Kediri – “Asal cukup untuk pegangan, saya tetap jalani.” Kalimat sederhana ini mencerminkan keteguhan hati Margiono, pria 67 tahun asal Kelurahan Banaran, Kota Kediri, yang tetap setia menekuni profesi pandai besi di tengah gelombang modernisasi zaman.
Warisan keahlian membuat alat pertanian seperti arit dan cangkul ini telah dijalani Margiono sejak 1988, meneruskan usaha turun-temurun dari kakeknya yang telah dirintis sejak era kolonial Belanda. Kini, di usia senjanya, ia masih rutin memanaskan bara api dan memalu besi bersama putranya Jaenuri (28) dan seorang pekerja di bengkel kecil miliknya.
Memasuki musim giling tebu, Margiono mengaku mendapat sedikit angin segar dari meningkatnya permintaan, terutama untuk arit yang banyak digunakan dalam aktivitas tebang tebu.
“Alhamdulillah musim giling seperti ini bisa mendapat pesanan hingga sepuluh setiap minggu untuk arit. Kalau cangkul sebulan sekitar lima. Kalau tidak musim giling ya kadang kita nganggur,” ujar Margiono saat ditemui Rabu (28/5/2025).
Harga satu arit produksinya dijual Rp130.000 dan cangkul Rp180.000. Pesanan tak hanya datang dari warga Kediri, tetapi juga dari perantau asal Kediri yang tinggal di Kalimantan dan Sumatera, yang kerap mampir langsung ke bengkelnya saat mudik.
Namun, mempertahankan usaha ini tidaklah mudah. Margiono kerap menghadapi kesulitan dalam mencari bahan baku yang sesuai, seperti plat besi bekas dan arang untuk pembakaran.
“Bahannya ambil dari Surabaya lebih murah dan ukuran cocok. Kalau arang ambil dari Nganjuk, itu pun kalau sedang ada panen kayu,” keluhnya.
Kemampuan Margiono dalam membuat alat pertanian ia pelajari sejak 1975 dari sang ayah, Panijan. Namun baru mulai menekuni sepenuhnya sejak wafatnya ayahnya pada 1988. Dari empat bersaudara, hanya Margiono dan satu adiknya yang masih bertahan di dunia pandai besi, meskipun sang adik juga terkadang bekerja serabutan saat pesanan sepi.
“Sejak kecil saya tidak punya keahlian lain. Jadi saya tetap jalani ini saja, dibantu anak kelima. Yang lain kerja di luar,” ujarnya.
Meski tak berlimpah, penghasilan dari usaha ini cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Margiono mengaku lebih memilih tetap berkarya daripada hanya berdiam diri di usia senja.
“Wong saya sudah tua, asal ada uang untuk pegangan. Kalau nggak ada kerjaan, ya main-main saja ke warung,” tuturnya santai.
