Tenggarong – Dalam semangat menyiapkan generasi emas Kalimantan Timur, SMAN 1 Loa Kulu menjadi pionir dengan membuka kelas bilingual pertama di tahun ajaran 2025/2026. Program ini merupakan bagian dari inisiatif Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim untuk menciptakan sekolah unggulan dan mendorong kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal menghadapi tantangan global dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kepala SMAN 1 Loa Kulu, Dr. Yessi Herlina, menyebut program ini bukan hanya mengasah keterampilan bahasa Inggris, tetapi juga menyiapkan lulusan berkarakter dan kompetitif di level nasional maupun internasional.
“Tidak hanya mengasah kemampuan berbahasa Inggris, kami juga menyiapkan lulusan yang mampu bersaing secara nasional dan internasional,” ujarnya, Sabtu (26/7/2025).
Pada tahap awal, satu kelas telah ditetapkan sebagai pilot project. Program ini dirancang berkembang secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan, dengan pembelajaran bilingual diterapkan dalam aktivitas kelas, proyek, dan presentasi siswa.
Plt. Kepala Disdikbud Kaltim, Armin, menegaskan bahwa pendekatan bilingual tidak hanya menambah mata pelajaran, tetapi menciptakan ruang belajar yang inovatif dan global.
“Anak-anak Kaltim harus mampu tampil di level global. Kami bekali mereka dari sekarang dengan sistem, guru, dan kurikulum yang mendukung,” jelasnya pada Jumat (25/7/2025).
Sebagai dasar hukum, program ini diatur melalui Pergub Kaltim Nomor 26 Tahun 2025. Selain SMAN 1 Loa Kulu, tiga sekolah lain dijadikan role model awal, yakni SMAN 10 Samarinda, SMAN 3 Tenggarong, dan SMAN 2 Sangatta Utara.
Lebih dari 50 sekolah lainnya di Kaltim telah mendaftar untuk mengikuti jejak tersebut. Beberapa sekolah bahkan telah menunjukkan performa luar biasa dalam lomba bahasa Inggris tingkat provinsi.
Untuk menjaga kualitas, Disdikbud akan menerapkan uji standar global seperti TOEFL, IELTS, TOEIC, dan SAT. Hasil tes ini akan menjadi acuan untuk mengembangkan potensi siswa dan mendukung mereka menuju perguruan tinggi ternama.
Armin menegaskan, Kalimantan Timur harus mengambil peran aktif dalam pembangunan IKN.
“Kita tidak boleh hanya menyaksikan. Anak-anak Kaltim harus jadi tuan rumah di negeri sendiri,” tegasnya.
Ia berharap, dengan adanya program ini, orang tua tak lagi harus mengirim anak ke sekolah swasta mahal atau luar daerah. Sekolah negeri Kaltim kini disiapkan agar punya daya saing setara.
“Kalau kita konsisten, lima tahun ke depan Kaltim bisa jadi lumbung SDM terbaik di Indonesia,” tutup Armin.
