Mojokerto – Menjelang Ramadan, Kompleks Makam Troloyo di Mojokerto semakin ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka datang untuk berdoa, mencari berkah, dan bahkan menginap hingga akhir bulan puasa. Tradisi ini telah berlangsung lama, menjadikan Troloyo sebagai salah satu tujuan ziarah utama bagi umat Islam di Nusantara.
Salah satu peziarah, Ahmad Ali, laki-laki asal Sampang, Madura, mengaku sengaja datang jauh-jauh untuk bermalam di makam ini hingga akhir Ramadan.
“Jauh-jauh untuk mencari berkah,” ujarnya saat ditemui di kompleks makam pada Kamis (6/3/2025).
Peziarah lain, Makki, pria asal Demak, juga merasa bersyukur bisa menghabiskan bulan puasa di Makam Troloyo. Menurutnya, tempat ini memiliki aura spiritual yang kuat, sehingga dirinya lebih khusyuk dalam beribadah selama Ramadan.
Makam Troloyo dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir Syekh Jumadil Kubro, seorang ulama besar yang berperan dalam penyebaran Islam di Nusantara. Ia juga dikenal sebagai kakek para Walisongo. Kompleks makam ini telah lama menjadi tujuan utama bagi umat Islam yang ingin menelusuri jejak sejarah penyebaran agama Islam di tanah Jawa.
Keberadaan Makam Troloyo sudah terdokumentasi sejak abad ke-19. William Barrington d’Almeida dalam bukunya Life In Java (1864) menyebut kompleks ini dengan nama “Kooboran Plataharan”. Ia menggambarkan makam ini memiliki empat kompleks besar dan dua kompleks kecil yang dikelilingi tembok bata khas Majapahit. Sejak zaman Majapahit, Troloyo memang menjadi pemakaman khusus bagi umat Islam yang memiliki hubungan dengan kerajaan.
Hingga kini, tercatat ada 19 tokoh di Komplek Troloyo, termasuk Syekh Al Chusen, Imamudin Sofari, Tumenggung Satim Singomoyo, Patas Angin, Nyai Roro Kepyur, Sunan Ngudung, Raden Kumdowo, dan Syekh Jaelani. Namun, makam Syekh Jumadil Kubro tetap menjadi yang paling banyak dikunjungi sejak abad ke-19 hingga sekarang.
Syekh Jumadil Kubro, atau Jamaluddin Hussein Al Akbar, berasal dari Nasrabad, India, dan memiliki garis keturunan hingga Nabi Muhammad SAW. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Deccan sebelum memilih untuk berdakwah ke berbagai wilayah, termasuk Maroko, Uzbekistan, Malaysia, hingga akhirnya tiba di Jawa pada era Majapahit. Ia menetap di Trowulan dan wafat sekitar tahun 1376 Masehi.
Hingga kini, Makam Troloyo tetap menjadi pusat spiritual yang dipercayai membawa berkah. Banyak peziarah yang meyakini doa mereka lebih cepat terkabul saat berziarah ke makam ini.
Dengan sejarah panjangnya, Makam Troloyo menjadi saksi bagaimana Islam dan budaya Majapahit dapat berdampingan, menjadikannya salah satu situs penting dalam perjalanan Islam di Indonesia.
