Bangkok – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Myanmar pada Jumat siang tidak hanya mengguncang wilayah sekitar pusat episentrum, tetapi juga mengejutkan warga Bangkok, ibu kota Thailand yang berjarak ratusan kilometer dari pusat gempa. Pertanyaannya kini, mengapa getarannya bisa terasa sejauh itu?
Gempa tersebut terjadi sekitar pukul 12.50 siang waktu setempat, dengan kedalaman hanya 10 kilometer. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyatakan pusat gempa berada dekat Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar, sekitar 50 kilometer dari Monywa. Gempa ini berasal dari aktivitas Sesar Besar Sagaing yang dikenal aktif dan berpotensi menghasilkan gempa besar dengan mekanisme geser mendatar (strike-slip).
Kedangkalan gempa memainkan peran utama dalam meluasnya dampak. Energi dari gempa dangkal tidak banyak terserap oleh kerak bumi sehingga guncangannya bisa menjalar lebih jauh ke permukaan. Namun, satu fenomena ilmiah menarik juga ikut memperbesar efeknya: direktivitas.
BMKG menjelaskan bahwa efek direktivitas terjadi ketika energi gempa tersebar kuat ke satu arah tertentu, seperti sinar senter yang diarahkan lurus ke depan. Dalam kasus ini, gelombang gempa mengarah ke tenggara, mencapai Thailand, termasuk Bangkok. Fenomena ini pula yang membuat gempa Mexico City tahun 1985 terasa jauh lebih dahsyat meskipun pusat gempa berada jauh dari kota tersebut.
Tak hanya itu, karakteristik geologi Bangkok turut memperparah situasi. Kota ini dibangun di atas tanah lunak dan lapisan sedimen tebal, yang memicu resonansi atau vibrasi periode panjang. Getaran gelombang gempa dipantulkan dan diperkuat oleh struktur tanah, menyebabkan bangunan tinggi dan gedung pencakar langit bergoyang hebat.
Kondisi ini memperjelas mengapa air kolam renang tumpah dari rooftop, dinding apartemen retak, dan warga berhamburan ke jalan-jalan saat gempa mengguncang. Bahkan, satu gedung pemerintah yang sedang dibangun di dekat Taman Chatuchak runtuh, memicu operasi penyelamatan besar-besaran.
Secara historis, wilayah sepanjang Sesar Sagaing sudah beberapa kali diguncang gempa besar. Antara tahun 1930 hingga 1956 saja, tercatat enam kali gempa dengan magnitudo lebih dari 7,0. Hal ini menjadikan wilayah Myanmar sebagai salah satu kawasan paling aktif secara tektonik di Asia Tenggara.
Gempa kali ini menunjukkan bagaimana dinamika tektonik lintas negara bisa menimbulkan dampak multidimensi, terutama jika dikombinasikan dengan kondisi geologi lokal yang rentan. Para ilmuwan pun kembali mengingatkan pentingnya kesadaran risiko seismik di kota-kota besar yang tampaknya aman, namun ternyata menyimpan potensi bahaya tersembunyi.
