Kebersamaan menumbuk beras ketan di Desa Persiapan Tepian Budaya menjadi momen sakral yang menyatukan masyarakat. Tradisi ini dikenal sebagai Mecaq Undat—sebuah ritual panen yang menggambarkan syukur, gotong-royong, dan penghormatan terhadap alam serta leluhur.
Masyarakat Kecamatan Bengalon menghidupkan kembali budaya ini dengan menumbuk beras ketan bersama-sama di lesung sepanjang 15 meter. Aktivitas ini tidak hanya menjadi simbol panen berhasil, tetapi juga mencerminkan semangat kolektif dan solidaritas lintas generasi.
Tradisi ini semakin semarak dengan hadirnya tarian adat Dayak seperti Kanjet Lasan, sebagai bentuk penyucian tempat, dan Ajei, yang membawa pesan ketenteraman dan keharmonisan lingkungan. Kehadiran unsur budaya ini menambah kedalaman makna dalam pesta panen yang dirayakan secara meriah oleh seluruh elemen masyarakat.
Makna yang terkandung dalam Mecaq Undat sangat dalam. Ia tidak hanya merayakan hasil bumi, tetapi juga menjadi sarana menjaga jati diri masyarakat Dayak Kutai Timur. Kegiatan ini menjadi ruang untuk mempererat hubungan sosial dan mempertahankan warisan budaya di tengah arus modernisasi.
Di tempat lain, semangat serupa juga ditemukan dalam Lom Plai, sebuah pesta panen milik Suku Dayak Wehea di wilayah Muara Wahau. Tradisi ini melibatkan berbagai ritual adat seperti penyucian kampung, perang-perangan di sungai, dan penampilan tarian sakral Hudoq. Tarian ini diyakini memanggil roh padi agar keberkahan dan kesuburan terus menyertai masyarakat.
Selain itu, drama tari Long Diang Yung mengisahkan legenda pengorbanan demi kemakmuran pertanian. Seluruh rangkaian acara Lom Plai menjadi manifestasi hubungan spiritual antara manusia, alam, dan hasil bumi.
Meski sempat tidak masuk agenda nasional Kharisma Event Nusantara, Lom Plai tetap diselenggarakan dengan antusias. Dukungan komunitas dan tokoh adat menjadikan acara ini sebagai bentuk perlawanan terhadap kepunahan budaya, sekaligus peluang wisata yang memperkuat perekonomian lokal.
Tradisi seperti Mecaq Undat dan Lom Plai menunjukkan bahwa pesta panen bukan sekadar kegiatan tahunan, tetapi merupakan akar dari nilai kehidupan masyarakat. Keduanya menghadirkan harmoni antara manusia dan alam, serta menjadi pilar kuat pelestarian budaya di Kutai Timur.
