Kuliner legendaris ini tak hanya sekadar jajanan sore. Pisang Gapit adalah rasa yang melekat erat dalam memori warga Kalimantan Timur, termasuk Kutai Timur. Sajian manis-gurih ini hadir dalam banyak momen—dari acara keluarga, pasar Ramadan, hingga festival budaya.
Terbuat dari pisang kepok matang yang dibakar dan dijepit, makanan ini lalu disiram kuah kental berbahan gula merah, santan, dan pandan. Saat disajikan hangat, aromanya menggoda dan rasanya seolah memeluk hangat kenangan masa kecil. Teknik “gapit”—dalam bahasa daerah berarti menjepit—dilakukan menggunakan alat penjepit kayu atau besi hingga bagian luar pisang agak gosong karamel, namun bagian dalam tetap manis lembut.
“Yang bikin kangen itu kuahnya, legit tapi gurih, dan pisangnya nggak lembek,” kata Linda, warga Sangatta yang selalu mencari Pisang Gapit tiap sore. Ia menambahkan, sensasi aroma asap dari pembakaran turut menambah kenikmatan.
Di Kutai Timur, ada beberapa lokasi yang terkenal menyajikan Pisang Gapit enak, seperti Warung Tepian Sangatta, Kantin Lestari Pasar Induk, dan UMKM Pisang Gapit Kenyamukan. Tidak sedikit pula yang menambahkan topping modern seperti keju, meses, bahkan es krim—tanpa mengubah rasa tradisionalnya.
Kuliner ini bukan hanya warisan rasa, tapi juga telah menjadi ikon promosi wisata daerah. Dalam acara seperti Festival Mahakam dan Gema Budaya Kutim, Pisang Gapit kerap disuguhkan kepada tamu kehormatan sebagai simbol keramahan lokal. Bahkan, chef muda mulai berinovasi menjadikan Pisang Gapit sebagai dessert fusion dengan plating modern.
Simbol kuliner ini mengajarkan kita bahwa makanan bukan hanya tentang rasa, tapi juga perasaan dan tradisi. Pisang Gapit adalah pengingat bahwa hal-hal kecil dalam hidup, jika dibuat dengan cinta dan konsistensi, bisa bertahan lintas zaman.
