihak Pertamina maupun pemerintah daerah memperkuat spekulasi di masyarakat.
Di SPBU Dlanggu, petugas hanya mengatakan sedang menunggu instruksi dari pusat. Sementara di SPBU Bangsal, petugas menyebut adanya “perbaikan sistem” tanpa penjelasan lebih lanjut. Beberapa warga bahkan mengaku sudah berkeliling hingga belasan kilometer hanya untuk menemukan kondisi serupa di seluruh SPBU yang mereka datangi.
“Kalau memang ada gangguan sistem, seharusnya disampaikan secara terbuka dan serentak lewat media resmi. Jangan masyarakat disuruh nebak-nebak begini,” kata Yuni, warga Pacet yang kecewa setelah gagal mengisi bahan bakar.
Fenomena ini mengingatkan pada kejadian serupa di beberapa daerah lain, di mana SPBU serentak tutup menjelang penyesuaian harga BBM. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pertamina atau instansi terkait untuk menjelaskan penyebab pasti berhentinya operasional SPBU di Mojokerto.
Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, gangguan seperti ini menambah beban masyarakat. Para pekerja transportasi, pedagang, dan warga pedesaan merasa dirugikan karena tidak ada pemberitahuan atau alternatif yang disiapkan.
“Kalau memang ada kebijakan baru atau masalah teknis, seharusnya pemerintah daerah dan Pertamina segera buka suara. Jangan diam saja seolah-olah tidak ada apa-apa,” tambah Rudi dengan nada kesal.
Masyarakat berharap kejelasan segera diberikan agar kepanikan tidak meluas. Sebab bagi warga Mojokerto, bensin bukan hanya bahan bakar, tetapi urat nadi ekonomi yang menggerakkan aktivitas harian dan kehidupan mereka.
