Jejak panjang kolonial menjadi babak awal industri tambang batu bara di Kutai Timur. Sejak 1845, wilayah ini sudah menjadi perhatian bangsa asing karena potensi sumber daya alamnya. Kini, dari eksplorasi kecil di tepi Sungai Mahakam hingga penambangan raksasa oleh KPC, Kutai Timur telah menjelma sebagai pusat energi nasional.
Pada awalnya, tambang batubara ditemukan oleh pedagang Inggris yang beroperasi di bawah G.P. King sekitar tahun 1845. Kemudian, Belanda mengembangkan wilayah ini secara lebih serius melalui perusahaan Oranje Nassau, yang beroperasi sejak 1849. Meski sempat terhenti pada 1872, geliat pertambangan kembali hidup ketika Oost Borneo Maatschappij (OBM) memulai operasi besar di tahun 1888.
Puncaknya terjadi pada tahun 1926. Aktivitas tambang kala itu mendorong pertumbuhan ekonomi dan demografi Kutai secara drastis. Namun, semua itu hanyalah permulaan bagi masa depan industri batu bara yang lebih modern.
“Transformasi tambang batu bara Kutai Timur tak hanya soal produksi, tapi tentang membentuk ulang wajah ekonomi daerah,” ujar seorang peneliti energi dari Universitas Indonesia.
Memasuki era modern, tongkat estafet industri dipegang oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC). Dimulai dari tender eksplorasi 1978 hingga pembentukan konsorsium antara BP, Rio Tinto, dan pemerintah Indonesia, KPC mulai beroperasi resmi pada Juni 1990. Dalam tahun perdananya, KPC berhasil mengekspor lebih dari 2,1 juta ton batu bara.
Produksi terus melonjak dari 7 juta ton pada 1992 hingga hampir 57 juta ton di tahun 2018. Selain menjadi eksportir batu bara terbesar di Indonesia, KPC juga membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 3×18 MW pada 2017. Sebagian daya dari PLTU ini bahkan dialokasikan untuk masyarakat Kutai Timur, memperkuat kontribusi sosial perusahaan.
Kisah pertambangan Kutai Timur tidak berhenti pada produksi dan ekspor. Ia juga tentang perubahan struktur sosial masyarakat lokal, perkembangan infrastruktur, serta upaya membangun sinergi antara industri dan lingkungan.
Dengan rekam jejak panjang dan kontribusi nyata terhadap pembangunan, Kutai Timur kini berdiri bukan hanya sebagai lumbung energi, tetapi juga sebagai simbol evolusi industri yang dinamis dan inklusif.
