Listrik dan air bukan sekadar fasilitas, tapi jantung kehidupan desa. Di Kutai Timur, dua hal itu kini menjadi bukti nyata bagaimana inovasi dan kolaborasi mampu mengubah wajah pedalaman. Dari aliran listrik PLN hingga sumur bor TNI, warga desa yang dulu hidup dalam keterbatasan kini perlahan menikmati kenyamanan baru.
Hingga Juni 2024, tercatat 113 desa di Kutai Timur sudah teraliri listrik PLN. Artinya, sekitar 80 % wilayah desa kini menikmati energi dari jaringan utama. Sisanya, sekitar 28 desa, masih mengandalkan sumber energi alternatif seperti PLTMH dan PLTS terpusat. Rasio elektrifikasi ini menjadi capaian penting, mengingat luasnya geografis dan tantangan akses daerah tersebut.
Salah satu kisah menarik datang dari Desa Tepian Terap. Warga membangun pembangkit mikrohidro sederhana menggunakan karung pasir, paralon, dan turbin mini. Langkah ini memungkinkan mereka menikmati listrik tanpa harus menunggu giliran proyek besar.
“Dulu kami sering ketakutan kalau token listrik menipis. Sekarang, turbin kecil ini bantu kami hidup tenang,” ungkap Joko, salah satu warga setempat. Ia menambahkan, listrik lokal itu cukup untuk menyalakan lampu, kipas, dan alat pengisian ponsel.
Selain listrik, air bersih juga menjadi perhatian utama. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui PDAM dan Instalasi Pengolahan Air (IPA) terus memperluas jangkauan. Di Kecamatan Kaubun misalnya, cakupan air bersih sudah mencapai 80 %. Namun, secara umum, layanan PDAM baru menyentuh 51 % wilayah per Agustus 2023.
Tak berhenti di situ, TNI juga ikut berperan lewat program TNI Manunggal Air Bersih. Di Desa Suka Rahmat, lima titik sumur bor telah dibangun, membawa harapan baru terutama di musim kemarau.
Sementara itu, daerah pesisir seperti Kenyamukan (Sangatta Utara) masih menghadapi tantangan air laut pasang surut. Untuk itu, pembangunan jaringan pipa dan perbaikan dermaga menjadi prioritas DPRD demi menjawab kebutuhan warga.
Meski belum sempurna, sinergi antara pemerintah, TNI, dan inisiatif warga telah mendorong Kutai Timur menjadi contoh inspiratif pembangunan infrastruktur di daerah terpencil. Energi dan air, dua kebutuhan mendasar, kini mulai menyatu dalam kehidupan desa-desa yang dahulu terpinggirkan.
