Bogor — Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI). Buya Amirsyah Tambunan mengajak masyarakat khususnya umat Islam untuk mensyukuri bangsa dan negara Indonesia. Menurutnya ungkapan rasa syukur tersebut bisa teraplikasikan dalam beberapa hal.
Buya Amirsyah mengatakan, sebagai ungkapan dari rasa syukur, umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia harus bersatu untuk membuktikan kesyukuran itu. Bersatu untuk membuktikan bahwa negara yang kaya raya dan penuh dengan nikmat Allah ini harus kita satukan menjadi satu kekuatan.
“Sikap umat Islam harus bersatu, umat Islam sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW yang saya sebut Muhammadiyah yaitu mengikuti jejak langkah perjuangan Nabi Muhammad mempersatukan kaum muhajirin dan anshar. Tentu harus memiliki dasar yang kuat, yaitu dengan kekuatan iman. “Kata Buya Amirsyah kepada Republika usai Tabligh Akbar bertema “Semangat Umat Merawat Bangsa” yang tergelar Republika bersama Majelis Az-Zikra di Masjid Az-Zikra. Sentul, Bogor pada Selasa (31/5/2022) malam.
Buya Amirsyah mengatakan, jadi cara bersyukur selanjutnya dengan menguatkan iman, sebagaimana pesan Pancasila yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Kekuatan iman sangat penting untuk terus kita tingkatkan sebagai bukti tanda syukur ini.
Ia mengingatkan, sebagai umat yang bersyukur, harus menjadi umat yang kompak merawat keragaman suku, agama, dan etnis. Maka bangsa Indonesia harus kompak membangun kebersamaan, itu juga bagian dari bersyukur.
“Rasa syukur terhadap Indonesia juga bisa terungkapkan dengan rasa terimakasih kepada para ulama yang sudah bersusah payah merebut kemerdekaan, dan harus terisi kembali kemerdekaan ini. Karena untuk meraih kemerdekaan ini sudah mengorbankan segala jiwa raga dan tumpah darah ini,” jelas Buya Amirsyah.
Maka, Sekjen MUI ini menegaskan, para ulama harus kita jadikan teladan oleh bangsa Indonesia. Supaya anak cucu bangsa ini bisa mewarisi negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
“Sebagai bukti kesyukuran, para ulama harus kita jadikan contoh teladan oleh generasi kemudian. Mengetahui sejarah perjuangan ulama itu bukti kesyukuran kita,” ujar Buya Amirsyah.
Menurutnya, kalau tidak mengakui sejarah perjuangan ulama, itu sikap tidak bersyukur. Maka ulama jangan sampai dilupakan atau ditinggalkan. Ulama-ulama yang menjadi pahlawan itu contohnya KH Hasyim Asy’ari dari Nahdlatul Ulama. KH Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah, Imam Bonjol dari Sumatera, Pangeran Diponegoro dari Jawa Tengah, dan lain sebagainya.
“Semua tokoh ulama ini rela mengorbankan jiwa raga sebagai bukti kesyukurannya. Maka bangsa Indonesia sekarang harus merawat negeri ini sebagai bukti kesyukuran kita,” kata Buya Amirsyah.
