Sangatta – Di tengah perkembangan zaman dan modernisasi, keinginan untuk melestarikan budaya tradisional masih kuat mengakar dalam kehidupan masyarakat Dayak Wehea. Salah satu wujud nyata dari pelestarian budaya ini adalah Festival Lom Plai, sebuah perayaan tahunan yang tidak hanya menjadi simbol syukur atas hasil panen padi tetapi juga menegaskan hubungan erat antara masyarakat Dayak Wehea dan lingkungan mereka.
Budaya dan Lingkungan: Dua Aspek yang Tidak Terpisahkan
Anggota DPRD Kutai Timur, Siang Geah, merupakan sosok yang sangat berkomitmen terhadap pelestarian budaya Dayak Wehea. Menurutnya, kekhawatiran akan tergerusnya budaya tidak perlu ada, karena sejak kecil, generasi muda sudah dibekali dengan pengetahuan dan praktik budaya Dayak yang kuat. “Saya tidak khawatir, sejak lahir kami sudah diajarkan dengan budaya Dayak,” ujar Siang Geah.
Festival Lom Plai, yang diadakan di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, adalah salah satu cara masyarakat Dayak Wehea untuk memperkuat dan merayakan budaya mereka. Masyarakat Dayak Wehea, yang termasuk dalam rumpun Apo Kayan dari suku Dayak, telah lama mengadakan festival ini sebagai bentuk syukur atas hasil panen padi mereka. Festival ini tidak hanya menyimpan nilai budaya yang mendalam, tetapi juga merupakan wujud interaksi harmonis antara manusia dan alam.
Latar Belakang Festival Lom Plai
Festival Lom Plai berasal dari legenda pengorbanan Putri Long Diang Yung yang diyakini dapat menyelamatkan masyarakat Dayak Wehea dari bencana kekeringan dan kelaparan. Dalam cerita tersebut, untuk mengakhiri penderitaan komunitas yang tengah dilanda kelaparan, sang putri dikorbankan atas permintaan entitas Tuhan YME. Sebagai imbalannya, masyarakat bersumpah untuk merawat padi dengan baik dan mengadakan festival sebagai bentuk syukur.
Peringatan festival Lom Plai diadakan setiap tahun antara bulan April dan Mei, berfungsi tidak hanya sebagai ungkapan syukur tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan dengan alam. “Tradisi Lom Plai terus diadakan setiap tahunnya dan bahkan akan terus diadakan sampai anak cucu kami nanti kelak, ketika hasil panen sedang baik ataupun tidak. Jika tidak, maka kami akan melanggar sumpah dan akan celaka ataupun mengalami kemalangan,” ujar Ledjie Taq, salah satu tetua adat Dayak Wehea.
Enjiak Tembambataq: Tarian Malam yang Meriah
Salah satu highlight dari Festival Lom Plai adalah Enjiak Tembambataq, tarian tradisional yang diadakan pada malam hari sebelum acara puncak. Politisi PDIP Siang Geah menjelaskan bahwa tarian ini dapat diikuti oleh seluruh warga desa dan tamu yang hadir. “Dengan alunan gong dan gendang tradisional, seluruh warga, baik tua, muda, laki-laki, dan perempuan, berkumpul bersama dengan pakaian adat lengkap dan kemudian menari dari malam hingga pagi,” katanya.
Tarian ini merupakan penutup dari acara Embob Jengea, dan memberikan kesempatan bagi semua orang untuk berpartisipasi dan merayakan hasil panen bersama. Ini juga memperkuat rasa persatuan dan kebersamaan dalam komunitas.
Pesan Pelestarian Lingkungan
Festival Lom Plai bukan hanya tentang merayakan hasil panen, tetapi juga merupakan bentuk komitmen masyarakat Dayak Wehea terhadap pelestarian lingkungan. Masyarakat Dayak Wehea mengajarkan kepada generasi muda mereka pentingnya menjaga alam, karena mereka sangat bergantung pada sumber daya alam untuk kehidupan sehari-hari mereka. “Adanya festival Lom Plai ini menggambarkan makna yang sangat mendalam tentang bagaimana interaksi orang Dayak Wehea terhadap lingkungan di sekitarnya,” kata Siang Geah.
Pesan yang disampaikan melalui festival ini adalah pentingnya memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana dan menjaga keseimbangan ekologis. Masyarakat Dayak Wehea memperlihatkan bahwa mereka menghargai dan bergantung pada alam dengan memanfaatkan sumber daya secara berkelanjutan dan menjaga agar tidak terjadi kerusakan.
Festival Lom Plai di Muara Wahau adalah cermin dari kekuatan dan ketahanan budaya masyarakat Dayak Wehea dalam menghadapi tantangan modernisasi. Melalui perayaan ini, mereka tidak hanya merayakan hasil panen tetapi juga mengingatkan diri mereka tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam. Dengan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajarkan dan memperkuat nilai-nilai budaya serta lingkungan kepada generasi mendatang, masyarakat Dayak Wehea menunjukkan bagaimana tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan, menjaga warisan budaya sambil memelihara lingkungan untuk masa depan yang lebih baik.
